Pancasila, di Antara Kekuasaan dan Ideologi Negara (1)

Posted: 9 Mei 2011 in Politik
Tag:, , , , , , , , , ,

When I gave food to the poor, they called me a saint. When I asked why the poor were hungry, they called me a communist.” Dom Helder Camara

Merebaknya aksi terorisme dan penculikan atas dasar ideologi membangkitkan kembali semangat untuk ber-Pancasila. Semangat untuk menemukan jati diri sebagai suatu bangsa dengan acuan Pancasila yang menurut banyak pihak mulai ditinggalkan. Ber-Pancasila untuk menemukan kembali semangat ke-Indonesia-an yang utuh, berkarakter, dan berintegritas. Bukan sekedar doktrin membabi-buta dengan penafsiran tunggal seperti saat rezim Suharto berkuasa.

Fenomena Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah (NII KW) IX membuat negeri ini gelisah. Banyak anak muda kehilangan arah dan hilang akibat hasutan dari pelaku “teror” ideologi ini. mereka hilang, bukan hanya sekedar ideologi saja, dari peradapan, diculik atas nama ideologi. Begitu juga aksi terorisme, tindakan ini telah timbulkan kekacauan, bahkan jatuh korban jiwa. Dua contoh tersebut memunculkan konklusi: pendidikan Pancasila harus kembali digalakkan pada semua jenjang. Konklusi ini lahir karena porsi pendidikan Pancasila di semua jenjang pendidikan menurun.

Pancasila tak diresapi dengan seksama sehingga berbagai aksi yang bertentangan dengan ideologi negara bermunculan. Terutama ideologi yang mengajarkan radikal-vandalisme, mencoba memecah belah kesatuan bangsa. Terorisme dan NII merupakan salah satu “musuh” yang harus dihancurkan karena telah merusak sendi kehidupan berbangsa. Bahkan, ada juga yang usulkan untuk melarang ideologi yang bertentangan dengan nilai Pancasila. Inilah wajah Indonesia saat ini yang sedang gelisah karena “kehilangan” jatidirinya.

Berbagai usulan yang muncul tersebut terkesan hanya solusi instan belaka. Tak berusaha mencari akar penyebab menurunnya kesadaran dalam memahami ideologi negara. Hanya seputar persoalan: Pancasila tak diresapi dan dipahami dengan benar. Perlu kiranya kita merunut kembali mengapa fenomena tersebut terjadi. Tak bisa kita langsung menunjuk jari ke arah warga negara dengan menuduh mereka tak jalankan dan pahami ideologi negara secara benar. Namun, “tuduhan” itu tak pernah sampai pada penyebab mengapa permasalahan tersebut terjadi.

Dekonstruksi Nalar Kekuasaan

Kekuasaan bukanlah sesuatu yang sakral. Dalam kehidupan bernegara, kekuasaan harus terus dikontrol, bila perlu, diruntuhkan keberadaannya. Dalam hal ini, kekuasaan yang korup, monolitik, dan mengangkangi keadilan layak untuk mendapatkannya. Namun, dalam konteks kekinian, kekuasaan yang mengangkangi jadi faktor utama penyebab mengapa deviasi terhadap ideologi negara bermunculan dengan hebat.

Kekuasaan yang ada sekarang lebih cenderung pada upaya monopoli ideologi dengan konsep tunggal, yakni neoliberalisme. Pancasila “bukan lagi” ideologi negara yang sesungguhnya. Pancasila hanya sekedar tempelan pada lembar kertas tempat bagi suatu kebijakan untuk dijalankan oleh semuanya. Tak lagi jadi roh dalam kebijakan tersebut, hanya sekedar bumbu manis agar terkesan lebih “meng-Indonesia”. Nyawa kebijakan banyak dipengaruhi neoliberalisme, menggunakan logika pasar agar sesuai kepentingan modal-finansial. Inilah sikap monolitisme kekuasaan yang tak pernah dipotret, tapi sejatinya tampil nyata setiap hari.

Fenomena terorisme dan NII yang sekarang mencuat pada dasarnya bukan ranah ideologi. Keduanya sudah masuk dalam tataran aksi karena ideologi yang mereka anut pada dasarnya tak mengajarkan sama sekali tindakan seperti itu. Malah sebaliknya, ideologi tersebut melarang tindakan kedua bentuk aksi di atas. Dalam hal ini saya lebih sepakat dengan pendapat, terorisme lahir akibat kemiskinan dan tertutupnya ruang publik yang bebas dari dominasi. Terorisme dan mimpi NII merupakan bentuk dari pelarian kekosongan ideologi akibat ketidakpercayaan terhadap kekuasaan yang monolitik, korup, dan mengangkangi keadilan.

Jika memang benar ingin menegakkan ideologi negara, konsistensi harus dapat perhatian utama. Konsistensi tersebut, salah satunya, bisa dengan membatalkan semua peraturaan daerah yang bertentangan dengan Pancasila. Bentuk nyatanya dengan membatalkan semua Perda yang menjadikan salah satu agama di Indonesia sebagai “ideologi daerah”. Tentunya bukan dalam kerangka membangun sistem monolitik cara berpikir atau membatasi kebebasan, tapi lebih pada arah tetap menjadikan ideologi negara sebagai sumber rujukan. Apalagi, penerapannya patut diduga lebih pada untuk memenuhi kepentingan elit tertentu, bukan masyarakat pada umumnya (lihat hasil penelitian Michael Beuhler).

Intervensi negara yang negatif pada persoalan ekonomi, sosial, dan budaya juga jadi salah satu penyebab mengapa “perlawanan” terhadap idelogi negara terjadi. Akomodasi secara penuh terhadap neoliberalisme tak hanya bergerak dalam ranah ekonomi. Neoliberalisme merasuk ke hampir seluruh kehidupan denga mendesakkan agenda tunggal: penggunaan logika pasar dalam kehidupan. Salah satu wujudnya dalam wujud pemenuhan hak warga negara. Hak tak lagi jadi sesuatu yang given tapi erat dengan daya beli. Siapa yang berdaya beli berarti bisa mendapatkan haknya dengan sempurna.

Pembongkaran terhadap nalar kekuasaan jadi hal penting untuk menuntaskan “krisis ideologi” yang terjadi saat ini. Tanpa membongkar hal ini sama halnya dengan membangun “kebun pembenihan” radikal-vandalisme karena akar permasalah tak pernah disentuh. Tak adil juga hanya merujuk Pancasila hanya sekedar dalam koridor pluralisme. Pancasila tak hanya ajarkan pluralisme, juga memerintahkan adanya keadilan sosial. Tanpa hal ini sama halnya dengan berteriak maling sembari salah satu tangan mengambil barang milik orang lain. Bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s