“Saya siap dipanggil timnas ataupun tidak sebab saya ingin bermain secara profesional dalam tim. Oleh karena itu, saya tidak peduli dengan ancaman itu,” kata Irfan Bachdim menanggapi ancaman PSSI. Lelah atas teror PSSI jadi pemicu keputusan Irfan mengabaikan ancaman dicoret dari Timnas. Ditambah lagi dengan kentalnya nuansa politik di dalam sepakbola Indonesia. Ia pun hanya ingin bermain sepakbola dan menciptakan gol. Tak lebih dari itu.

Apa yang sedang terjadi saat ini bisa jadi semacam tamparan keras bagi PSSI. Arogansi PSSI ternyata tak mempan untuk menghambat keinginan pemain. PSSI tak lagi sakti sepanjang pengurus sekarang terus bercokol di tampuk kekuasaan organisasi sepakbola ini. Dalam bahasa politik, PSSI saat ini sedang mengalami defisit legitimasi yang bisa membuatnya jadi macan ompong. Shock therapy seperti inilah yang harus dilakukan untuk mengubur arogansi induk organisasi sepakbola ini. Arogansi harus dilawan dengan berbagai macam cara.

Krisis legitimasi yang dialami PSSI direspon dengan tindakan koersif. Ancaman terhadap klub dan pemain yang berlaga di LPI digelindingkan para pengurus terasnya. Mereka mengira obat untuk meredam “pemberontakan” itu dengan cara mengancam. Ternyata tak ampuh. Ancaman tersebut hanya dianggap angin lalu oleh klub dan pemain. Apa boleh buat, PSSI hanya bisa gigit jari. Selama tak berbenah, hanya itu yang bisa dilakukan: mengancam dan gigit jari. PSSI tak lagi punya daya selain menggunakan tindakan koersif.

“Nurdin Halid harus mundur!” Inilah teriakan para suporter sepakbola di Indonesia. Mereka menginginkan agar Ketua Umum PSSI dua periode ini mundur dari jabatannya. Nurdin dianggap gagal memimpin PSSI karena miskin prestasi dan dalam kepengurusannya banyak terjadi deviasi. Salah satu contohnya, PSSI bisa dikendalikan dari jeruji besi oleh sang ketua umumnya dengan dalaih statuta PSSI. Sangat aneh sebuah organisasi besar dipimpin dari hotel prodeo. Hanya PSSI saja yang bisa melakukan aksi ini.

Berbagai teriakan untuk perubahan di tubuh PSSI terus dikobarkan. Pengurus PSSI sekarang harus mundur. Tanpa itu, sepakbola Indonesia akan jalan di tempat, bahkan mundur. Inilah cita-cita mayoritas pecinta sepakbola di tanah air. Tak mungkin untuk terus mempertahankan pengurus PSSI yang dikenal arogan ini. Tak sebanding bila menyandingkan Nurdin Halid dengan Ketua Umum PSSI 1982-1983 Sjarnoebi Said. Dengan ksatria, karena gagal dalam pra-olimpiade 1983, ia mundur dari jabatannya. Nurdin? Ia tetap tuli dan terus ingin jadi penguasa PSSI.

Nurdin harusnya meniru pendahulunya, Sjarnoebi Said. Mundur dengan legowo karena merasa gagal membawa Indonesia meraih prestasi. Bisa juga meniru apa yang dilakukan Ancelotti. Pelatih Chelsea berdarah Italia ini merasa dirinya tak layak lagi melatih melatih klub Inggris ini. Sangat jauh berbeda dengan Nurdin Halid. Barangkali, pembangkangan seperti yang dilakukan Irfan perlu dilakukan oleh klub dan para pemain. Mari kita mulai melakukan pembangkangan terhadap PSSI dengan cara masing-masing.

Hidup sepakbola nasional! Turunkan Nurdin!

Sumber Gambar: ini dan ini dan ini

Iklan
Komentar
  1. rizkianto berkata:

    bukti yang shahih bahwa krisis kepemimpinan di Indonesia telah mencapai sebuah fase yang kronis…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s