Bencana Alam: Tak Ada yang Salah

Posted: 8 November 2010 in Arbiter
Tag:, , , , , , ,

Tsunami, banjir bandang, gempa, dan letusan gunung berapi jadi sahabat kita akhir-akhir ini. Tak pelak, korban jiwa dan materi harus terjadi akibat ganasnya kekuatan alam tersebut. Ribuan bahkan ratusan ribu orang harus mengungsi untuk menghindari malapetaka. Semua berduka dengan keadaan ini. Indonesia pun berduka, dan dunia turut serta merasakannya dengan berbagai bentuk bantuan. Rakyat pun gotong royong membantu sesama tanpa pamrih.

Banyak orang berargumen soal malapetaka ini, terutama penyebabnya. Sebagian menyebut fenomena ini sebagai azab dari Tuhan. Akibat ulah pemimpin mereka yang tak amanah atau karena dosa besar yang telah dilakukan para korban. Sebagian lagi menganggap ini fenomena alam biasa, kecuali banjir. Alam sedang melakukan “aktivitas rutinnya” sehingga manusia harus “mengalah”. Manusia hanya bisa bagaimana berteman dengan alam dan segala misterinya.

Argumen pertama penyebab berbagai malapetaka tersebut, menurut mereka, didasari oleh teologi. Kisah hancurnya kaum sodom di masa Nabi Luth yang hancur akibat terjangan lava panas sering dijadikan rujukan. Begitu pula penenggelaman umat Nabi Nuh karena tak taat pada perintah-Nya. Kisah terseb ut seringkali disebutkan sebagai analoginya. Bahkan, ada yang mengatakan, semua bencana tersebut akibat kedatangan bintang film porno Jepang, Miyabi, ke Indonesia beberapa waktu lalu.

Beberapa tokoh agama pun berkaor-koar agar bangsa ini melakukan tobat nasional. Semua bencana adalah wujud azab atau laknat Tuhan kepada bangsa Indonesia. Entah akibat ulah pemimpin atau masyarakat sendiri. Tobat merupakan salah satu solusi agar bisa terbebas dari bencana. Benarkah? Bagaimana dengan masyarakat lereng Gunung Merapi yang memang harus selalu waspada dari amukan wedhus gembel? Bagaimana dengan Mentawai yang notabene memang daerah rawan bencana, terutama gempa dan tsunami?

Asumsikan saja argumen tersebut benar. Kemudian, ratusan pertanyaan tentang ini pun muncul dengan simultan. Mencoba mempertanyakan keabsahan argumen tersebut. Apakah benar adanya atau sekedar apologia teologis para pemilik kuasa tafsir keagamaan? Bila ini bentuk azab atau laknat, mengapa korbannya orang desa yang lugu dan tak banyak tingkah? Mengapa kota yang penuh dengan maksiat itu aman-aman saja? Sungguh tak adil bila semua ini dinilai karena azab.

Tak hanya itu saja. Beberapa ada yang mengaitkannya dengan ayat suci Al Quran. Mereka menyatakan, semua bencana tersebut pada dasarnya sudah diramalkan sebelumnya. Dengan berbagai macam jurus, mereka mengaitkannya dengan serasi, seolah-olah memang benar terjadi dan sudah diramalkan jauh sebelumnya. Inilah pendapat yang cenderung masuk pada opsi pertama dengan sejuta argumennya.

Sejak tsunami menyapu bumi Serambi Mekkah enam tahun silam, banyak spekulasi muncul terkait bencana di Indonesia. Paling dahsyat, ketika gempa meluluhlantakkan Tanah Minang setahun lalu. Mereka mengatakan, gempa tersebut pada dasarnya sudah diramalkan di Al Quran. Dengan mengutip ayat suci secara sepihak, mereka mengaitkannya secara rapi. Seorang kawan yang mempercayai “tahayul” ini pernah juga menyampaikannya pada ku. Sayangnya, ia tak mampu menjawab berbagai pertanyaan ku pada persoalan yang sama. Bagaimana dengan gempa Alaska, Chile, Bam, dan Tambora? Tak ada jawaban. Aku pun tak percaya pendapat seperti ini.

Kelompok kedua sangat menentang pendapat yang pertama. Semua bencana yang terjadi saat ini pada dasarnya hanyalah fenomena alam. Mekanisme alam untuk menemukan keserasiannya dalam sebuah proses evolusi. Tak ada kaitannya dengan teologi. Benar-benar fenomena alam dan penghuninya harus siap selama hidup di bumi manusia ini. Bukan azab atau laknat, tapi sebagai dampak proses panjang aktivitas alam raya ini.

Manusia tak bisa menghindar darinya. Manusia selama hidup di bumi manusia ini hanya bisa mengelolanya. Bagaimana bersahabat dengan alam seperti ketika harus menghadapi maut, tak ada pilihan. Persiapan. Hanya itu yang bisa dilakukan manusia untuk terhindar dari malapetaka besar. Manusia hanya mampu sebatas itu, hampir mustahil untuk bisa menaklukkan kehendak alam. Apalagi posisi Indonesia di area ring on fire. Tak cukup hanya dengan doa dan tobat. Harus ada berbagai kesiapan untuk “menyambut” aktivitas alam yang tak bisa diprediksi secara presisi ini.

Untuk itu, sebagai manusai biasa, aku hanya bisa berdoa semoga saudaraku semuanya yang jadi korban bisa diterima disisi-Nya. Hanya bisa mendoakan semoga yang ada di pengungsian bisa dikuatkan hatinya. Tak menyerah begitusaja dengan hanya menyebutnya sebagai takdir belaka. Mari genggam erat tangan mereka dengan memberikan bantuan sebisa mungkin. Sedikit bantuan kita bisa meringankan sedikit beban para korban yang tertimpa bencana.

Komentar
  1. barry algifari mengatakan:

    tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s