Mengecap Sastra, Meraih Kemajuan

Posted: 2 Mei 2011 in Arbiter
Tag:, , , , , ,

“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.” Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia.

Sastra sangat erat dengan kemajuan suatu negara. Begitu juga Belanda. Negeri mungil ini bisa punya prestasi mendunia karena gunakan sastra sebagai pondasi pembangunan. Sastra jadi “makanan pokok”, bukan sinetron yang menina-bobokan dan membunuh nalar. Dengan sastra, Belanda dibangun oleh warganya hingga seperti sekarang. Sastra jadi alat bagi Belanda untuk melakukan national building sebagai pondasi dasar sebuah bangsa.

Sastra tak bisa lepas dari sistem pendidikan Belanda sejak dulu. Menurut sastrawan Taufik Ismail, para siswa Algemeene Middelbare School, sekolah zaman Hindia Belanda pada awal abad ke-20, wajib membaca 15-25 karya sastra dan kemudian mendiskusikannya dalam kelas. Tradisi ini berhenti di Indonesia, tapi tetap berlangsung di Belanda. Apresiasi karya sastra dapat mengasah perasaan, nalar, kepekaan sosial, lingkungan, dan lingkungan para siswa. Karena itu, membaca dan mengapresiasi karya sastra jadi pekerjaan rutin siswa di Belanda.

Besarnya apresiasi sastra bisa dilihat dari antusiasme masyarakat Belanda. Max Havelaar karya Multatuli yang menceritakan tentang kesengsaraan rakyat Hindia Belanda akibat penerapan cultuurstelsel jadi bacaan wajib bagi siswa sekolah di Belanda sejak dekade 1980-an. Padahal, ketika awal penerbitannya dianggap karya perusuh. Bahkan pada Februari lalu, Pemerintah Kota Amsterdam memperingati 150 tahun Max Havelaar. Sebaliknya, di negeri yang pernah Multatuli bela, suara Max Havelaar nyaris tak terdengar, malah dibungkam. Beberapa karya Pramoedya Ananta Toer jadi bacaan wajib siswa di Belanda.

Dengan apresiasi sastra, intellegence, emotional, dan spiritual quotient siswa semakin terasah. Hasilnya, mutu pendidikan Belanda tinggi. Tak heran bila prestasi mendunia dapat diraih negeri mungil ini. Human Development Index 2010 mereka di peringkat tujuh terbaik dunia. Negara nomor satu di dunia untuk aksesibilitas pendidikan tinggi. Negara paling menyenangkan di dunia dan ranking enam The Best Place to Live 2009, juga prestasi dunia lainnya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satunya duduk di ranking enam negara yang berorientasi pada teknologi.

Tingginya daya imajinasi pelajar Belanda menjadikan mereka bisa menciptakan ide-ide “gila” dan pemikiran alternatif. Barangkali, Belanda akan musnah dari peta dunia bila para intelektualnya tak punya pikiran “nakal” untuk membendung lautan. Penghormatan terhadap kelompok minoritas bakal tiada bila kepekaan sosial mereka tak terasah. Mereka tak bakal hormati alam dengan aksi nyata jika tak berkesadaran lingkungan tinggi. Semua kemajuan berawal dari mimpi dan khayalan. Karakter dan jati diri sebagai bangsa Belanda terbentuk melalui sastra. Dari sastra, Belanda membangun negara dan bisa hebat seperti sekarang. Ditunjang keberanian untuk menulis, Belanda semakin melesat jauh ke depan.

Karakter merupakan pondasi dasar bagi sebuah kemajuan bangsa. Karena itu, hampir semua negara maju menerapkan sistem pendidikan wajib membaca karya sastra bagi siswanya. Inilah rahasia kemajuan pendidikan Belanda yang mampu mengembangkan imajinasi pelajar. Mereka juga tak ingin generasi mudanya jadi manusia yang pandai, tapi tanpa rasa.

Belanda maju karena mengapresiasi sastra dengan sungguh-sungguh. Sastra jadi bagian penting dalam sistem pendidikan dan pembentukan karakter generasi penerus. Selayaknya kita membudayakan kembali apresiasi sastra seperti era kolonial untuk menciptakan generasi yang penuh dengan imajinasi dan kepekaan sosial. Bukan sekedar menciptakan orang pandai tanpa rasa.

Tulisan ini dimuat dalam Kompetiblog 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s