Madiun (1)

Posted: 26 September 2011 in Arbiter
Tag:, , ,

Ini bukan cerita tentang revolusi di zaman awal kemerdekaan, tapi sekedar cerita tentang kota yang sering ku lewati tapi tak pernah menyinggahinya. Aneh juga sih belum pernah singgah ke sana, padahal banyak kawan yang tinggal di kota ini. Kemana saja ya selama lima tahun dulu, kok sampai tak pernah ke sini? Aneh bin mujib, eh salah, ajaib memang. Tak apa lah, yang penting bisa juga singgah sejenak di kota ini sembari menikmati aneka rasa “brem” (makanan khas Madiun).

Kedatangan ku di Madiun bukan disambut oleh terik matahari, tapi ayam berkokok. Menjelang subuh baru sampai ke kota yang dalam sejarah republik penuh dengan drama revolusi ini. Seorang kawan datang menyambut di Madiun, tepatnya Caruban, setelah beberapa hari sebelumnya sudah janjian.

Aku kaget pas kowe sms yen nang pertigaan Karangjati. Kuwi adoh tenan. Iki yo pertigaan Caruban Jack,” kata teman ku ketika menjemput.

Aku hanya bisa meringis dan ketawa kecil saja. Aku mengira itu pertigaan Karangjati karena di penunjuk jalan kalau ke Karangjati belok kiri (nah lho, mang Karangjati di mana?). Maklum, asal njeplak saja pas ditanya posisi ada di mana (maafkan ane ya Jack….). setelah itu, lanjut menyantap pecel madiun yang kesohor di berbagai pelosok nusantara, hm…yummy…

Agenda selanjutnya tiba. Inilah agenda utama mengapa aku harus ke Madiun, kondangan ke acara pernikahan seorang kawan. ”Dia kan bukan asli Madiun, kok acaranya di Madiun?” Tunggu dulu…Acara tersebut diadakan di Madiun karena sang gadis yang berhasil merobohkan tembok cinta seorang kawan tersebut berasal dari kota pecel ini. Walhasil, acara perayaan pernikahannya diadakan di kota ”merah” ini.

Saatnya tiba. Acara puncak digelar di salah satu gedung di Kota Madiun. Tamu-tamu berdatangan silih-berganti. Kami bertiga datang yang kemudian disusul seorang kawan lagi dan langsung bersalaman dengan kedua mempelai. Tak lupa juga lakukan hal wajib, foto-foto.:) Sembari menikmati hidangan, aku terus komunikasi dengan kawan-kawan yang berangkat dari Surabaya. ”Yup,” jawab seorang kawan lewat pesan singkat pada 10 menit sebelum acara usai ketika menjawab pertanyaanku, ”Caruban?”

Wah, durung nyampe-nyampe ae arek-arek yo? Wis jam piro iki, padahal mau jarene wis nang Caruban. Kudune wis teko iki,” ujar Jack kepadaku.

Sang pengantin pun tak kalah bingung ketika melihat kawan-kawan dari Surabaya belum datang juga. Bahkan dia sampai beranjak dari pelaminan bertanya kepadaku tentang posisi kawan dari Surabaya. Aku hanya bisa nyengir saja melihat ulah sang pengantin ini. Masak pengantin sampai berdiri menghadiri tamu (berarti saya spesial ya?:D hehehe). ”Wis cedhak. Iki wis katene nyampe arek-arek,” kataku kepadanya.

Acara pun selesai sesuai jadwal. Anehnya, kawan-kawan dari Surabaya yang katanya sudah dekat masih belum juga nongol batang hidungnya. Ternyata, mereka kesasar entah ke mana. Setelah berkoordinasi, akhirnya aku pun ikut dengan rombongan pengantin ke rumah mempelaib dan ketiga kawan lainnya langsung pulang ke kota masing-masing. ”Sudah mas, teman-temannya yang dari Surabaya ditunggu di rumah saja,” tutur mertua sang mempelai pria (bener ga yang omong itu mertua mu?).

Selang sepuluh menit, kawan-kawan dari Surabaya tiba juga di rumah sang empu gawe. Tentunya, mereka tak langsung bisa menemukan alamat. Sang pengantin pria harus memberitahukan ancer-ancer terlebih dulu agar tak nyasar lebih jauh lagi. Gile lu ndro, gimana kalau mereka sampai nyasar ke Ponorogo gara-gara tak dijemput? ”Baru kali ini ada pengantinnya sendiri yang harus jemput,” ujarnya kepadaku sembari diboncengnya. Ahahahaaaiiyyy….

To the point saja. Suasana ruangan langsung grrr begitu mereka datang. Dulu dan sekarang masih sama, tak ada bedanya. Sembari beristirahat setelah perjalanan lumayan jauh ini, kami bercengkerama dulu. Apalagi kalau bukan tentang memori di kontrakan selama setahun dulu. Tentunya, seputar hal-hal bodoh yang dulu pernah terjadi. Terutama ulah si pengantin pria (mumpung istrinya ikut nimbrung juga, pisss..hehehe).

Tak terasa matahari sudah mulai bersembunyi di peraduannya. Kami pun pamit pulang. Tentu saja, sebelum pulang tak lupa untuk sekedar foto-foto dulu. Kami pun langsung pergi dari rumah mempelai menuju tujuan selanjutnya, Pare, Kediri. Belum jauh dari rumah, sekitar terminal Madiun, ada cerita yang membuat seisi mobil grrr… (tanya sendiri saja pada pelakunya). Namun, sudah kadung di jalan, meluncur saja sembari menertawakan ”kebodohan” itu.

Bersambung….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s