Abadi dengan Tulisan

Posted: 2 Mei 2011 in Arbiter
Tag:, , , , , , ,

“Menulislah sedari SD, apa pun yang ditulis sedari SD pasti jadi.” Pramoedya Ananta Toer

Siapa di negeri ini yang tak kenal RA Kartini? Bisa dipastikan, semua kenal pejuang emansipasi perempuan ini. Namanya jadi sebuah lagu perjuangan. Hari lahirnya tiap 21 April diperingati sebagai Hari Kartini secara nasional. Bahkan, Belanda mengabadikan namanya sebagai nama jalan. Namun ada pertanyaan besar dibalik Kartini. Apakah benar RA Kartini jadi pioneer gerakan emansipasi perempuan di Indonesia pada awal abad ke-20?

Berdasar catatan sejarah, Kartini bukanlah perempuan pertama yang memperjuangkan emansipasi perempuan di Indonesia. Dewi Sartika mengawali gerakan emansipasi perempuan melalui pendidikan setahun sebelum Kartini mendirikan Sekolah Kepandaian Puteri pada 1903. Dari perspektif perjuangan di lapangan, Christina Martha Tiahahu, Cut Nyak Dien, dan Cut Meutia merupakan tokoh perempuan terdepan dalam menentang kolonialisme di medan pertempuran.

Apa penyebab Kartini jadi tokoh pioneer emansipasi perempuan di Indonesia? Kartini lebih dikenang karena korespondensinya dengan Ny. Abendanon dan teman-teman lainnya di Belanda yang berisi protes atas diskriminasi terhadap perempuan di Indonesia. Korespondensi tersebut kemudian dibukukan dan diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Tak bisa dipungkiri, Kartini jadi tokoh sentral emansipasi perempuan karena ia menulis. Tulisannya menginspirasi kaum perempuan untuk terus perjuangkan kesetaraan gender.

“Kartini pernah mengatakan: mengarang adalah bekerja untuk keabadian,” ujar Kommer dalam novel karya Paramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa.

Kartini dikenang dengan segala kelebihan dan kelemahannya. Kepasrahan terhadap poligami sering jadi serangan balik untuk “menggugat” ketokohannya dalam memperjuangkan kesetaraan gender. Namun, hal itu tak sedikit pun menggoyahkannya namanya karena ia abadi bersama semua tulisannya. Ide brilian yang ia tuangkan dalam kata-kata (korespondensi) membangun kesadaran kaum perempuan tentang haknya. Idenya mampu melampaui zaman dan menimbulkan perubahan sosial terkait emansipasi perempuan.

Apa yang terjadi pada Kartini bisa jadi perumpamaan bagi Belanda. Belanda bisa maju sedemikian rupa seperti saat ini diawali dengan hal kecil, menulis atau mencatat. Negara paling menyenangkan, indeks pembangunan manusia yang tinggi, akses pendidikan memadai, dan prestasi dunia lainnya yang diaraih Belanda berawal dari menulis. Mereka sadar bila ingatan manusia secara individu atau kolektif terbatas. Karena itu, agar bisa ditelusuri jejaknya, catatan atau tulisan jadi hal penting. Pemikiran Descartes tak akan bisa mengubah dunia dengan renaissance bila ia tak menulis ide rasionalitasnya. Hukum internasional tak akan ada bila Grotius tidak menuangkan isi kepalanya dalam tulisan. Serta, ilmuwan Belanda lainnya tak akan pernah dikenang bila mereka tak menulis.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah,” tegas Minke dalam salah satu Tetralogi Pulau Buru, Rumah Kaca, karya Pramoedya Ananta Toer.

Jangan pernah remehkan suatu tulisan. Belanda bisa seperti saat ini karena generasi masa lalu dan sekarang mereka rajin menulis, bukan sekejap bak sulap, simsalabim . Mereka menulis setiap ide agar bisa dikembangkan dikemudian hari oleh generasi mendatang. Sekecil apa pun itu, tetap perlu ditulis agar kesalahan masa lalu tak terulang kembali. Juga untuk memudahkan ketika hendak ambil keputusan karena sudah ada pijakan dari masa lalu.

“Dalam hal administrasi, tiru dan belajarlah dari Belanda,” cerita paman pada ku mengulang pesan kakek kepadanya ketika masih remaja.

Tulisan ini dimuat dalam Kompetiblog 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s