Menjejak Bumi Manusia di Belanda

Posted: 2 Mei 2011 in Arbiter
Tag:, , , , , ,

Apa sih yang jadi dasar bagi suatu negara untuk bisa dikatakan sejahtera? Apakah harus menggunakan indikator tunggal yang belum tentu cocok bagi suatu wilayah? Apakah diukur dengan konsumsi masyarakat, makan nasi aking masuk kategori miskin? Bagaimana bila nasi aking tersebut sudah jadi tradisi masyarakat setempat? Inilah pertanyaan yang sering menyelimuti karena setiap wilayah punya situasi sosio-kultural beda.

Namun, sesungguhnya ada tiga indikator utama, yaitu: akses kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur. Ketiga indikator inilah yang harusnya jadi perhatian. Contoh menarik bagaimana tiga indikator ini dipenuhi, yakni Belanda. Negara kecil ini bisa menyejahterakan rakyatnya karena akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur jadi fokus mereka. Pembangunan tiga pilar ini membuat Belanda jadi negara sejahtera dan berkeadilan.

Belanda pun mendapatkan hasil dari kerja keras mereka. Berdasarkan survey UNDP pada 2009, Belanda duduk di peringkat enam terbaik sebagai best place to live di dunia. Belanda juga jadi negara paling menyenangkan di dunia bedasar hasil polling Gallup. Siapa pun pasti bermimpi untuk bisa sejenak tinggal di Belanda untuk menikmati bumi manusia ini. Penuh canda-tawa dan kehangatan penuh toleransi serta kondisi lingkungan nan asri seperti cerita Hersri Setiawan tentang sebuah taman di Kockengen dalam karyanya Aku Eks-Tapol.

Ditunjang dengan akses pendidikan yang memadai, kenyamanan di Belanda semakin nyata. Datang lah ke Belanda jika ingin sekolah (pendidikan tinggi) karena kau akan menikmati semua fasilitas yang ada tanpa ada diskriminasi. Tak perlu keluarkan uang terlalu banyak karena biaya pendidikan di sana cukup terjangkau. Bisa jadi lebih murah sekolah di Belanda daripada di tanah air yang sekarang sedang gemar mem-BHMN-kan universitas/institut negeri. Sampai-sampai ada kritik dalam buku karya Eko Prasetyo, Orang Miskin Dilarang Sekolah.

Akses terhadap kesehatan juga dapat pwerhatian serius Belanda. Hampir mustahil ada pengarang yang terbitkan buku ”Orang Miskin Dilarang Sakit” di negeri kincir angin ini. UNDP dalam Human Development Report 2010 menempatkan Belanda dalam posisi very high human development dengan peringkat tujuh terbaik. Bahkan, akses kesehatan ini mendapat indeks tertinggi dibanding pendidikan dan pendapatan. Dengan akses kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur yang baik, kualitas hidup warganya pun berkorelasi positif.

Tiga pilar ini lah yang membuat Belanda maju. Belanda jadi tempat nyaman bagi siapa pun yang hendak mencari ketenangan dan ingin melanjutkan studinya. Bahkan, juga bagi mereka yang hak-haknya dirampas karena alasan politik. Belanda ladang kebebasan berekspresi dan setiap manusia dihargai sama dengan martabat sederajat.

Apa yang hendak dicari di Belanda kalau begitu? Jika ingin hidup tenang penuh tolerasi, pergi lah ke Belanda. Jika ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, berangkatlah ke Belanda. Bukan berarti kita memandang sebelah mata negeri sendiri. Patutlah kiranya kita iri dengan kenyamanan di Belanda. Bukan sekedar berpangku tangan, tapi berusaha keras agar negeri kita bisa serupa. Kenyamanan dan ketenangan di Belanda bukan datang seketika, tapi melalui kerja keras. Ini lah wujud terima kasih manusia terhadap kehidupan seperti kata Pramoedya Ananta Toer dalam karyanya Bumi Manusia, “berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.”

Tulisan ini dimuat dalam Kompetiblog 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s