Pertemuan: Nietzsche (3)

Posted: 1 Februari 2011 in Arbiter
Tag:, , ,

Goncangan besar setelah bertemu tiga orang mengesankan itu masih tersisa. Malam yang semakin larut belum juga mampu merobohkan tubuhku. Bayangan mereka masih terngiang diantara jepitan hawa dingin menusuk dan nyamuk. Terbayang bagaimana mereka menyampaikan pesan tentang berbagai macam hal. Sungguh jaddi pengalaman tak terlupakan sampai kapan pun. Namun, waktu jualah yang berkuasa. Tubuh ku pun roboh juga dengan sendirinya. Aku pun terkapar karena lelaah dan beban pikiran yang terus bergelanyut.

Tak seperti biasanya, aku terbangun di kala fajar menyingsing. Hanya sempat lelap sejenak saja. Kurang dari standar kesehatan seperti yang sering diutarakan para ahli. Matahari masih tampak malu untuk menyatakan dirinya kepada semua. Aku pun memutuskan menyusuri jalanan, ke pasar yang kebetulan tak terlalu jauh. Aku berjalan kaki saja ke sana. Ya, hitung-hitung ini sebagai olah raga sembari menikmati hawa segar udara pagi. Tak ada macet maupun bau polusi seperti biasanya. Hanya ada satu ada dua suara kendaraan bermotor yang melintas.

“Ada pembunuhan…Ada pembunuhan..Tolong…Tolong…,” teriaak seorang berusia setengah baya dengan jenggot tebalnya. Dia Nampak sekali ketakutan dengan kejadian yang ia lihat. “Siapa dibunuh, dan siapa pembunuhnya?” tanyaku sembari mencoba menenangkannya. Nafasnya masih terengal-engal karena berlari kencang untuk menjauh dari pasar. “Dia dibunuh. Tuhan telah mati. Dia dibunuh ramai-ramai di pasar,” ujarnya dengan air muka lemas. “Sangat mengenaskan. Pembunuhnya bukan kawanan binatang, tapi segerombolan manusia dengan segala moralitasnya,” imbuhnya.

Aku hanya bisa terkesima mendengar cerita dia tentang kejadian di pasar yang membuatnya panik itu. Aku hanya bisa berpikir maksud orang ini tentang pembunuhan tadi. Tak percaya dengan ceritanya karena berdasar kepercayaan tertentu hal itu mustahil terjadi. “Benarkah hal itu?” tanyaku. “Percayalah anak muda. Itu benar-benar terjadi. Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku sendiri. Aku tidak berbohong kepadamu,” tutur orang itu dengan penuh keyakinan. “Tak berguna aku berbohong kepada orang lain,” tuturnya lirih.

Langsung saja aku menyeret orang setengah baya tadi ke tempat agak sepi untuk menayakan perihal kejadian itu. Aku takut akan terjadi apa-apa bila tak segera menepi. Dalam tempat aman tersebut, ia bercerita kronologi peristiwa itu. Setelah bercerita, laki-laki itu kemudian memperkenalkan diri. “Namaku Nietszche. Freidrich Wilhelm Nietszche,” katanya. “Percayalah anak muda,” imbuhnya lirih. Aku hanya bisa terpaku. Seolah-olah mengalami déjà vu karena aku pengalaman sebelumnya, dua kali.

Bersambung cz idenya masih sampai disini…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s