Indonesia Memerah…

Posted: 20 Desember 2010 in Arbiter
Tag:, , , ,


malam ini ia petik kecapi
bersama nyanyi
Ciliwung airnya merah
walaupun merah hidup tampaknya
kunanti bumi memerah darah
kuserahkan engkau kepadanya

-Kunanti Bumi Memerah Darah, Mawie Ananta Jonie-

Sore tak biasa di jalanan Jakarta menjelang semifinal second leg antara Indonesia vs Philipina. Warna merah menghiasi jalanan tanpa putus. Bukan ada kampanye atau pengerahan massa dari parpol, tapi ini beda. Mereka tak datang bergerombol, satu per satu. Siapa lagi kalau bukan suporter Indonesia yang hendah memerahkan Gelora Bung Karno (GBK).

Memerah. Inilah kata yang tepat untuk menggambarkan Jakarta sejak sore hingga tengah malam itu. Tak hanya Jakarta, tempat lainnya di seantero nusantara juga mengalami demikian. Dadanya memerah oleh semangat untuk memberi dukungan pada Timnas Indonesia meski dari jauh. Indonesia benar-benar bak kota mati saat itu. Semua mata terpana pada sekotak layer penghubung dunia.

Teriakan suporter tanpa henti menggema di dalam Stadion GBK. Vuvuzela versi Indonesia terus membuat telinga berdengung bak kawanan tawon yang sedang menyerang. Fantastis, semua itu melebihi mobilisasi massa ketika musim kampanye karena ini dasarnya sukarela. Tak sekedar hadir untuk mendapatkan sesuatu karena berisi pengorbanan penuh bagi suporter.

Tua-muda, orang tua-anak, dan pria-perempuan berbaur jadi satu dengan nama suporter Timnas. Mereka tak mengenal dia suporter mana. Entah Pasoepati, Jackmania, Viking, Bonek, atau apa pun. Mereka bersatu padu dengan meninggalkan rivalitas selama ini. Sungguh indah dan memesona kejadian ini.

Malam ternyata tak menyurutkan semangat. Pertandingan yang berhasil dimenangkan Indonesia membuat semua suporter larut dalam kebahagiaan. Warna merah membajiri jalanan Jakarta. Perempuan juga banyak ambil bagian dalam parade suporter Timnas. Sepakbola kini bukan hanya dominasi laki-laki, perempuan pun bisa.

“Banyak suporter perempuan yang duduk di kelas III ketika pertandingan. Mereka tak segan untuk berjingkrak bersama,” ujar seorang kawan menceritakan kiprah para perempuan ketika jadi suporter.

Indonesia memerah ini bukanlah akibat kerusuhan atau tindakan destruktif. Indonesia memerah karena semangat mendukung Timnas. Jangan sampai tafsiran memerah ini bermakna negative seperti yang terjadi pada Mawie. Karena puisinya, ia pun harus tak bisa pulang ke tanah air. Ini bukan rusuh. Indonesia harus terus memerah untuk kejayaan sepakbola negeri ini.

Ayo, merahkan lagi Indonesia pada 26 dan 29 Desember besok dalam final Piala AFF Indonesia vs Malaysia….

Sumber gambar: Kompas Image

Iklan
Komentar
  1. ageng berkata:

    Wih rame banget ya! Jadi pingin nonton langsung deh, kayaknya seru 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s