Ketika Buku Jadi Konstitusi

Posted: 23 Agustus 2011 in Hubungan Internasional
Tag:, , , ,

Sebuah konstitusi negara lazimnya disusun dengan cermat dan memuat aturan pokok bernegara. Konstitusi tersebut disusun berdasarkan latar belakang dan ciota-cita pendirian negara. Namun, rumus tersebut tidak berlaku di Libya selama Khadafi berkuasa sejak September 1969. Konstitusi adalah dirinya dengan beragam argumen yang menyesatkan. Seperti adagium sistem kerajaan tradisional, the king can do no wrong.

Dua Kitab Hijau (Kitab Akhdar) dan buku The Third International Theory jadi dasar Khadafi dalam menjalankan roda pemerintahan Libya. Ketiga terbitan tersebut secara sepihak diresmikan sebagai konstitusi Libya. Tentunya, hal ini sangatlah bertolak belakang dengan logika umum tentang konstitusi suatu negara.

Apa boleh buat, rakyat harus tunduk pada retorika politik yang dibangun Khadafi dengan tangan besinya. Khadafi menutup seluruh saluran politik rakyat Libya tanpa beri ruang gerak sedikit pun. Libya yang dipimpin Khadafi pasca kudeta pada 1969 hanyalah ”penghalusan” bentuk kenegaraan aristokrasi. Secara de jure republik, tapi de facto kerajaan. Khadafi membangun quasi republik di Libya guna mendapat dukungan masyarakat.

Ketiga buku karangan Khadafi tersebut dijadikan landasan hukum negara kaya minyak ini. Dengan retorika sosialisme, Khadafi hendak membangun Libya seperti yang ia bayangkan. Adanya suatu ketertundukkan mutlak, tanpa ada oposisi, dan keterpusatan kekuasaan ditangannya. Inilah penafsiran salah kaprah Khadafi atas sosialisme. Jelas sekali, Khadafi gunakan tameng sosialisme sebagai alat pembenar dari tingkah-polahnya.

Khadafi menutup semua ruang politik guna amankan kekuasaannya. Dengan senjata tiga buku tersebut, Khadafi melanggengkan kekuasaan seumur hidupnya. Khadafi pun meniadakan suksesi secara terbuka karena ia menunjuk salah satu anaknya sebagai pemimpin Libya di kemudian hari. Demoktrasi dibunuh di negeri ini dengan mengatasnamakan kepemimpinan revolusioner. Padahal, jelas sekali, apa yang dilakukan Khadafi sesungguhnya merupakan bentuk pengkhianatan terhadap sosialisme.

Ketika buku jadi konstitusi, Khadafi jalankan negara tanpa adanya kontrol. Semuanya terpusat di isi kepalanya. Semua perlawanan disingkirkan sejauh mungkin guna mengamankan kekuasaanya. Prinsip Machiavelli dalam Il Principe diterapkan sedemikian rupa. Khadafi tak memilih jadi kancil nan cerdik, tapi harimau yang ganas. Ia lebih memilih ditakuti daripada dihormati. Karena itu, konstitusi yang seharusnya jadi milik bersama dibuat sedemikian rupa untuk kepentingan pribadi. Bukan lagi soal penafsiran, tapi pada level isi.

Rakyat Merayakan Jatuhnya Kota Tripoli ke Tangan Pemberontak (vivanews)

Inilah logika aneh dari pemimpin negara yang gila kekuasaan. Namun, semuanya itu bakal berakhir. Khadafi harus meletakkan kekuasaan yang sudah ia duduki 42 tahun. Mau tak mau, ia harus melakukan hal tersebut. Upaya perlawanan rakyat Libya selama setengah tahun menampakkan hasil yang diharapkan meski belum sepenuhnya. Khadafi masih menghilang, tapi harapan baru sudah terpampang. Sudah waktunya rakyat Libya untuk menutup ketiga buku tersebut dan menaruhnya di rak perpustakaan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s