Oase dari Bumi Keraton

Posted: 7 Juni 2011 in Politik
Tag:, , , , , , , ,

Ketika menonton acara Mata Najwa dengan tema ”Nyali Sang Perintis” di salah satu stasiun televisi nasional, bulu kudukku merinding takjub. Joko Widodo atau Jokowi yang bisa membuatku takjub seperti itu. Ia memberikan harapan baru dengan karakter kuat kepemimpinannya yang pro rakyat. Setidaknya, Indonesia masih punya pemimpin yang layak untuk dijadikan teladan.

Jokowi saat ini memang jadi fenomena luar biasa di negeri ini. Kalau dengan pikiran nakal, barangkali Presiden SBY kalah populer dengannya. Bahkan, jika mereka berdua ditandingkan dalam suatu pemilihan dengan pemilih masyarakat Surakarta atau Jawa Tengah saja, saya yakin Jokowi bakal menang mudah. Jokowi tak andalkan pencitraan yang miskin implementasi, tapi malah sebaliknya, ampil beda. Inilah poin yang bisa menjadikannya lebih unggul, bahkan dengan presiden sekalipun.

Apa yang dilakukan Jokowi terhadap rakyat Surakarta memang bak cerita di negeri dongeng. Dia memindahkan PKL tidak dengan penggusuran dan kekerasan. Ia memindahkan PKL dengan perayaan, parade kebudayaan khas jawa. Perekonomian masyarakat dijaganya dengan pengendalian pasar modern (mal) dan minimarket. Kereta api (railbus) ia maksimalkan, bukan malah membangun jembatan layang atau jalan tol. Investasi ia kendalikan dengan fokus pada perekonomian rakyat.

Kirab Pemindahan PKL di Solo

Peresmian Railbus Solo

”Tugas pemerintah untuk mengendalikan, bukan anti investasi. Ya, saya pro pengusaha, tapi pengusaha kecil,” ujar Jokowi ketika diwawancarai Najwa Shihab.

Jokowi memang sosok kontroversi di tengah rezim investasi saat ini. ketika banyak kepala daerah yang membuka kran investasinya secara luas, Jokowi malah mengendalikannya. Secara sederhana, bisa dikatakan, Jokowi melawan kebijakan pemerintah pusat yang gandrung akan liberalisasi ekonomi. Ia berani menantangnya karena lebih memikirkan kepentingan rakyat, bukan pemodal.

Teladan jadi hal penting ketika sebuah kebijakan dikeluarkan. Salah satunya tentang gajinya sebagai Walikota Surakarta. Ia tak pernah mengeluh seperti ”curhat” seorang pemimpin beberapa waktu lalu yang mengaku tujuh tahun tak naik gaji. Selain itu, ketika banyak kepala daerah atau pemimpin negeri ini ”merajuk” untuk diberi mobil dinas yang baru, Jokowi malah menolak. Baginya, Toyota Camry berumur 10 tahun bekas Walikota Surakarta sebelumnya sudah sangat cukup baginya.

”Memang pernah mogok 10 kali, tapi saya benarkan lagi ya enak lagi. Mogok ya biasa. Camry kan juga bagus,” tutur Jokowi kepada Najwa Shihab.

Menari dalam Peringatan Hari Tari Se-Dunia

Pembaharuan birokrasi ia lakukan dengan radikal. Perbaikan sistem jadi fokus utama untuk pembaharuan ini. Ia percaya, pada dasarnya para birokrat itu pandai, hanya cara menggerakkan dam sistem organisasinya keliru. Ia pun mengubah sistem yang ada secara drastis. Contohnya soal pengurusan KTP. Dulu membutuhkan waktu 1-2 minggu, sekarang bisa 1 jam jadi. ”Dulu waktu soal KTP, ada 3 lurah dan 1 camat yang kelihatan tidak ada niat, tidak mau ikut sistem saya. Jadi saya hilangkan dari sistem,” paparnya.

Inilah oase di tengah keringnya teladan kepemimpinan di negeri ini. siapa pun bisa berharap sang presiden bisa melakukan terobosan berani dengan lebih berpihak pada rakyat. Pesan terbaik dari apa yang dilakukan Jokowi, yaitu: pemerintah tak boleh kalah dengan pengusaha. Namun, kenyataan bicara lain. Apa yang terjadi saat ini cenderung sebaliknya, pengusaha kendalikan pemerintah. Kesederhanaan dan keberanian untuk memulai sesutu yang baru dengan segala resikonya, bukan peragu.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s