Bahasa Menciptakan Bangsa: Indonesia

Posted: 4 Januari 2012 in Sosial-Budaya
Tag:, , , , ,

Ketika membaca berita tentang adanya kebijakan nilai TOEFL 600 bagi pegawai Kementerian Perdagangan (Kemdag), saya langsung teringat percakapan ringan dengan kawan dari Guatemala. Percakapan yang sangat penting dan bersumbu sangat dalam bagi saya sebagai anak Indonesia. Sangat emosional dan sentimentil sekali. Percakapan tentang sejarah kolonialisme di negara masing-masing dikaitkan dengan penggunaan bahasa nasional.

Pertanyaan kawan tersebut tak hadir tanpa alasan. Ia heran mengapa ketika bercakap-cakap dengan kawan dari Indonesia, bahasa kami “aneh”. “Aneh” karena tak gunakan Bahasa Inggris atau lainnya selayaknya negara eks-kolonial. “Apakah di Indonesia menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa nasional? Bahasa apa yang kamu gunakan?” tanyanya penuh antusiasme.

“Tidak. Bahasa Inggris bukan bahasa nasional kami. Bahasa Nasional kami ialah Bahasa Indonesia. Meski kami pernah dijajah Belanda selama 350 tahun, kami tak gunakannya sebagai bahasa nasional. Kami punya politik bahasa sendiri karena bahasa bagi kami adalah awal dari lahirnya kami sebagai bangsa,” jawabku

Sang kawan dari Guatemala tersebut akhirnya pun tahu mengapa Indonesia yang dulu sama-sama negara jajahan bisa punya bahasa sendiri yang beda. Tak gunakan bahasa penjajah untuk komunikasi sehari-hari atau resmi. Beda dengan negara eks-kolonial lainnya yang seringkali gunakan bahasa penjajahnya sebagai bahasa nasional dan resmi sebagai dampak lamanya kolonialisme dan imperialisme.

“Itu sangat bagus sekali. Sayangnya, kami tak tak gunakan bahasa sendiri sebagai bahasa resmi dan nasional negara,” katanya.

Bahasa Indonesia memang punya sejarah panjang sebagai identitas nasional Bangsa Indonesia. Pergerakan kaum cendekiawan nasional pda awal abad XX tak bisa lepas dari peran bahasa. Kerja dari Tirto Adhi Soerjo yang menyebabkan lahirnya generasi intelektual yang memotori pergerakan nasional melalui surat kabar pertama yang gunakan bahasa melayu, Medan Prijaji. Seperti yang digambarkan Pramoedya Ananta Toer dalam karyanya Sang Pemula: “…Sekiranya ia tak mulai tradisi menggunakan perssebagai alat perjuangan dan pemersatu dalam masyarakat heterogen seperti Hindia, bagaimana sebuah nation seperti Indonesia akan terbentuk?”

Seorang kawan dari Tanzania juga menayakan hal senada, soal bahasa. Pertanyaannya soal bahasa muncul karena saya menggunakan Bahasa Indonesia jika berbicara dengan kawan senegara. Tentunya, bagi yang bellum terbiasa, hal ini terasa sangat aneh karena tak gunakan bahasa “pakem” yang sering digunakan di negara-negara dunia ketiga.

“Apakah Bahasa Inggris jadi bahasa nasional Indonesia?” tanyanya. “Tidak. Bahasa nasional dan resmi kami yakni Bahasa Indonesia,” jawabku dengan tegas.

“Sebagai bahasa ke dua ya?,” tanyanya lagi. Aku pun menjawabnya, “bukan. Bahasa Inggris bukan bahasa ke dua kami. Bahasa ke dua kami yakni lingua franca (bahasa ibu) yang di Indonesia ada sekitar 300 jenis,” tututku seraya menjelaskan heterogenitas Indonesia.

Saya yakin, orang Indonesia yang saat ini berada di luar negeri pasti mati-matian juga enjelaskan, Bahasa Inggris bukanlah bahasa resmi dan nasional Indonesia. Bahasa Inggris hanya satu mata pelajaran di sekolah sejak kita duduk di bangku SMP. Kebanggaan tersendiri memunyai Bahasa Indonesia karena mampu jadi tonggak berdirinya sebuah bangsa, Indonesia.

Apa daya, pernyataan Mendag tentang kewajiban memiliki TOEFL 600 bagi pegawai Kemendag tersebut seolah-olah hendak menegaskan posisi Bahasa Inggris. Apa yang “diperjuangkan” di luar negeri untuk menegaskan, “bahasa resmi dan nasional kami adalah Bahasa Indonesia, bukan Bahasa Inggris, Belanda, Perancis atau lainnya” seolah-olah “sia-sia”. Ternyata, mentalitas inlander belum juga lepas dari kepala sebagian bangsa Indonesia. Padahal, di belahan bumi lainnya, mereka sedang mencari bahasa otentik mereka sendiri.

Padahal jelas adanya, kita punya bahasa sendiri. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer katakan dalam karyanya, Anak Semua Bangsa: “tanpa mempelajari bahasa sendiri, orang takkan mengenal bangsanya sendiri.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s