Ketua MUI Haramkan Penghormatan terhadap Bendera

Posted: 22 Maret 2011 in Sosial-Budaya
Tag:, , , , , , ,

Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH A. Cholil Ridwan mengharamkan umat Islam untuk memberi hormat kapada bendera dan lagu kebangsaan.

Pernyataan Cholil ini dimuat dalam Tabloid Suara Islam edisi 109 (tanggal 18 Maret-1 April 2011). Ia menjawab pertanyaan pembaca dalam Rubrik Konsultasi Ulama. Si pembaca mengangkat kasus seorang temannya yang dikeluarkan dari sekolah gara-gara tak mau hormat bendera saat upacara.

Cholil menyatakan bahwa dalam Islam, menghormati bendera memang tak diizinkan. Cholil merujuk pada fatwa Saudi Arabia yang bernaung dalam Lembaga Tetap Pengkajian dan Riset Fatwa pada Desember 2003 yang mengharamkan bagi seorang Muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan.

Ada sejumlah argumen yang dikemukakan.

Pertama, memberi hormat kepada bendera termasuk perbuatan bid’ah yang tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah ataupun pada Khulafa’ ar-Rasyidun (masa kepemimpinan empat sahabat Nabi).

Kedua, menghormati bendera bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan keikhlasan di dalam mengagungkan Allah semata.

Ketiga, menghormati bendera merupakan sarana menuju kesyirikan.

Keempat, menghormati bendera merupakan kegiatan yang mengikuti tradisi yang jelek dari orang kafir, serta menyamai mereka dalam sikap berlebihan terhadap para pemimpin dan protokoler-protokoler resmi.

Cholil juga mengutip Syaikh Ibnu Jibrin (salah seorang ulama terkemuka Saudi) yang menyatakan bahwa penghormatan bendera adalah tindakan yang menganggungkan benda mati. Bahkan tindakan itu bisa dikategorikan sebagai kemusyrikan.

Sedangkan Syaikh al Fauzan (juga ulama Saudi) menyatakan bahwa tindakan menghormati bendera adalah ‘perbuatan maksiat’.

Menurut Cholil, cara menghormati yang benar dalam Islam adalah memberi salam. Namun, tulisnya lagi, makna memberi salam adalah mendoakan, sehingga itu tak pantas dilakukan pada bendera yang merupakan benda mati.

Di akhir tulisan, Cholil menyatakan bahwa bila kita hendak menghormati negara, maka cara terbaiknya adalah dengan mendengar dan taat pada aturan negara yang tidak bernilai maksiat dan sesuai syariat Islam serta mendoakan aparatur negara agar selalu mendapat bimbingan Allah.

Pernyataan Cholil ini kembali menunjukkan satu persoalan besar Islam di Indonesia. Cholil adalah seorang tokoh terpandang yang pendapat-pendapatnya diyakini banyak pihak. Posisinya sebagai Ketua MUI tentu juga memungkinkan ia mempengaruhi perilaku umat Islam.

Masalahnya, ia begitu saja merujuk pada para ulama Saudi yang dalam khazanah intelektual Islam justru dianggap terbelakang. Gaya pemahaman keislaman di negara itu selama ini dikenal sangat kaku, literal, mengabaikan perjalanan panjang tradisi pengkajian keagamaan dunia Islam, serta anti-dialog dan diskusi. Sampai sekarang, misalnya, kaum perempuan di negara itu masih diharamkan untuk mengendarai mobil akibat adanya fatwa ulama.

Argumen-argumen yang dikeluarkan sangat bisa diperdebatkan. Misalnya, bahwa dengan menghormati bendera, seorang muslim dianggap akan terkikis keimanannya nampak absurd di kalangan yang mau menggunakan akal. Cholil sendiri begitu saja menerima fatwa tersebut, tanpa ada hasrat untuk membicarakannya atau mengkajinya secara kritis.

Bila begini kualitas pernyataan Ketua MUI, tentu bisa dibayangkan kualitas umat seperti apa yang akan berkembang.***

Sumber Foto: mtafm.com, fachrurro21.wordpress.com

Sumber: Dikutip tanpa editing dari sini

————————————————-

Sebagai bentuk perimbangan atas artikel di atas, saya coba tautkan info lainnya yang diyakini sebagai sumber asli. Bukan bermaksud apa-apa, agar kita semua tahu konteks berita/artikel di atas. Tabik!

Menghormati Bendera, Bolehkah?

