Penantian, Pesta, dan Tragedi

Posted: 23 November 2011 in Politik
Tag:, , , , , ,

Di antara terjangan hawa dingin suatu kota ujung dunia pada Senin, 21 November 2011 siang hari hatiku merinding. Tak sabar menanti pertandingan final sepak bola SEA Games antara Indonesia vs Malaysia. Hatiku juga penuh cemas, semoga ada stasiun TV asing yang menyiarkannya secara langsung, andaipun tiada, berharap jaringan internet tetap cepat. Aku juga melirik berita pernikahan Ibas-Alliya yang super wah. Tak luput pula, “korban” dari adanya pesta pernikahan super wah tersebut. Siapa lagi kalau bukan rakyat biasa.

Mataku langsung terbelalak ketika membaca berita yang menyebutkan terampasnya penghidupan rakyat biasa akibat pagelaran pesta pernikahan Ibas-Alliya. Warung tempatnya mencari nafkah selama puluhan tahun harus digusur untuk selamanya demi sebuah pesta. Tentunya, hal itu dilakukan tanpa solusi. Sekedar surat pemberitahuan bahwa yang bersangkutan tak boleh lagi mencari nafkah di sekitar Istana Cipanas untuk selamanya. Demi sebuah pesta akbar keluarga presiden di lokasi milik negara.

Prahara ini sangatlah kontras di antara penantian sebagai juara, pesta akbar, dan tragisme kehidupan. Apa yaang dialami Dede sepertinya bukan jadi hal menarik. Tragi-komedi kehidupannya kalah tenar dibandingkan pertandingan final sepakbola SEA Games. Kurang begitu punya greget dibandingkan pesta pernikahan Ibas-Alliya. Itulah drama kkehidupan yang terus dialami oleh rakyat biasa karena penderitaan yang mereka alami sudah jadi hal lumrah di negeri ini.

Di antara penantian dan hura-hura, tragedi sedang berlangsung. Semakin menegaskan adagium, paling mudah menyingkirkan rakyat biasa. Mereka tak punya kekuatan apa-apa selain pasrah terhadap kekuasaan. Sangat menyesakkan ditengah gembar-gembor angka fantastis pertumbuhan ekonomi dan penurunan jumlah penduduk miskin. Hal ini juga semakin menegaskan kenyataan, kaum marjinal adalah korban dari pembangunan. Mereka dipaksa untuk menyingkir dari derap langkah pembangunan yang tak berpihak.

Dari kota ujung dunia aku pun hanya bisa berpikir, mereka harus melawan. Tanpa melawan, rakyat hanya dijadikan sapi perahan penguasa. Diperas keringatnya hingga kerontang kala dibutuhkan, dan dibuang begitu saja ketika mengering. Rakyat dianggap ada hanya ketika pesta demokrasi digelar, bukan untuk pesta-pesta lainnya. Rakyat harus menyingkir demi “suksesnya” pesta meski sebelumnya di-dewa-dewa-kan hanya untuk meraih suaranya.

Dimuat di Kompasiana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s