Inflasi Iman

Posted: 6 Agustus 2011 in Sosial-Budaya

Ada istilah menarik yang saya temui dari twitter dan ini merupakan hal baru. Apa coba? Ya, ternyata istilah tersebut, yakni inflasi iman. Mengapa istilah ini menarik? Selama ini inflasi erat dengan suatu peristiwa ekonomi. Jumlah uang melimpah, tapi komoditas yang ada di pasar sangat minim. Alhasil, harga komoditas terus meroket karena uang ada, tapi bingung cari apa yang hendak dibeli karena “langka”. Bagaimana dengan inflasi iman ini?

Inflasi iman yang saya temui di twitter banyak bicara soal ketika bulan Ramadhan datang. Ini sangat erat dengan perilaku masyarakat yang berubah drastis. Lebih agamis dan spiritualitas meningkat. Tentu saja, hal ini sangat bagus. Malah sebisa mungkin terus dipertahankan meski Bulan Ramadhan sudah lewat. Namun, apa yang menyebabkan istilah “inflasi iman” ini bermakna konotatif? Tentu saja, aksi manusia lah yang jadi penyebabnya.

Inflasi iman, dalam tafsiran saya, bukan akibat semakin meningkatnya ibadah mereka yang menjalankan ibadah puasa. Lebih pada aksi berlebihan ketika Bulan Ramadhan datang. Tadarus Al Quran, pengajian, buka bersama, dan sahur on the road, merupakan contoh aktivitas positif. Sangat wajar mengingat Ramadhan merupakan bulan penuh berkah. Namun, beberapa aksi segelintir masyarakat dan aparat keamanan menjadi penyebab terjadinya “inflasi iman” yang saya maksud.

Dalam pemberitaan, kita sering menemui rencana beberapa kelompok masyarakat yang akan “menegakkan iman” dengan cara mereka sendiri. Ancaman sweeping terhadap tempat-tempat yang mereka nilai bisa merusak suasana Ramadhan banyak bergulir. Aksi tersebut sesungguhnya bukan kewenangan mereka, tapi aparat keamanan tampak “tak berdaya” terhadap fenomena ini. Bahkan, ada pula yang sampai mengancam warung yang buka kala siang. Padahal, warung tersebut jadi sumber kehidupan keluarga. Mengapa ini hanya terjadi kala bulan Ramadhan?

Razia terhadap hotel “abal-abal” pun sering dilakukan aparat keamanan kala Ramadhan. Ya, frekuensinya lebih tinggi dibanding bulan-bulan biasa. Hotel melati jadi sasaran razia. Entah itu razia PSK, pasangan bukan suami istri, atau lainnya. Anehnya, razia seperti ini, dalam pemberitaan media massa, jarang sekali dilakukan di hotel berbintang. Ada apa gerangan? Demi bulan suci Ramadhan, razia tempat-tempat yang dianggap bisa menodai bulan Ramadhan semakin gencar dilakukan. Inilah wujud dari “inflasi iman” yang ke dua.

Puasa sejatinya identik dengan keprihatinan. Namun, fenomena yang ada malah bertolakbelakang. Puasa jadi ajang untuk jadi lebih konsumtif. Konsumerisme merajalela yang ditandai dengan semakin meningkatnya konsumsi masyarakat. Entah itu terhadap produk pangan maupun manufaktur. Padahal, sepanjang siang tak makan dan minum. Logika paling gampang, konsumsi pun berkurang. Anehnya, konsumsi semakin meningkat di bulan Ramadhan. Apakah ini wujud pengejawantahan keimanan? Tentu saja bukan. Ini hanya ekspresi kegembiraan yang bisa berdampak pada munculnya “inflasi iman”.

Ketiga fenomena di atas merupakan kenyataan yang kita hadapi saat ini. terutama yang pertama dan ke dua. Dengan mengatasnamakan bulan suci Ramadhan, aktivitas untuk menunjukkan kuatnya iman seseorang semakin ditonjolkan. Dalam hal ini negara pun ikut berkonyol ria dengan serangkaian razia. Tentu saja, dalam razia ini, penyakit masyarakat dianggap hanya teerjadi di kalangan kelompok masyarakat menengah ke bawah. Tempat-tempat “eksklusif” tak disentuh dalam razia ini. dalam bahasa sederhana, kemiskinan adalah penyakit masyarakat, tapi akar dari permasalahan tersebut, kemiskinan itu sendiri, tak jadi perhatian serius.

Inflasi, dalam ekonomi, harus ditekan sedemikian rupa. Begitupula dengan “inflasi iman” di bulan Ramadhan ini, perlu untuk ditekan sedemikian rupa agar kehidupan tetap serasi dan selaras. Dalam artian, tak ada kelompok masyarakat yang harus menanggung dampak cukup besar akibat manifestasi keagamaan yang meluap-luap tersebut. Tak perlu ada sweeping toh sudah ada yang punya kewenangan untuk itu. Razia penyakit masyarakat bukan hanya di deretan kamar kelas bawang, juga harus menjangkau kelas kakapnya. Semuanya tentu saja harus berjalan ajeg agar semua fenomena tersebut tak jadi petanda adanya “inflasi iman”.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s