Nazaruddin, Anas, dan Partai Demokrat

Posted: 15 Agustus 2011 in Hukum
Tag:, , , , , , , ,

Penunjukkan Bendahara Umum Partai Demokrat pada 2010 bisa jadi pintu masuk untuk membongkar “gurita” korupsi Nazaruddin.

Anasurbaningrum merupakan nama yang paling sering disebut Nazaruddin sebagai aktor yang harus turut bertanggungjawab dalam skandal korupsi Wisma Atlet. Melalui berbagai wawancara di media massa, Nazaruddin terus menyebut nama Anas sebagai orang yang juga menikmati hasil ”jerih payahnya”, merampok uang negara. Namun, seringkali hal ini dilupakan dari akarnya, seolah-olah bukan persoalan sistemik, hanya ulah segelintir kader Partai Demokrat (PD) yang serakah saja.

Pulangnya Nazaruddin setelah jadi buron selama tiga bulan, sedikit demi sedikit memberi informasi berarti jika sedikit lebih teliti. Tak perlu informasi rinci seperti yang dilakukan para penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), cukup dari media massa saja. Soal dugaan korupsi yang dilakukan Nazaruddin, bisa jadi pintu masuk untuk membuka selubung gelap selama ini. ketua KPK Busyro Muqoddas menyebut, dugaan korupsi yang dilakukan Nazaruddin mencapai 6, 037 triliun rupiah dengan tiga klasifikasi. Di sinilah kejanggalan bisa ditemui terkait tiga elemen: Nazaruddin, Anas, dan PD.

Menurut Busyro Muqoddas, dugaan korupsi terhadap Nazaruddin terdapat di tujuh kementerian plus kasus Wisma Atlet. Kasus Wisma Atlet itu sendiri baru mencuat setelah KPK melakukan penyergapan di Kemenegpora pada April lalu. Tentunya, jika dilihat dari jumlah lembaga yang jadi lahan cari uang Nazaruddin, tindakannya dilakukan jauh sebelum ada penyergapan. Bahkan, bisa jadi terjadi sebelum Anas terpilih sebagai Ketua Umum PD pada akhir Mei 2010. Itulah sebabnya, penunjukkan Nazaruddin sebagai Bendahara Umum PD perlu didalami lebih lanjut agar bisa menemukan sistemik atau tidaknya aksi mantan politisi PPP ini.

rupadunia.blogspot.com

Paling menarik dari tiga elemen ini tentunya terkait pernyataan Anas di berbagai media massa tentang penerimaannya terhadap Nazaruddin ketika pembentukan pengurus baru. Anas mengaku tidak sreg dengan penunjukkan Nazaruddin sebagai Bendahara Umum PD di bawah kepengurusannya. Anas mengaku mendapat informasi yang kurang menyenangkan tentang Nazaruddin, tapi sang Bendahara Umum ini selalu membantahnya. “Nazaruddin menjadi Bendahara Umum karena didukung oleh para formatur,” kata Anas (www.vivanews.com).

Dukungan dari formatur di PD inilah yang harus digali lebih lanjut. Hal tersebut menimbulkan kesan adanya suatu desain besar guna mencapai tujuan tertentu. Entah apa itu tujuan dari desain tersebut. Tentunya, semua pihak harus mengawalinya dengan pertanyaan, ”mengapa formatur PD mendukung Nazaruddin sebagai Bendahara Umum dan Anas menerimanya meskipun merasa tidak sreg?” Dari sini, sistemik tidaknya ulah Nazaruddin bisa diketahui karena ada kejanggalan dibalik dukungan formatur dan penerimaan dari Sang Ketua Umum PD tersebut.

foto.detik.com

mediaindonesia.com

Total uang yang diduga dikorupsi dan jumlah kementerian yang ”dibobol” Nazaruddin, seperti penyataan Busyro Muqoddas, bisa jadi penunjuk waktu. Jumlah uang 6, 037 triliun rupiah dan tujuh kementerian plus Wisma Atlet, sangat memungkinkan, tindakan Nazaruddin dilakukan sebelum ia jadi Bendahara Umum PD. Ditambah lagi kurang sreg-nya Anas terhadap Nazaruddin dan adanya dukunya formatur. Ketiganya bertemali erat, seolah-olah menyimpan cerita yang hendak dsembunyikan.

Bola tetap ada di KPK sebagai penyidik dugaan korupsi Nazaruddin. Jika KPK tak menelisik rentetan peristiwa politik tersebut, apa yang diharapkan masyarakat agar gurita korupsi tersebut terbongkar bakal sulit jadi kenyataan. Tak cukup hanya mendasarkan hanya pada aspek hukum belaka. Peristiwa-peristiwa politik yang, mungkin, jadi latar aksi Nazaruddin perlu ditelaah sedemikian rupa. Tanpa melakukan hal itu, penangkapan Nazaruddin di Kolombia hanya jadi seremoni belaka. Perkara tak terbukti setelah ada penyelidikan lebih lanjut, itu urusan belakang. Paling penting, ketiga elemen tersebut harus dikaitkan dengan pernyataan Anas dan uang 6, 037 triliun rupiah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s