Kursus PSPB

Posted: 7 Desember 2010 in Politik
Tag:, , , , ,

Waktu zaman Sekolah Dasar, ada mata pelajaran cukup menarik. Pelajaran tentang sejarah negara dan bangsa Indonesia. Pasti semua ingat (tentu saja yang pernah mengalaminya:D) pelajaran itu. Ya, apalagi kalau bukan pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Pelajaran yang bagi beberapa orang cukup rumit karena harus hafalan. Namun, sebagian lagi menyukainya dengan sepenuh hati, termasuk saya dan ini terus terjadi sampai sekarang.

Masih ingat dalam ingatan buku PSPB kelas 3 yang saya miliki warnanya kuning dengan gambar sampul Pattimura. Juga ada lagi yang warna biru dengan gambar sampul Pahlawan Revolusi. Bedanya, yang biru ini buku PSPB kelas 4 (semoga ga salah, hehe). Semua buku ini menyajikan seputar sejarah Indonesia, baik pra maupun pasca kemerdekaan. Bahkan, dulu aku sering membawanya ke mana-mana karena jatuh cinta (ceile….lebay…). Itulah kenyataannya.

Seiring perjalanan waktu, PSPB dihapus dari kurikulum. Barangkali akibat penerapan kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) pada 1994. Meski demikian, PSPB bukannya dihapus sepenuhnya. Hanya berganti nama. PSPB bermetamorfosis ke asal-muasalnya, jadi mata pelajaran sejarah yang terintegrasi ke Ilmu Pengetahuan Sosial (zaman SD lho….). intinya, sampai kelas 4, PSPB masih diujikan di ujian EBTA, bukan EBTANAS (ini nama ujian nasional versi jadul).

Sejarah atau PSPB memberi banyak pencerahan soal negara-bangsa Indonesia. Perjuangannya penuh dengan dera air mata dan pengorbanan dalam beragam wujud. Tentu saja, terlepas dari distorsi yang baru ku sadari seiring perjalanan waktu. Namun, semua itu memberikan pemahaman tersendiri tentang Indonesia beserta manusianya. Pastinya, itu dalam berbagai konteks, seperti: sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Banyak hal yang bisa ditemukan darinya.

Perjalanan waktu memang sangat hebat dan dahsyat dampaknya. Banyak sejarah yang “didistorsi” di masa sekarang. Seperti halnya yang terjadi saat ini. Apalagi kalau bukan tentang sejarah “fusi” Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ke dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Gara-gara sebuah pidato, sejarah Kesultanan Yogya terangkat kembali ke permukaan. Semua tahu kan ini gara-gara ulah siapa (tau ah gelap!)? Semoga saja ini bukan peralihan isu kasus dugaan korupsi dengan tersangka Gayus Tambunan (hwaaaaa….).

Biar semuanya lebih jelas, tak ada salahnya bila buku sejarah sejak SD dibuka lagi oleh penguasa sekarang. Buku yang sudah lumutan itu patut dibuka lagi agar tak terjadi distorsi biar tak ada prasangka buruk (sudah capek, soalnya modalnya memang “bedak” citra satu trailer sih). Buku PSPB atau sejarah harus dibaca ulang oleh penguasa biar ga asal njeplak saja. Bagaimana pun juga, Yogya tetap Indonesia, tak boleh berubah hanya gara-gara pidato asal-asalan itu. Seharusnya, dia berkaca terlebih dulu. Siapa sih yang sebenarnya monarkhi itu? Membangun kerajaan politik dan menegasikan para wakil rakyat dari partainya untuk tunduk pada satu suara. Ya, kiranya sangat perlu sekali untuk kursus PSPB. ya, kursus PSPB. Biar tak lupa akar sejarah. Kalau perlu, masuk SD lagi biar belajar dari awal….(pissss pak BeYe….hehehe).

Sumber gambar: ini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s