KH. A Cholil Ridwan, Lc
Ketua MUI Pusat, Pengasuh PP Husnayain Jakarta

Assalamu’alaikum. Semasa sekolah di Solo ada teman dikeluarkan dari sekolah karena tak mau hormat bendera saat upacara. Bagaimana hukum hormat bendera? Wassalam.

Sugiyarto, HP. 02196845094

Jawaban:
Mengenai hukum menghormati bendera, sejumlah ulama Saudi Arabia yang bernaung dalam Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiah dan Riset Fatwa (Lajnah ad Daimah li al Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al Ifta) telah mengeluarkan fatwa dengan judul ‘Hukum Menyanyikan Lagu Kebangsaan dan Hormat Bendera’, tertanggal 26 Desember 2003. Dalam fatwa tersebut dijelaskan bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan dengan alasan:

Pertama, Lajnah Daimah menilai bahwa memberi hormat kepada bendera termasuk perbuatan bid’ah yang harus diingkari. Aktivitas tersebut juga tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah saw ataupun pada masa Khulafa’ ar-Rasyidun. Kedua, menghormati bendera negara juga bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan keikhlasan didalam mengagungkan hanya kepada Allah semata.

Ketiga, menghormati bendera merupakan sarana menuju kesyirikan. Keempat, penghormatan terhadap bendera juga merupakan bentuk penyerupaan terhadap orang-orang kafir, mentaklid (mengikuti) tradisi mereka yang jelek serta menyamai mereka dalam sikap berlebihan terhadap para pemimpin dan protokoler-protokoler resmi. Padahal, Rasulullah Saw melarang kita berlaku sama seperti mereka atau menyerupai mereka.

Sementara itu, dalam buku Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, dijelaskan bahwa jika yang dimaksud dari hormat bendera adalah sebuah bendera yang sedang berkibar maka penghormatan semacam ini adalah perbuatan yang tidak diperbolehkan karena bendera adalah benda mati dan dalam penghormatan terdapat unsur mengagungkan. Sedangkan pengagungan tidaklah diperbolehkan untuk makhluk hidup. Lalu bagaimana lagi dengan benda mati yang tidak bisa memberi manfaat, tidak pula bisa mendengar?.

Jika cara penghormatan tersebut adalah ekspresi dari pengagungan terhadap benda mati maka hal itu termasuk kemusyrikan. Jika yang dimaksud dengan hormat bendera adalah menghormati orang yang membawa bendera atau semisalnya maka cara penghormatan yang benar adalah dengan ucapan salam bukan dengan yang lainnya.

Syaikh Shalih al Fauzan ketika menjawab pertanyaan seorang Kepala Sekolah apakah dia harus mengikuti instruksi untuk mengadakan upacara dan menghormati bendera, beliau menjawab: “Tidaklah diragukan bahwa ini adalah perbuatan maksiat sedangkan Nabi mengatakan, ‘Tidak ada ketaatan kepada makhluk jika untuk durhaka kepada sang pencipta’ (HR Ahmad). Jika anda memungkinkan untuk menghindari acara tersebut dan tidak ikut menghadirinya maka lakukanlah”.

Menurut Islam, penghormatan itu disyariatkan kepada sesama muslim dengan cara menyampaikan salam. Allah Swt berfirman, “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. an Nisa [04]: 86).

Rasulullah Saw bersabda, “Maukah kutunjukkan kepada kalian suatu amalan yang jika kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai. Amalan tersebut adalah sebarkanlah ucapan salam di antara kalian”.

Ucapan salam hanya diberikan kepada sesama kaum muslimin. Ucapan salam tidaklah diberikan kepada benda mati, lembaran kain atau semisalnya karena makna ucapan salam adalah doa agar terhindar dari mara bahaya atau salam merupakan salah satu nama Allah. Dengan ucapan salam tersebut seorang muslim mendoakan saudaranya agar mendapatkan kebaikan dan keberkahan.

Sedangkan yang dimaksud dengan hormat bendera pada saat ini adalah berdiri dalam rangka memuliakan dan mengagungkan bendera. Inilah yang difatwakan oleh Lajnah Daimah sebagai perbuatan yang haram karena ‘berdiri’ di sini dilakukan dalam rangka pengagungan.

Jika ada yang mengatakan bahwa dengan menghormati bendera berarti kita menghormati simbol negara, maka jawabannya adalah kita menghormati negara dengan cara yang diajarkan oleh Allah. Yakni dengan mendengar dan taat pada aturan negara yang tidak bernilai maksiat dan sesuai syariat Islam serta mendoakan para aparatur negara agar selalu mendapatkan bimbingan dari Allah. Wallahua’lam bisshawab.

