Petani, Obama, dan Hari Pahlawan

Posted: 12 November 2010 in Ekonomi-Politik
Tag:, , ,

“Soal Agraria adalah soal hidup dan penghidupan manusia, karena tanah adalah asal dan sumber makanan bagi manusia. Perebutan tanah berarti perebutan makanan, perebutan tiang hidup manusia. Untuk ini, orang rela menumpahkan darah, mengorbankan segala yang ada demi mempertahankan hidup selanjutnya.” (Moch. Tauchid, 1952)

kisah besar yang sekiranya bakal terukir ketika Oktober menutup diri. Kisah besar yang pasti datang adalah Hari Pahlawan pada 10 November. Patut terus dikenang untuk memperingati heroisme arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan. Selanjutnya soal kedatangan Presiden AS Barrack Obama ke Indonesia. Dua kali batal berkunjung ke Indonesia menyedot perhatian tersendiri. Seperti yang diakui Obama sendiri, ia pada dasarnya bagian dari Indonesia karena selama empat tahun pernah tinggal di Jakarta. Namun, dibalik itu semua ada sesuatu yang tersembunyi: dua orang petani dari Lampung dan Jambi meninggal akibat tembakan aparat kepolisian.

Ditengah gemuruh penyambutan Presiden Obama di Jakarta, Indonesia sesungguhnya sedang menangis. Dua orang pemilik sesungguhnya negeri ini gugur diterjang timah panas aparat. Mereka gugur ketika memperjuangkan hak-haknya sebagai petani. Apa lacur, daya tarik Obama ternyata lebih besar dibanding dua petani ini. Mereka pun pergi “sendirian” ke sisi-Nya, demi sebuah cita-cita yang besarnya: kesejahteraan petani. Inilah paradoks di negeri ini: mereka yang lemah terus ditindas oleh kekuatan modal dan “dilupakan” begitu saja.

Apa yang sedang terjadi di Jakarta ternyata kontras dengan tempat lainnya, Lampung dan Jambi. Hiruk-pikuk penyambutan Presiden Obama hanyalah artifisial saja. Ada sesuatu yang lebih besar terjadi terhadap dua orang WNI, kematian. Bukan sekedar kematian biasa, tapi mereka gugur karena mempertahankan haknya, tanah. Tentu saja, ini bukan soal siapa yang meninggal, tapi erat dengan bagaimana nasib bangsa ke depan. Mereka memperjuangkan reforma agraria yang sudah lama macet padahal, menurut Sukarno, rakyat tak bisa dipisahkan dari tanah yang mereka injak.

Ahmad. Nama ini akan selalu terkenang sebagi pejuang reforma agraria, minimal bagi komunitasnya di Jambi. Timah panas yang menembus dadanya pada 9 November kemarin telah menciptakan sejarahnya sendiri. Begitu pula yang terjadi pada Made di Lampung. Timah panas aparat kepolisian pada 6 November telah membuatnya harus mengakhiri perjuanganny, bukan semangatnya. Sungguh ironi ditengah gemuruh penyambutan Obama dan gegap gempita peringatan Hari Pahlawan. Pahlawan yang seharusnya dijunjung tinggi ternyata mendapatkan perlakuan tak semestinya. (lihat kronologinya di sini dan ini)

Bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s