Harjalu ke-756: Sejarah Bukan “Barang” Mati

Posted: 1 Desember 2011 in Arbiter, Sosial-Budaya
Tag:, , , , , , ,

Tinggal 15 hari lagi Kabupaten Lumajang merayakan hari jadinya ke-756. Usia yang tak bisa dipandang muda lagi. Sebagai sebuah kota, umur tersebut menunjukkan kompleksitas dinamika kehidupan sosial di Lumajang. Beragam peristiwa telah dilampaui yang menjadikan perjalanan Lumajang semakin beragam dan penuh dengan romantika. Masa lalu lah yang menjadikan Lumajang seperti saat ini, bukan akibat proses instan seketika saja tanpa proses panjang.

Agenda telah disusun untuk memperingati Hari Jadi Lumajang (Harjalu) ke-756. Gerak jalan, sepeda santai, karnaval, dan puncak peringatan Harjalu pada 15 Desember merupakan contoh kegiatan yang hendak dilaksanakan. Sungguh mengharu-biru di tengah beragam persoalan sebagai sebuah kota dengan segalla kompleksitasnya. Tak hanya itu saja, dunia maya pun ramai menyambut Harjalu. Salah satu yang saya ketahui, yakni Singgah Lumajang. Terima kasih untuk info Harjalu-nya. 

Hiruk-pikuk perayaan Harjalu tahun ini sangat terasa meski hanya bisa mengamati dari jauh. Tak mungkin bagiku untuk turut berpartisipasi meski hanya menonton saja. Kiranya, tulisan ini bisa dijadikan wujud partisipasi saya dalam meramaikan Harjalu beserta kemeriahannya. Saya hanya mencoba menggali kembali memori dan harapan tentang bagaimana Lumajang bisa terus mengikuti derap modernitas tanpa harus kehilangan jati dirinya. Tanpa kehilangan narasi besar sebagai entitas sosial dan politik yang terus melangkah maju.

Terus terang saja, Harjalu kali ini tak ada yang berbeda dengan sebelumnya. Hanya berisi seremonial dengan mengusung identitas budaya yang mana di dalamnya miskin dengan substansi. Pemikiran progresif untuk mengulang kejayaan masa lalu Lumajang hanya ditempatkan sebagai wacana belaka. Revitalisasi sebagai sebuah kota tak jadi agenda utama untuk menjadikan Lumajang semakin menggeliat tanpa meninggalkan masa lalu.

Pikiran ku masih melayang-layang di antara susunan batu bata Situs Biting yang hendak dihancurkan oleh kerakusan. Situs Biting yang awalnya merupakan Keraton Lamajang dengan mudahnya di buldozer untuk dijadikan kompleks perumahan. Jejak sejarah Lumajang hendak dihapus dengan ketamakan seperti ini. Proses “penghancuran” Situs Biting untuk saat ini mungkin berhenti, tapi adakah proses lanjutan terhadap “buldozer-isasi” tersebut? Inilah pertanyaan yang menggantung selama ini karena UU tentang Cagar Budaya mengaturnya dengan jelas.

Tak berhenti pada Situs Biting saja, bukti arkeologis tentang kejayaan Lumajang di masa lalu juga tak dapat perhatian serius, bisa dikatakan nihil. Harjalu masih berupa seremoni saja, belum melahirkan pemikiran untuk melakukan revitalisasi terhadap “masa lalu” Lumajang yang sejatinya penuh dengan dinamika. Siapa peduli dengan identitas Lumajang saat ini yang terkenal adem ayem? Padahal, sejarah mencatat, Lumajang merupakan kota yang penuh dengan perlawanan. Apakah identitas “asli” ini hendak dikubur dalam-dalam tanpa diketahui oleh siapa pun? Entah, saya tak bisa menjawabnya.

Sejarah tak hanya berbicara tentang masa lalu. Sejarah juga berbicara tentang masa kini dan mendatang. Tanpa mengetahui sejarah, sebuah entitas sosial bakal kehilangan arah. Tak memunyai arah dalam melangkah, tiada pijakan untuk bergerak. Melupakan masa lalu sama saja mengubur memori dan harapan para pendiri Lumajang. Apalagi sejarah tak selalu linear dengan masa depan. Tanpa mengambil pelajaran dari sebelumnya, tak mustahil kita masuk ke jurang yang sama di masa lalu. Habislah riwayat kita dengan sejarah panjangnya.

Perayaan Harjalu seyogyianya tak sebatas pada gemerlap kemeriahan lampu warna-warni dan berbagai pentas pertunjukan yang mengharu-biru. Substansi Harjalu perlu dihidupkan kembali dengan melakukan revitalisasi sejarah Lumajang yang sudah terpendam dan jarang diketahui oleh warganya sendiri. Sungguh ironis di tengah masyarakat yang semakin menua tapi kehilangan masa lalunya hanya untuk bisa dikatakan “modern” begitu saja. Mengembalikan sejarah Lumajang berarti menggali memori dan harapan untuk masa depan.

Sejarah adalah politik masa lalu, dan politik adalah sejarah masa depan. Apa yang terjadi saat ini adalah cikal bakal fenomena yang akan terjadi di masa mendatang. Saat ini hanyalah masa lalu dari masa depan. Agar saat ini tak dilupakan, masa lalu harus terus kita gali untuk terus diberdayakan dan diingat. Bagaimanapun juga, Harjalu ke-756 harus jadi momentum untuk memulainya. Selamat hari lahir kota tercinta ku. Selamat menikmati kemeriahan Harjalu bagi semua warga Lumajang. Selamat Hari Jadi Lumajang ke-756. 

Iklan
Komentar
  1. singgahlumajang berkata:

    Merinding bacanya…menikmati setiap kata yg penuh makna. Apalagi ditulis oleh putra daerah asli Lumajang. Terima kasih, semoga menjadi sinergi yang baik. SELAMAT HARI JADI LUMAJANG ke-756. Jaya Selalu Lumajangku!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s