Sumber: dikutip tanpa proses editing dari Suara Islam Online

Iklan
Komentar
  1. Ma Sang Ji berkata:

    tapi belum resmi fatwa MUI ‘kan?
    kontroversial gini kayaknya jadi ramai deh

    • arief setiawan berkata:

      Belum sih…tapi tetap saja, bisa jadi kontroversi. Pokoknya jangan sampai keluar fatwa seperti: golput itu haram. Yap, kayak sebelum pemilu kemarin:(

  2. M berkata:

    artikel asli di madina online sudah diblokir sejak 40 menit yang lalu. Madina online sendiri belum bisa diakses.

  3. Setia negara berkata:

    Jangan sampe pak kiyai.. ikut2an.. pengalihan isue… bikin topik baru neh…?

  4. arief setiawan berkata:

    wah, saya baru tahu ini. Padahal saya hanya copas dari madina online dan sudah disebut sbg sumber. Trims buat infonya atas sumber (link) aslinya^^

  5. adhi berkata:

    Ini masih pendapat pribadi cholil..
    Tapi posisi dia yg menjabat ketua MUI jadi berita. 😀

    Smoga aja ini hanya berhenti sbagai pendapat pribadi, dan tdk dilanjutkan menjadi fatwa MUI.

    • arief setiawan berkata:

      bener mas..andaikan beliau bukan ketua MUI, pasti tak akan timbulkan kontroversi meski itu pendapat pribadi.

  6. rabiulawal1406 berkata:

    MASYAALLAH
    baru tau dengan jelas,tapi kan yang penting niat kita maksud saya sekedar hormat dan ga’ lebih dari itu

  7. Agus Hari Ageng berkata:

    semua kembali kepada niatnya………, lha kalo sedikit2 bid’ah……, apa bisa ummat Islam sekarang menjalankan kehidupan spt masa lalu…yang jauh dari teknologi?

  8. delta ops berkata:

    Klo emang ga mau hormat ama bendera, TOLONG bgt tinggalkan negeri ini… Indonesia bukan negara Islam, bukan Arab pula…

    Jangan mengeluarkan fatwa2 seenak jidatnya… pake LOGIKA ya, FATWA buatan manusia, n manusia bukan TUHAN, so jgn berlaku seenaknya mengatasnamakan TUHAN dll….

    Jadi skali lg, MUI, FPI, Teroris2 skalian, segera tinggalkan Indonesia klo emang ga mau tunduk ama Pancasila sebagai dasar negara…. Jangan dirusak dengan syariat2 atau fatwa2 GAK PENTING! Masih banyak urusan lain yg lebih penting…

    Dasar orang Indonesia… memeluk agama gak pake LOGIKA dan bisanya cuma itu2 aja…

    • arief setiawan berkata:

      Arab Saudi saja punya punya bendera koq…ini masih pendapat pribadi, bukan MUI. Tapi karena ybs ketua MUI, ya begini jadinya….

      Salam, tabik!

  9. Y A Imanisha berkata:

    Hadeeeuh…cape deh! Siapa yang menghormati benda bendera dan lagu kebangsaan?
    Hayyyaaah..itu simbol negara kan? La masa mau mendoakan negara tiap kali pake helikopter dari sabang sampe merauke?
    Hayyaah…
    Pak MUI,paling tidak seruannya itu bukan ditambah haram tapi,” hai umat kalau sedang konsentrasi bangga dan ingat negara tolong sambil ucapkan doa doa baik untuk negara kita, itu fatwa MUI !”
    Koq ga bisa bedakan makna tersirat ya? Jadiii..

    • arief setiawan berkata:

      Ya, doa agar negara ini bisa keluar dari segala persoalan yg terjadi. Tapi ga ckp dg doa saja, hrs usaha.

      Salam, tabik!

  10. Sudah jelas Fatwa itu didasari Qur’an dan Sunnah. “Cinta tanah air adalah sebagain dari iman” itu hadits maudu/palsu.

    Islam sudah sempurna, tidak perlu ditambahi tradisi-tradisi baru. Jangan beragama dengan logika, kalo dengan logika maka akan terjadi perpecahan dalam agama karena isi kepala tiap orang beda-beda. Semoga ALLAH memberi petunjuk kepada kita semua. Allahul Musta’an.

    O iya, kalo ingin mematahkan fatwa dari ulama, sebaiknya sekolah dulu, hafal qur’an&hadits dulu, belajar dulu hingga ilmu kita melebihi mereka. So kata-kata kita akan didengar karena ilmu yg kita miliki.

    Maaf, tapi kebenaran harus dikatakan walaupun pahit.

    Barrakallahu fiik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s