Menonton “pertarungan” antara Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dengan Walikota Surakarta Joko Widodo (Jokowi) emngingatkan kembali era Perang Dingin. Seorang pemimpin negara yang pro rakyat hampir pasti ditumbangkan oleh negara super power, Amerika Serikat. Alasannya, mereka yang pro rakyat dianggap komunis. Sukarno, Torrejo, Sandhinista, dan Patrice Lumumba merupakan contoh para pemimpin pro rakyat yang harus tumbang oleh aksi intelejen canggih negara adiidaya.

Namun, “pertarungan” dua pemimpin di Jateng ini bukanlah soal ideologis seperti era perang dingin, tapi tentang keberpihakan. Antara pro pemodal (mall) versus pro rakyat (pasar tradisional), untung besar dengan laba kecil tetapi merata. Melenyapkan atau mempertahankan sejarah sebuah bangunan demi masa sebuah ingatan kolektif. Inilah pertarungan sesungguhnya, antara sikap melawan pragmatisme sesaat. Sebuah “pertarungan” yang layak untuk terus ditunggu bagaimana hasil akhirnya. Ya, karena ini juga “pertarungan antara “atasan” (Gubernur Jateng dengan “bawahan” (Walikota Surakarta)

“Ribut” antara Gubernur Jateng dengan Walikota Surakarta ini berawal ketika Jokowi menolak rencana pembangunan mall di bekas pabrik es Saripetojo. Ada dua alasan mengapa penolakan dilakukan: pertama, karena lokasinya berdekatan dengan pasar tradisional. Kita semua tahu, Jokowi sangat berpihak sekali terhadap pengusaha kecil yang bisa diwakilkan dengan keberadaan pasar tradisional. Kedua, pabrik es Saripetojo itu sendiri merupakan bangunan cagar budaya. Bangunan yang sudah berdiri sejak 1888 tersebut telah terdaftar di Balai Pelestarian Peninggalan Budaya (BP3) Jateng sebagai benda cagar budaya dengan inventarisasi No: 11-72/Ska/TB/64 dan usulan penetapan Menbudpar No: 1388/101.SP/BP3/P-IV/2010.

Meski demikian, Gubernur Jateng Bibit Waluyo tetap bersikukuh untuk terus membangun mall di bekas pabrik es tersebut. Menurut Bibit, pabrik es Saripetojo tersebut bukanlah bangunan cagar budaya. Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Solo Tahun 2007 dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tahun 2009, Saripetojo tak termasuk 70 gedung cagar budaya. Karena itu, ia beralasan, pembangunan mall harus berjalan terus. Selain itu, pabrik es Saripetojo juga dianggap tak menghasilkan pendapatan signifikan bagi Pemrov Jateng. Tiap tahun, Saripetojo hanya hasilkan pendapatan 15 juta rupiah. Padahal, tunggakkan pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB) senilai 350 juta rupiah.

Pabrik Es Saripetojo Solo Setelah Dihancurkan Sumber: http://www.solopos.com

Demonstrasi Anti-Pembangunan Mall Sumber: http://www.solopos.com

Alasan yang dikemukakan Jokowi tentunya kurang begitu problematik karena memang ia harus melakukan kewajibannya seperti itu. Namun, alasan yang dilontarkan Bibit Waluyo untuk terus membangun mall layak untuk dikritisi. Rencana pembangunan mall hanya berdsar suatu prosedur belaka, tanpa adanya penilaian terhadap dampak lanjutannya. Tentu saja, secara ekonomi, pembangunan mall memunyai dampak negatif terhadap keberadaan pasar tradisional. Banyak bukti bisa kita temui akibat dari pembangunan pasar modern tanpa perhitungkan dampak sosio-ekonomi warga sekitar.

Trickle down effect. Inilah senjata yang sering digunakan untuk menjawab masa depan perekonomian masyarakat ketika ada pembangunan pasar modern. Sayangnya, trickle down effect sejatinya hanyalah sebuah ilusi. Menetes ke bawah dengan cuma-cuma dengan pasar modern sebagai titik pusatnya. Sayangnya, tak ada makan siang gratis. Kapitalisme tak pernah puas berhenti di satu titik, selalu ingin melebihi batas yang telah digariskan sebelumnya. Apa yang dibayangkan Bibit terhadap mall yang ia rencanakan bisa hidupi masyarakat sekitar hanyalah retorika belaka. Banyak sekali contoh yang bisa ditemui terkait hal ini.

Bersambung…

Iklan
Komentar
  1. angkringan berkata:

    melawan kapitalis, kita harus bersatu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s