Terlupa dari Sejarah: Musso

Posted: 9 November 2010 in Politik
Tag:, , , , , , , , , , ,

“Madiun sudah bangkit
Revolusi sudah dikobarkan
Kaum buruh sudah melucuti polisi dan tentara Republik
Pemerintahan buruh dan tani yang baru sudah dibentuk”

Pemberontak. Inilah kesan yang pertama kali ditangkap oleh sebagian besar bangsa Indonesia terhadap Musso. Label ini melekat setelah ia dituduh sebagai pemimpin pemberontakan PKI di Madiun pada September 1948. Namanya pun tenggelam di tengah arus sejarah Indonesia kontemporer. Perjuangannya selama pendudukan Belanda seolah-olah sia-sia akibat label pemberontak itu. Apalagi ditambah dengan komunisto-phobi yang masih melekat kuat pada bangsa Indonesia. Label PKI lah yang sesungguhnya mengubur semua sejarahnya di Indonesia.

Musso merupakan tokoh pergerakan legendaris yang sezaman dengan Tan Malaka. Keduanya sama-sama tokoh PKI, tapi berbeda pandangan dalam melihat peristiwa 1926. Tan Malaka menolak pemberontakan tersebut karena basis ide dan massa sebagai prasyarat memberontak belum terpenuhi. Namun, Musso berpendapat beda sehingga mereka pecah kongsi. Meski demikian, pergerakan mereka tak berhenti. Keduanya bergerak dengan cara beda, tapi nafas sama, komunisme.

Sejarah mencatat, Musso merupakan salah satu guru politik Sukarno ketika indekos di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya. Sukarno pun mengaku banyak belajar darinya, terutama soal marxisme. Musso tetaplah gurunya meskipun perbedaan politik nan tajam pernah terjadi di antara keduanya. Sukarno pun tak pernah mengelak soal keberadaanya. Ia tetap menaruh hormat kepada Musso seperti yang ditulis Cindy Adams dalam “Sukarno: Penyambung Lidah Rakyat”. “Ajaran Jawa mengatakan, seseorang yang menjadi guru kita harus dihormati lebih dari orang tua.”

Musso tetaplah Musso. Sejarah kelam yang ditulis rezim Suharto tentang orang-orang kiri membuat namanya hilang dalam ingatan sejarah. Hanya ditulis sebagai “pemberontak”, perongrong Pancasila dan UUD 1945. Sama halnya dengan Tan Malaka yang juga bernasib sama. Namanya pun dihapus dari sejarah pergerakan kemerdekaan dan diganti dengan doktrin-doktrin penuh kebohongan oleh rezim Suharto. Sejarah orang-orang kiri pun dihapus sedemikian rupa, seolah-olah mereka hanyalah pengotor saja.

Majalah Tempo edisi Senin, 8 November 2010 mengupas tuntas soal sang legenda ini, Musso. Dengan apik, Tempo membahas banyak hal soal diri mantan anggota Komintern asal Indonesia ini. mulai sejak masa kecil, pergerakan kemerdekaan, hingga anak-cucunya sekarang.

SI MERAH DI SIMPANG REPUBLIK

Banyak orang mengenalnya sebagai tokoh Partai Komunis Indonesia dalam pemberontakan 1926 dan 1948. Yang pertama aksi PKI menentang pemerintah kolonial Belanda. Yang terakhir gerakan PKI di Madiun, Jawa Timur, melawan pemerintah pusat.

Dialah Musso, anak Kediri yang ketika kecil dikenal rajin mengaji. Mendapat pendidikan politik ketika indekos di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, di masa-masa awal kemerdekaan sepak terjangnya tak bisa diremehkan. Peran politik Musso bisa disejajarkan dengan peran Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka.

Dia belajar politik di Moskow, Rusia, dan mengamati dari dekat strategi gerakan komunis Eropa. Ia bermimpi tentang negeri yang adil, setara, dan merdeka seratus persen. Ia memilih jalan radikal, bersimpang jalan dengan kalangan nonkomunis, bahkan juga kalangan kiri yang tak segaris. Tapi radikalisme itu tak membuatnya bertahan. Ia lumat dalam gerakan yang masih berupa benih. Akhir Oktober, 62 tahun lampau, Musso tersungkur.

Sumber: Majalah Tempo

Selanjutnya, lihat link di bawah ini:

Radikal Kiri Si Bocah Alim

Guru Politik Sang Proklamator

Pengkhianatan di Singapura

Bangkit Setelah Mati Suri

Bersuara dari Rusia

Kaum Merah dari Bawah Tanah

Kembalinya Sang Komunis Tua

Meniti Jalan Radikal

Sebulan Bersama Oude Heer

Suatu Malam di Proklamasi 56

Mitos Amerika di Kaki Lawu

Laga Pengalih Sebelum Madiun

Setelah Pistol Menyalak Tiga Kali

Soemarsono: Kami Tidak Memberontak

Misteri Surat untuk Sukarno-Hatta

Sapu Bersih Pasca-Madiun

Proklamasi Dini di Madiun

Hatta Kambing Hitam Madiun

Lunglai di Rawa Klambu

Tiga Dilepas demi Revolusi

Djalan Baru yang Kandas

Jalan Berliku Tuan Mussotte

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s