Saat itu sedang pelajaran IPS. Anton yang saat ini duduk di kelas 5 pada sebuah sekolah dasar (SD) di pelosok meperhatikan dengan cermat. Sang guru kali ini menerangkan soal ketatanegaraan di Indonesia. Anton dengan bersungut-sungut tanpa sedikit pun lengah menyimak semuanya.

“Indonesia adalah negara kesatuan berbentuk republik. Kepala negara dan kepala pemerintahannya dipegang oleh seorang presiden,” jelas sang guru.

Kemudian Anton terusik oleh penjelasan tersebut. Ia teringat ketika menonton berita tentang demonstrasi di Bangkok, Thailand. Demonstrasi oleh kaos merah terkait kepala pemerintahan di Thailand yang dipimpin oleh perdana menteri.

“Bu, di Thailand itu kepala pemerintahannya koq perdana menteri. Namun, di Indonesia koq kepala pemerintahannya presiden juga?” tanyanya dengan kritis.

Bu guru pun menjelaskan dengan detil pertanyaan tersebut. Ia menjawab pertanyaan Anton dengan sabar karena hal itu memang sangat baik. Anton pun akhirnya mengerti soal perbedaan tersebut.

Kemudian, Bu Guru menjelaskan kembali soal ketatanegaraan di Indonesia. Ia menerangkan siapa saja pejabat yang duduk di posisi penting negara ini. Mulai dari presiden hingga beberapa menteri. Sekedar sebagi pengetahuan dasar saja supaya bisa mengenal Indonesia lebih dekat lagi.

Agar tak mudah lupa, Bu Guru pun memberikan kuis kepada muridnya. Ya, tebak-tebakan. Siapa cepat angkat tangan berarti dia berhak menjawab. Tentu saja, iming-iming bonus nilai siap diberikan bilaman jawaban benar. Salah pun tak masalah karena proses pembelajaran tidak mengenal benar atau salah.

“Siapa presiden Indonesia sekarang?” Tanya Bu guru kepada semua muridnya.

Dengan sigap Anton pun langsung unjuk jari. Bu Guru mempersilahkannya untuk menjawab karena ia yang pertama kalinya mengajukan diri.

“Aburizal Bakrie Bu,” jawab Anton dengan lantang.

“Salah! Ayo lainnya?” tanggap Bu Guru atas jawaban itu.

“Apa buktinya kalau salah Bu,” sela Anton tak menerima penilaian Sang Gurunya.

“Presiden Yudhoyono yang benar. Buktinya, beliau terpilih secara demokratis dalam Pemilu 2009 lalu. Dia bersama Boediono terpilih sebagi Presiden dan Wakil Presiden,” paparnya.

Anton hanya angguk-angguk saja. Sejurus kemudian, dia mengajukan jawaban lagi. “Kalau Presidennya Yudhoyono, mengapa dia tak berani tegas kepada PT Lapindo yang telah menenggelamkan Porong, Sidoarjo. Malah pemerintah jadi tamengnya.” Tanyanya dengan penuh semangat.

“Juga, mengapa Presiden Yudhoyono tak juga berani ambil sikap dalam kasus dugaan korupsi oleh Gayus? Padahal, dalam kasus tersebut diduga perusahaan milik Aburizal terlibat didalamnya. Mengapa tak disentuh secara hukum? Apa takut Bu?” imbuhnya.

Bu Guru pun hanya bisa diam. Seisi ruang kelas mendadak senyap. Tanpa suara sedikit pun. Tetes air jatuh dari atap barangkali bakal bisa membuat kelas itu bergemuruh. Semua terhenyak dengan pertanyaan Anton yang menukik itu.

“Benar katamu nak. Indonesia saat ini memang sedang krisis kepemimpinan. Aku paham maksudmu. Presiden Indonesia secara de facto saat ini memang dia. Pak Yudhoyono hanyalah secara de jure. Dia memang Presiden, tapi tak punya kuasa sama sekali ketika berhadapan dengan Bakrie,” paparnya dengan penuh sesal.

“Apa yang terjadi di Sidoarjo memang salah satu buktinya. Kita harus iri dengan AS yang presidennya begitu gigih membela rakyatnya yang terkena dampak minyak akibat pengeboran minyak di Teluk Meksiko oleh BP. Presiden Yudhoyono, malah sebaliknya,” imbuhnya dengan sedih.

Seisi kelas pun menyimak dengan seksama. Mereka selama ini, sejak kelas 1-4, hanya dapat jawaban normatif ketika berhadapan dengan pelajaran IPS. Semua murid kagung pada Bu Guru satu ini. Muda, cantik, cerdas, dan senantiasa menawarkan alternatif baru yang tak pernah diberikan sebelumnya.

“Tak salah bila kalian mengatakan Presiden Indonesia (secara de facto) saat ini Aburizal Bakrie. Tak salah karena kenyataannya memang begitu. Tapi ingat, kalau Ujian Nasional, jangan jawab seperti itu. Jawab saja seperti yang ditulis di buku,” kata Bu Guru.

Setelah kelas usai, murid-murid pun langsung keluar ruang kelas. Ya, memang waktunya istirahat. Gambar Presiden dan Wakil Presiden yang terpampang di depan kelas terus mengawasi mereka. Seolah-olah tak ingin anak-anak tersebut kelak ketika tumbuh jadi subversif. Namun, anak-anak tersebut tak hirau dengan itu.

“Semoga anak-anak ini membawa perubahan besar di negeri ini. Tak compang-camping lagi seperti sekarang,” harap Bu Guru dalam hati.

*Mengais tumpukan sampah harapan….

Sumber gambar: ini

Komentar
  1. DariPalangkarayaMenggugatDiBalikLayar mengatakan:

    Bahasa sang guru mungkin lebih baik disederhanakan lagi sehingga lebih mengena dengan setting sekolah dasar. Agar tidak berkesan dipaksakan alias lebay.

  2. Aku mengatakan:

    Masa ada anak kls 5 sd yg berpikiran sperti itu…masa ibu guru tdk memakai bhs indo yg baek n bnr (dia memakai kata aku, bkn saya)…kalau bikin cerita yg lbh msk akal lg ya, walau pesan dr cerita sdh ckp jelas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s