Malam Getir

Posted: 27 Oktober 2010 in Cerita
Tag:, , , , , ,

Malam seperti biasa. Tak ada firasat apa pun yang menyelubungi lubuk hati. Tak ada tangkapan sinyal apa pun tentang apa yang akan terjadi saat itu. Semuanya berjalan biasa saja. Tanpa ada sesuatu ganjalan. Seperti biasa, apa adanya.

Semakin larut aku bertarung melawan hawa dingin. Semuanya ku buat sesantai mungkin. Ya, seperti biasa tanpa berpikir sesuatu yang wah. Perlahan tapi pasti, aku pun mengikuti pemberitaan lewat internet di media online. Apalagi kalau bukan banjir dan merapi. Banjir ternyata tak sedahyat semalam (25/10). Namun, merapi justru sebaliknya, menampakkan keperkasaannya.

Pada suatu titik, aku menemukan suatu berita yang cukup meresahkan. Seorang wartawan Vivanews terjebak dalam awan panas Gunung Merapi. Nama wartawan itu sangat jelas, aku mengenalnya dengan baik. Yuniawan Wahyu Nugroho alias Wawan. Ia dikabarkan hilang kontak akibat “wedhus gembel” karena berusaha membujuk Mbah Maridjan agar bersedia dievakuasi.

Hati ku masih biasa saja. Biasa seperti sebelumnya, tak punya firasat apa-apa. Tiba-tiba seorang kawan mengirimkan pesan pendek. Sangat pendek, singkat sekali tapi menggetarkan hati. “Wartawan Vivanews meninggal di rumah Mbah Maridjan”. Sontak aku dibuat kaget olehnya. Hanya bisa berharap semoga bukan kawan ku satu itu. “Siapa lagi wartawan Vivanews yang ada di sana?” tanyaku sembari mengutak-atik berbagai pemberitaan tentang hal itu sebelumnya.

Langsung ku kontak kawan pembawa kabar itu. ‘Lihat di Metro TV, beritanya ada di situ”, ujarnya. Aku pun bergegas memastikan pemberitaan itu. Seorang kawan kos ku kabari berita ini dan ia pun langsung bergerak mengontak beberapa kawan lainnya. Juga memelototi tayangan di televisi berlogo elang tersebut.

Semuanya masih penuh dengan tanda tanya. Apakah benar kabar pesan pendek tadi? Sungguh, aku tak ingin memelihara ketidakpastian dalam kepastian atas informasi ini meski pengabar pesan pendek itu orang yang sangat ku percayai. Semuanya biasa berubah bilamana aku mendapat informasi berjenis A1 yang sekiranya bisa membantah berita itu. Ini yang sesungguhnya ku harapkan.

“KTP dan SIM nya ditemukan. Namanya sama,” ujar seorang kawan yang sedang mengamati berita dengan teliti. “Ya Tuhan, ampunilah dosanya. Semoga kau damai di sisi-Nya,” ucapku seketika. Nasib tak bisa diprediksikan sebelumnya. Aku pun dengan seksama mengamati juga. Apa daya, badan ku pun lemas seketika ketika televisi menayangkan SIM nya dengan jelas. “Ya, itu benar,” ucappku dalam hati yang sudah teriris itu.

Segera ku hubungi seorang kawan yang dulu jadi partner bersama ku dan mas Wawan. Tanpa peduli waktu, aku nekad menghubunginya. Aku sejatinya tahu kalau dia pasti sudah terlelap dengan mimpinya. Aku pun tak peduli dengan itu. Sambungan telepon diangkat. Aku pun langsung mengabarkan berita ini dan menyuruhnya untuk mengecek di televisi seketika itu juga. “Sekarang!” ketus ku.

Isak tangis terdengar jelas dari kawan yang ku hubungi. Aku mendapat kesan ia menangis dengan berita heboh itu. Tangisan itu pun ternyata benar. Ia mengakuinya di waktu berbeda. Aku hanya mendengar saja karena hanya akan menambah kesedihan saja bila cerita dilanjutkan. Lebih baik dia tahu sendiri soal itu agar tak terjadi multi-tafsir atas informasi yang ku berikan. “Ya, tonton sendiri saja di Metro TV saja. Mereka sekarang sedang running soal itu,”ucapku padanya untuk mengakhiri pembicaraan.

Semua kenangan bersamanya seketika muncul dihadapan. Aku sangat sedih sekali. Ketenangan, kesabaran, dan pengertiannya langsung muncul dihadapanku. Sebuah eppisode kenangan yang tak mungkin berhenti begitu saja. Apalagi baru seminggu lalu aku berkomunikasi dengannya. Sungguh membuatku semakin haru kala mengingatnya. Masih melekat kuat kenangan ketika bercengkerama santai menghadap jalan raya. Remuk-redam.

Kontak seminggu lalu itu masih kuat dalam ingatan. Permintaan yang tak bisa ku berikan karena memang aku tak sedang menguasai hal tersebut. Hanya bisa mengatakan berusaha mencarikannya karena aku ingat pernah menyimpannya, entah dimana. Maaf, ku katakan sekalai lagi, aku meminta maaf karena kau memang tak sedang menguasainya dan tak tahu dimana aku menyimpannya. Sungguh lupa setengah mati.

Setelah beberapa puluh menit, aku membuka media online kembali. Aku pun mendapatkan berita yang meluluhkan hati. Bukan isinya, tapi foto yang terpampang dalam berita tersebut. Tak terasa air mata menetes dengan cepat. Entah mengapa emosiku tiba-tiba dibawa lari ke dunia kenangan yang tak pernah tuntas itu. Lari melampaui kecepatan cahaya hingga membubarkan semua lamunan dini hari. Ya, aku menangis kala melihat fotonya terpampang jelas.

Seorang kawan menyapa ku dalam dunia maya. Ia melontarkan semua kesedihannya yang amat dalam. Mengalahkan dalamnya Palung Mariana di pasifik. “Dalam dua tahun, aku kehilangan dua orang sahabat, guru, dan teman: Mbak Vin dan Mas Wawan,” tuturku dalam kesedihan kepadanya. Ia pun bercerita tentang kontaknya kepadaku. Sekitar awal bulan ia terakhir kontak lewat dunia maya. “Si ‘A’ baru tadi sore (26/10) chatting dengannya dan meminta doa supaya baik-baik saja,” katanya padaku. Aku hanya bisa membayangkan perasaannya dengan berita ini. kuatkan hatimu kawan.

Ini hanya sekedar cerita episode malam hingga dini hari (26-27/10). Bukan bermaksud membuka luka bagi keluarga yang ditinggalkan, hanya ingin mempersembakan sebuah penghormatan terakhir. Semoga ia damai di sisi-Nya. Seluruh anggota keluarga dikuatkan hatinya untuk menerima cobaan ini. Siapa pun tak bisa lepat dari jerat kematian. Selamat tinggal Mas Wawan. Selamat jalan sahabat. Semua kenangan akan ku simpan untuk cerita kepada anak-anak ku kelak. Semoga kau damai di sisi-Nya. Jabat erat untuk mu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s