Bagian 1 Seri Melawan Jalan Tol

Matahari masih terlelap di peraduan, sang fajar belum menyingsing. Tak seperti biasanya, aku pun harus segera membuyarkan semua mimpi yang menghampiri. Bergegas ke kamar mandi, melawan hawa dingin yang masih membekap. Brrr…

“Mengapa pagi sekali?” Ini bukan soal terlalu pagi atau tidak, tak ada pilihan lain karena harus mengikuti jadwal yang ada. “Jadwal siapa yang diikuti tuh?” Ya, siapa lagi kalau bukan si ular besi (KA Argo Parahyangan) yang punya hobi menggilas bumi hingga lumat biar sampai di Bandung tak tersengat panas matahari (biar bisa lebih cepat ketemunya, hehehe).


Banyak yang mempertanyakan soal kebiasaan ketika ke Bandung harus ku lakoni. Pertanyaan tersebut berkisar soal moda transportasi yang ku gunakan. Mereka banyak bertanya mengapa selalu naik kereta api ketika ke Bandung, pergi-pulang lagi. “Ga naik trevel saja? Kan sekarang banyak trevel ke Bandung dan lebih cepat sampai tujuan?” Begitu lah pertanyaan dominant yang sering menghampiri.

“Di kereta, aku banyak disuguhi pemandangan. Aku bisa melihat gunung, kabut, lembah, sawah, desa, jurang, dan sungai dengan begitu jelas. Aku bisa menikmati perjalanan dan mata ku bisa refreshing, tak sekedar melihat tanaman beton menjulang seperti di Jakarta.” Begitulah kira-kira jawaban ku. (lebay ya? Hehe)

Kereta api memang tak jadi primadona seperti dulu lagi ketika harus bepergian ke Bandung atau sebaliknya. Jalur yang pernah jadi primadona golongan elit Belanda ini “kalah” dengan jalan tol (cipularang) yang menawarkan kecepatan. Penuh sesak penumpang di kereta hanya jadi sejarah ketika banyak yang beralih moda transportasi. Kereta api bukan lagi primadona, tapi aspal hitam pekat Tol Cipularang jadi penggantinya.

Sangat beda ketika melintas di tol dengan ikut serta menggilas bumi di atas batangan baja. Di kereta, hawa sejuk pegunungan bisa dinikmati dengan seksama. Mata pun tak lelah karena dedaunan memberikan obat bagi lelahnya mata. Tak hanya melihat kendaraan yang beradu cepat di jalanan.

“Bu, itu apa? Mobil-mobilnya kelihatan jelas ya Bu. Sungainya dalam sekali, jurang ya? Kita lewat gunung ya Bu” Begitulah celoteh seorang balita yang dipenuhi rasa ingin tahu tentang pemandangan yang ia lihat ketika di kereta. Celoteh tanpa henti karena matanya melihat sesuatu nan indah dan permai. Bisa jadi hiburan juga meski pun agak berisik…(ngga, ngga koq dik…Terus tanya saja *batal tidur deh..).

“Sebentar lagi kita lewat terowongan,”terang sang Ibu kepada anaknya yang kebetulan mereka duduk di kursi tepat di belakang ku.

Alternatif dari Jakarta ke bandung memang lebih banyak. Melintas di jalan raya pos (via Puncak) atau kereta api atau tol cipularang. Ingin menikmati perjalanan atau sekedar melihat kecepatan kendaraan “pesaing” di jalanan. Melihat hijaunya pegunungan dan sawah terhampar atau beradu cepat tanpa kesan.

Tak terasa, setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam, Stasiun bandung sudah di depan mata. Tak sabar hati untuk segera menginjakkan kaki di kota tempat lahirnya pemikiran besar Sukarno ini. Pastinya dan paling ditunggu, tak sabar untuk segera bertemu seseorang yang menyambutku dengan senyuman paling indah. Aku datang….:)

Sumber gambar: ini, ini, dan ini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s