Garuda Tak Berwarna Kuning

Posted: 19 Januari 2011 in Politik
Tag:, , , , , , , , , , , ,

Kejuaraan Piala AFF akhir tahun lalu menyisakan sejuta kebanggaan. Kekalahan di babak final dengan agregat 4-2 atas Malaysia bukan ukuran kesuksesan perjuangan Tim Nasional. Dukungan tanpa lelah suporter dan masyarakat Indonesia jadi acuan keberhasilan itu. Semua bangga oleh gegap-gempita suporter dan perjuangan keras pemain meski menelan kekalahan dari negeri jiran.

Perjuangan Timnas menuju babak final bukanlah jalan mudah tanpa liku. Berbagai kepentingan ternyata mencoba memanfaatkan popularitas Timnas yang saat penyisihan begitu perkasa. Banyak pihak mempertanyakan adanya upaya politisasi oleh salah satu partai politik dengan “memaksakan” aktivitas di luar kepentingan pemain. Semua hanya bisa menduga dan memang sangat mudah untuk mematahkan kecurigaan itu.

Dugaan politisasi Timnas akhirnya “diakui” juga. Siapa lagi kalau bukan oleh Ketua Umum PSSI sekarang, Nurdin Halid. Ketua umum yang sesungguhnya tak diiinginkan keberadaanya oleh para suporter sepakbola nasional, tapi tetap keukeuh untuk tetap berkuasa. Tanpa malu, dia menyatakan bilamana keberhasilan Timnas saat itu karena jasa Partai Golkar. Partai penyokong rezim Suharto dengan despotismenya. Benarkah itu fakta yang sesungguhnya terjadi?

Semua memang bisa saja mengklaim keberhasilan Timnas atas jasa mereka. Lainnya hanya sekedar bertepuk tangan saja. semua berhak untuk menyatakan itu meski hanya bualan saja. Perusak mengaku sebagai pahlawan walaupun punya andil tapi bukanlah satu-satunya. Bahkan, apa yang dikatakan Nurdin Halid tersebut pada dasarnya kontras dengan fakta yang terjadi di lapangan. Malah sebaliknya, politisasi olahraga telah merusak nilai sportivitas dan kejujuran.

Pernyataan Nurdin Halid tentang jasa Partai Golkar atas keberhasilan Timnas dalam Piala AFF membuka memori masa kecil tentang partai berbendera kuning ini. Semua pembangunan yang dilakukan di Indonesia kala itu diklaim karena jasa Golkar. Tanpa Golkar, pembangunan fisik tak akan pernah ada. “Golkar lah yang membangun jalan raya ini,” ujar seseorang kepada ku sekitar 15 tahun silam sembari menunjuk hitam pekat aspal jalanan.

Terserah Nurdin mau mengatakan apa saja soal Timnas. Dugaan saya, apa yang ia lakukan pada dasarnya hanya upaya untuk menutupi ketidakberdayaannya dan menunjukkan adanya backing politik atas kedudukannya di PSSI. Partai Golkar tak ada kaitannya dengan Timnas. PSSI pun tak pernah dianggap punya jasa atas hal itu oleh mayoritas suporter. “Kita ga dukung PSSI. Kita dukung Timnas euy (apalagi dukung Partai Golkar – penulis),” kata seorang teman ketika menceritakan sikap suporter ketika mendukung Tim Merah Putih di Stadion GBK.

Bendera kuning bukanlah apa-apa dibandingkan dukungan masyarakat Indonesia. “Garuda” bukan milik beringin atau besar karena jasanya. Timnas milik kami, bukan berteduh di bawah pohon beringin. Bendera kuning tak pernah ada di dada selayaknya “Garuda”. Timnas moncer bukan karena jasa pohon beringin. Sampai kapan pun, “Garuda” tak akan berwarna kuning karena mereka milik kami, rakyat Indonesia.

Turunkan Nurdin Halid! Hidup Timnas Indonesia!

Sumber gambar: ini dan ini

Komentar
  1. Rizky mengatakan:

    makasih link back nya..🙂

  2. rime mengatakan:

    kenapa sekalian klaim bahwa “Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan padahal sumber alamnya sudah dikuras habis” juga karena jasa Partai Golkar?

    aneh-aneh aja bapak-bapak itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s