Seringkali kita mengatakan kalau pendidikan Islam saat ini mengalami kemunduran. Realitas nyata atas hal itu banyak dijumpai di negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam, terutama di belahan bumi selatan. Realitas ini tak dapat dipungkiri karena keadaan tersebut memang sudah jadi kenyataan di depan mata. Namun, apakah kemunduran itu datang dengan sendirinya? Tidak. Pasti ada penyebab kondisi tersebut lahir.

Tulisan A Fatih Syuhud di blognya sangat menarik dan bisa jadi rujukan sederhana untuk menggambarkan kondisi asimetris itu. Artikel berjudul Kemunduran Pendidikan Islam tersebut secara tegas menyatakan, penyebabnya yaitu kemiskinan dan keterbelakangan ekonomi. Di satu sisi, dalam artikel lain yang berjudul Pendidikan di Era Keemasan Islam, persoalan ekonomi ini tak disinggung. Komparasi masa sekarang dan era keemesan Islam jadi sulit dilakukan karena tolok ukurnya beda. Pertanyaan pun muncul, apakah kebebasan berpendapat dalam konteks keilmuan sudah dan dukungan pemerintah tak ada di zaman sekarang?

Kemiskinan dan keterbelakangan ekonomi merupakan musuh bersama. Kondisi tersebut harusnya dilenyapkan guna mengangkat martabat manusia dan kemanusiaan. Sayangnya, banyak hal yang memungkinan situasi demikian sulit untuk diwujudkan. Banyak tantangan yang harus dihadapi agar semuanya bisa berakhir sehingga tercipta suatu tatanan dunia yang adil. Oleh karena itu, penjelasan tentang mengapa kemiskinan dan keterbelakangan ekonomi negara mayoritas penduduknya muslim tersebut perlu diurai.

Tanpa adanya uraian tentang penyebab disparitas itu muncul maka penanganannya hanya dalam level permukaan saja. seperti halnya ketika hendak mengentaskan kemiskinan tanpa menyelesaikan akar penyebab utamanya. Millenium Development Goals (MDGs) dapat jadi contoh. Harus diakui, MDGs memang sangat bagus, tapi upayanya hanya bersifat kuratif saja tanpa menyentuh akar persoalan. Sistem lebih besar tak tersentuh sehingga program tersebut bak memotong rumput di musim penghujan. Mati satu tumbuh seribu.

Kemiskinan dan keterbelakangan ekonomi bukanlah sesuatu yang given. Keadaan tersebut merupakan konstruksi mereka yang memunyai kekuatan lebih. Karena itu, menyalahkan kemiskinan sebagai biang masalah tak akan memecahkan persoalan. Pembongkaran struktur yang tak adil merupakan upaya nyata dan harus dilakukan. Langkah awal yang bisa ditempuh bisa dengan membongkar paradigma inferioritas. Revolusi paradiigmatik terhadap diri sendiri yang kemudian bisa disebarkan ke lainnya.

Bacaan terkait tentang ketimpangan struktur:
1. Utang dan Pengentasan Kemiskinan
2. Pasar Bebas dan Kemiskinan Struktural
3. “Sang Pemimpi”: Potret Indonesia Masa Kini
4. Ideologisasi Tubuh
5. THE NEW RULES OF THE WORLD: Ironi Indonesia (Resensi Film)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s