Sekarang, aku tidak punya ibu, tidak ada nenek untuk membujukku yang selamanya mengagumiku — tidak ada Sarinah yang dengan tekun menjagaku.” Sukarno dalam Penyambung Lidah Rakyat.

Sarinah. Nama ini sudah tak asing lagi di telinga kita. Paling tidak, nama ini mewakili suatu kebudayaan metropolis di pusat keramaian ibukota. Berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk masyarakat kota, Mall Sarinah. Pusat perbelanjaan di jantung ibukota ini bukanlah sekedar nama tanpa sejarah. Pahit-getirnya pergeseran makna nama “Sarinah” telah ia rasakan sejak sebelum negeri ini merdeka.

Sarinah punya arti tersendiri bagi presiden pertama kita, Sukarno. Bagi Sukarno, Sarinah bukanlah orang biasa meski dia berprofesi sebagai pelayan keluarganya. Sukarno menaruh hormat bagi perempuan desa ini, sangat dalam. Sukarno menempatkannya dalam jajaran orang yang sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya.

“Dialah yang mengajarku untuk mengenal cinta-kasih. Aku tidak menyinggung pengertian jasmaniahnya bila aku menjebut itu. Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata,” ujar Bung Karno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat.

Ajaran cinta kasih Sarinah kepada Sukarno sangat melekat hingga menjabat sebagai Presiden RI. Sukarno tak pernah melupakan jasa Sarinah atas pelajaran hidup selama ia diasuh semasa kecilnya. Ajaran Sarinah berpengaruh terhadap pemikiran besar Sukarno ketika ia dewasa. Terutama soal kemanusiaan, Sukarno benar-benar menyelami apa yang pernah Sarinah katakan padanya. Dengan menggabungkan ajaran Gandhi dan Sarinah, Sukarno merumuskan semangatn nasionalismenya, “my nationalism is humanity.

“Karno, yang terutama engkau harus mencintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mentcintai pula rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya,” terang Sarinah kepada Sukarno kecil seperti yang diceritakan dalam biografi yang ditulis Cindy Adams itu.

Bimbingan Sarinah kepada Sukarno kecil membawanya pada pemahaman soal kemanusiaan yang kompleks. Sukarno pun menggelitik persoalan tabu pada zamannya, kesetaraan gender. Sukarno menuangkan gagasan kesetaraan tersebut dengan sebuah karya untuk mengenang gurunya. Pada 1947, Sukarno menerbitkan buku yang didalamnya banyak bercerita tentang pentingnya perempuan dalam membangun negara-bangsa, yakni Sarinah.

Terlepas tokoh Sarinah itu imajiner atau tidak seperti halnya Marhaen, cita-cita kesetaraan gender sangat kentara. Bukan berarti Sukarno merupakan tokoh awal perjuangan kesetaraan gender karena gerakan tersebut sesungguhnya sudah lahir sejak awal abad ke-20 yang digawangi kaum perempuan sendiri, seperti: Rohana Kudus, Dewi Sartika, dan Kartini. Laki-laki dan perempuan merupakan kekuatan tak terpisah. Harus berjalan seiring sejalan dengan kesetaraan di antara keduanya.

“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya se-ekor burung. Jika dua sayap itu sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai kepuncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali,” tutur Sukarno mengutip Baha’ullah dalam bukunya, Sarinah.

Atas jasa besar itu, sebagai penghormatan, Sukarno membangun sebuah pusat perbelanjaan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Nama pengasuhnya tersebut dipakai sebagai identitas pusat perbelanjaan itu, “Sarinah.” Gedung tersebut dibangun pada 23 April 1963 dan diresmikan 15 Agustus 1966, terlambat hampir setahun dari rencana awal yang ditargetkan selesai 22 Desember 1965. “Sarinah” dibangun untuk memenuhi keinginan rakyat, barang murah dengan kualitas bagus dan terjamin.

“Janganlah ada manusia yang mengira, bahwa departement store (Sarinah) adalah proyek lux. Tidak!” tegas sukarno ketika menjawab para pengritik pembangunan gedung tersebut.

Pergeseran Makna

Makna Sarinah ternyata tak bisa lepas dari konteks sosial-politik. Lahirnya rezim Suharto pada 1966 telah mengubah “sakralitas” Sarinah sebagai sebuah nama. Sarinah tak lagi bermakna dalam sebagaimana Sukarno menghormatinya. Tenggelam dalam giat politik rezim despotik yang berusaha mengaburkan segala sesuatu yang berbau Sukarno dan sosialisme.

Masih melekat kuat dalam ingatan tentang siapa itu Sarinah. Pasar malam di lapangan kecamatan yang selalu ramai pengunjung dengan berbabagi hiburan di masa kecil ku dapat jadi gambaran. Sarinah bukan lagi sosok penuh dedikasi terhadap kemanusiaan seperti yang digambarkan Sukarno. Makna sesungguhnya dari nama Sarinah ditenggelamkan hingga titik nadir.

“Sarinah pergi ke pasar.” Begitu lah yang dikatakan para pawang dalam hiburan topeng monyet di pasar malam. Sarinah diidentikkan, maaf, dengan monyet yang selalu menghibur anak-anak itu. Politik bahasa digunakan untuk menggeser arti Sarinah yang sesungguhnya. Saya pribadi sangat yakin, para pawang tersebut tak tahu bagaiamana politik kata-kata penguasa rezim Suharto telah merasukinya. Mereka hanya diperalat oleh rezim.

Begitu pula departement store di jalan MH Thamrin tersebut. Tempat yang awalnya bertujuan agar barang pasar naik kelas sudah tak sesuai lagi dengan cita-cita ketika didirikan. Pusat perbelanjaan Sarinah bukan lagi milik rakyat yang ingin barang murah dengan kualitas bagus. “Sarinah” sudah jadi gaya hidup elit karena apa yang dijual di sana harganya selangit, hanya untuk kalangan tertentu saja. Bukan lagi pasar tradisional dengan tempat istimewa.

Mengembalikan makna “Sarinah” pada tempat semestinya bukanlah perkara mudah. Butuh waktu panjang untuk mengenang kembali “romantisme” sebuah nama besar dalam perjalanan sejarah. Sarinah bukan lagi panggilan gantungan hidup pawang pertunjukkan topeng monyet. Sarinah bukan lagi tempat peminggiran rakyat. “Sarinah memberiku humanisme,” kata Sukarno dalam biografinya.

Referensi

Adams, Cindy. Bung Karno, Penjambung Lidah Rakjat

Ini Sarinah Bukan Dakocan

Kata Mutiara Bung Karno

Sejarah Mall Sarinah

Sukarno, Sarinah, dan Wanita

Sumber gambar: ini dan ini

Dimuat juga di Kompasiana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s