Kami Tak Takut Stigma: Yogyakarta Tetap Istimewa

Posted: 20 Desember 2010 in Politik
Tag:, , , , , ,

“Ketika saya memberi makanan kepada orang miskin, mereka sebut aku orang suci. Ketika aku bertanya mengapa orang miskin tidak punya makanan, mereka menyebut saya seorang komunis” (Dom Helder Camara)

Upaya membendung keinginan rakyat Yogya dilakukan dengan banyak hal. Salah satunya dengan melakukan stigmatisasi pada gerakan yang dibangun masyarakat Yogya. Mereka menstigma gerakan tersebut dengan cap komunisme. Meniru gerakan a la Partai Komunis Indonesia pada era 1950-1960-an. Padahal, siding rakyat pada 14 Desember lalu hanya sekedar menyampaikan aspirasi.

Anggota DPR Ruhut Sitompul dan mantan rector UGM Ichlasul amal bersuara demikian. Mereka memandang, gerakan yang dibangun rakyat Yogya dengan Sidang Rakyat tak ubahnya dengan cara PKI dulu. Mantan rector UGM ini menilai, cara rakyat Yogya menyampaikan aspirasinya seperti pengalaman PKI dulu. Suatu cara untuk mem-fait-accompli keputusan agar mendukung mekanisme penetapan otomatis Sultan sebagai gubernur Yogyakarta.

Tak ubahnya Ichlasul, Ruhut pun berkicau demikian. Seolah-olah dia teringat lagu genjer-genjer yang sering dinyanyikan massa PKI. Dia merasa sedang berada di tengah kerumunan massa di Halim pada 1965 yang menyanyi lagu rakyat tersebut. “Lihat demo kemarin aku ingat waktu tari genjer-genjer waktu di Halim tahun 1965. Seperti orang tari genjer-genjer tahun 1965,” ujarnya seperti yang dikutip Rakyat Merdeka Online (14/12).

Apa boleh buat. Gerakan rakyat Yogya ditempeli sedemikian rupa untuk dilemahkan. Meski apa yang dikatakan Ruhut soal nyanyian Genjer-Genjer di Halim hanya kebohongan belaka, stigma tersebut terus ditempel. Padahal, di Halim pada saat peristiwa 30 September tak pernah ada upacara seperti yang Ruhut katakan. Dia hanya membual saja meski tak disertai fakta sejarah sesungguhnya.

Stigmatisasi PKI pada gerakan rakyat Yogya bukanlah tanpa maksud. Perlu diingat, bangsa ini masih phobia dengan PKI atau komunisme. Stigma PKI atau komunis selama ini dipandang paling efektif untuk membendung gerakan rakyat. Siapa yang kritis berarti dia PKI atau komunis. Inilah senjata “pembunuh” efektif ketika rezim Suharto berkuasa. Narasi seperti ini hendak dibangun guna membunuh gerakan rakyat Yogya.

Sangat tak waras bila mengaitkan komunisme dengan dengan gerakan rakyat Yogya untuk menjaga keistimewaan. Tak ada kaitan sama sekali, ini hanya upaya stigmatisasi. Upaya untuk mencegah datangnya simpati dari rakyat dari penjuru lainnya. Sebuah langkah untuk mematikan sebuah gerakan massif untuk keistimewaan Yogya. Mereka menyamakan dengan PKI atau komunisme bukanlah tanpa tujuan. Dugaan saya, itu didasari oleh masih terpeliharanya stigma atas PKI atau komunisme di Indonesia.

Membunuh gerakan rakyat Yogya sangat lah sulit. Karena itu, stigma pun dilakukan meski alatnya sangat dangkal. Model seperti ini mengingatkan kembali pada saat rezim Suharto berkuasa. Mereka dengan gampang mengecap semua gerakan rakyat dengan stigma komunis. Akibatnya, apa pun boleh dilakukan terhadap gerakan tersebut karena adanya stigma tersebut. Sangat aneh di era reformasi seperti sekarang tapi masih saja menggunakan cara lama untuk meredam gerakan rakyat.

Tak masalah stigma itu hadir. Tak usah digubris berbagai komentar miring tersebut. Mereka hanya melihat Yogya satu sisi saja, demokrasi sebagai tujuan, bukan alat. Lebih hebat lagi, mereka gunakan cara stigmatisasi untuk mematikan langkah bersama rakyat Yogya dan pendukungnya. Pertunjukkan baru dengan acar lama sedang dimulai. Langkah yang sudah berjalan ini tak boleh berhenti begitu saja. Lupakan stigma, terus melangkah maju. Itu hanya riak kecil dan stigma tentang PKI atau komunisme hanyalah isapan jempol belaka.

Maju terus rakyat Yogya. Doa dan dukungan ku selalu menyertai kalian. Bersama kita jaga keistimewaan Yogyakarta. Yogya tetap istimewa selama NKRI masih ada. Bukan untuk pemilihan, tapi penetapan.

Sumber:
Narwaya, Tri Guntur. 2010. Kuasa Stigma dan Represi Ingatan. Yogyakarta: Resist Book
http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=11913
http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=11916
http://fokus.vivanews.com/news/read/194657-pengerahan-massa-mirip-pki-lahir-dari-kampus

Sumber gambar:
1. ini
2. ini
3. ini
4. ini

Iklan
Komentar
  1. Sencaki berkata:

    sebenarnya pemerintah pusat itu harus berkaca pada Jogja, lihat jogja tuh aman tata titi tentrem karta raharja, nggak pernah ada kerusuhan, pejabat-pejabatnya nggak banyak korupsi,
    Jogja, jogja, jogja istimewa untuk indonesia,,,,,,,,,,,,,,, salam.

  2. ade berkata:

    mari coba pikir pelan2, bila pada saat itu jogja tidak mau masuk NKRI atas bujukan Bung Karno, mungkin NKRI jadi lain ceritanya. NKRI yg masih bayi sangat terbantukan oleh bangsawan2 jogja. dengan kata lain jogja juga secara langsung tak langsung ikut membidani lahirnya NKRI, dng bukti beberapa kali ibukota pindah ke jogja & diberi perlindungan. Kita adalah bangsa yg sangat besar, bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai sejarah dan perjuangan para pahlawannya. berpikirlah kedepan, Indonesia adalah calon negara adidaya, seperti halnya cina dan india. utk menjadi negara adidaya indonesia hanya memerlukan ekonomi yg sangat kuat karena syarat2 lainnya ukt sebuah negara adidaya sudah terpenuhi. BANGKITLAH INDONESIA KU….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s