Kembali Pada Lokalitas

Posted: 13 November 2010 in Sosial-Budaya
Tag:, , , , , , , , , ,

Sebulan terakhir, Indonesia disibukkan oleh dua fenomena alam yang sangat menggugah nurani: gempa dan tsunami, serta letusan gunung merapi. Kedua fenomena alam tersebut memunculkan banyak tafsiran makna, baik dalam perspektif lokal maupun “modern”. Dua sisi yang seringkali bertolak belakang akibat berbagai macam jenis “infilttrasi” pengetahuan.

Mentawai dan Yogyakarta. Dua tempat ini secara terus-menerus senantiasa muncul dalam pemberitaan media massa. Tentu saja, soal dampak dari aktivitas alam yang membuat manusia di sekitarnya harus berkompromi, mengungsi. Bahkan, korban jiwa berjatuhan akibat fenomena tersebut, juga harta benda.

Dibalik itu semua, ada sesuatu yang cukup menarik terkait “benturan” antara lokalitas dan modernitas, terutama dalam memaknai alam. Pandangan lokal mengatakan, alam punya jalan hidup sendiri, dan manusia harus beradaptasi dengannya. Sebaliknya, modernitas lebih menekankan pada paradigma alam itu “jahat”. Alam menghancurkan kehidupan masyarakat.

Bagi masyarakat sekitar lereng merapi, istilah bencana tak ada dalam kamus mereka. Tak ada cap negatif terhadap erupsi merapi atau, menurut kepercayaan lokal, Mbah Petruk marah atau murka. Alam punya ritme tersendiri dan mereka sadar akan bahaya tinggal di sekitar lereng merapi. Meski terus menebar bahaya, merapi tetap jadi sesuatu yang dijaga dan dihormati oleh masyarakat setempat.

Erupsi merapi yang terjadi sejak akhir Oktober lalu dan meluluhlantakkan beberapa desa, serta menimbulkan korban jiwa, masyarakat tak pernah marah kepadanya. Mereka sadar, dibalik erupsi tersebut akan menyimpan suatu pengharapan, tanah yang yang subur. ”Para petani rela tanaman rusak dan ternak mati akibat abu dan awan panas, rela mengungsi berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Tetapi, dalam hati muncul keyakinan kesuburan akan datang. Itulah doa pengharapan,” kata Romo Kirdjito (Kosmologi: Merapi Akan Terus Punya Makna, Kompas, 12/11).

Hal senada juga terjadi di Mentawai. Gempa dan tsunami yang terjadi di pulau sebelah barat Sumatera ini pada dasarnya sudah jadi sahat mereka. Bedanya, masyarakat asli Mentawai tak mengenal adanya tsunami. Mereka hanya mengenal gempa bumi yang dinamakan teteu kabaga. Bahkan, kedatangannya tak pernah ditangisi, malah dirayakan karena didalamnya ada pengharapan, musim buah dan ikan melimpah. Sejatinya mereka adalah masyarakat berburu dan meramu, serta tinggal di bukit tengah hutan.

Sangat kontras dengan amsyarakat Simeulue. Masyarakat di pulau ini lebih akrab dengan gempa dan tsunami. Kearifan lokal yang mereka miliki mengantarkannya pada kesadaran untuk senantiasa siaga. Terbukti ketika tsunami menerjam pantai barat Sumatera dan menghancurkan Aceh pada 26 Desember 2004. Korban jiwa sangat minim di pulau ini karena kearifan lokal menuntunnya sebelum menghancurkan semuanya. Pengalaman telah menuntun mereka untuk menghadapi fenomena alam ini.

Gempa dan tsunami pada 25 Oktober lalu yang meluluhlantakkkan Mentawai tak bisa dilepaskan dari penekanan kebijakan dengan nalar modernitas. Menafikkan sejarah dan meniadakan pengalaman kolektif masyarakat terhadap alam. Logika biner yang mengelompokkan masyarakat menjadi primitif dan modern pada era 1970-an jadi penyebabnya. Adanya Program Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Terasing menjadikan penduduk asli tersingkir. Termasuk berbagai jenis kearifan lokal yang turun-menurun dihayati.

“Pemerintah lalu mendatangkan perusahaan Hak Pengusahaan hutan (HPH) dan perusahaan perkebunan ke Kepulauan Mentawai. Hutan tak lagi jadi milik kami, sudah dikapling oleh pemilik modal,” kata Sarogdok (Suku Mentawai: Dipaksa Menerima Peradapan Baru, Kompas, 13/11).

Menurut beberapa antropolog, masyarakat Mentawai pada dasarnya tak mengenal tsunami. Kebiasaan mereka yang hidup di bukit tengah hutan tak pernah terdampak oleh terjangan tsunami. Mereka hanya mengenal air sungai pasang yang berarti harus pindah ke tempat yang lebih tinggi lagi. Menghindari luapan air yang sesungguhnya akibat dari tsunami. Namun, akibat salah urus kebijakan, pemaksaan untuk ke pantai tak bisa dihindari. Inilah awal dari lahirnya korban jiwa akibat gelombang tsunami.

Kembali ke alam dan bersahabat lagi dengannya. Itulah kunci untuk “menaklukkan” alam. Tak perlu lagi mengecap negatif fenomena alam karena hal itu pasti juga terjadi, tak mungkin dicegah. Manusia dengan akan budinya hanya bisa merekayasa agar dampaknya tak luar biasa. Kearifan lokal harus jadi acuan, bukan sekedar melakukan relokasi atau transmigrasi lokal. Bagi masyarakat lokal, tanah tak sekedar pijakan. Di atasnya juga mengandung sejarah dan kehidupan yang tak boleh putus begitu saja, apalagi mengaitkannya dengan azab atau laknat dari Sang Penguasa. Mereka sesungguhnya sadar atas bumi yang diinjaknya secara turun-menurun. Saatnya menyingsingkan lengan baju bersama, menuju kemanusiaan sejati, tanpa logika biner.

Referensi
http://cetak.kompas.com/read/2010/11/13/0413044/dipaksa.terima.peradaban.baru
http://cetak.kompas.com/read/2010/11/13/02430432/gempa.dari.berkah.menjadi.musibah
http://cetak.kompas.com/read/2010/11/12/05032345/merapi.akan.terus.punya.makna
http://cetak.kompas.com/read/2010/11/12/05041979/cangkringan.ke.mana.setelah.ini…
P. Cahanar (ed.), Bencana Gempa dan Tsunami Nanggroe Aceh Darussalam&Sumatera Utara
Jostein Gaarder, Dunia Sophie
Bertrand Russel, Sejarah Filasafat Barat
Michael Foucault, Sejarah Kegilaan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s