Maaf, Ia Bukan Pahlawan

Posted: 18 Oktober 2010 in Politik
Tag:, , , , ,

Siapa tak kenal Suharto sang mantan presiden ke dua Indonesia? Bisa dipastikan, semua mengenalnya, minimal pernah mendengar nama besarnya. Suharto berkuasa di Indonesia selama 32 tahun tanpa jedah. Kekuasaannya dibangun dengan darah dan air mata jutaan rakyatnya. Juga senyum puas para kolega, kroni, atau siapa pun yang menikmati rezim fasis-militeristiknya yang sempurna itu. Namun, dia sudah pergi selama-lamanya pada Januari 2008 lalu dan sekarang sedang ramai jadi bahan pembicaraan, termasuk di sini.:)

Usulan gelar Pahlawan Nasional bagi Suharto menimbulkan pro-kontra dallam di kalangan elit, tak luput juga masyarakat umum. Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso dengan senang hati menyambut kabar baik dan puas dengan adanya usulan tersebut(detik.com/18/10). Tentu saja hal ini tak bikin kaget. Siapa tak kenal Partai Golkar? Partai yang pada zaman rezim Suharto berkuasa bernama Golkar saja ini sejatinya pilar rezim fasis-militeristik Suharto. Jalur ABRI, Birokrasi, dan Golkar (ABG) merupakan soko guru 32 tahun kekuasaan Suharto. Tak aneh bilamana Partai Golkar menyambutnya dengan gembira.

Berbagai alasan mengemuka terkait usulan gelar pahlawan bagi Suharto. Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi mendukung usulan tersebut. Suharto ia nilai layak mendapatkannya karena berhasil memberantas komunisme sehingga Pancasila dan UUD 1945 bisa tegak. Ditambah lagi, Indonesia bebas jadi ancaman negara anti agama kalau komunis berkuasa (Kompas.com/18/10). Pendapat ini sepertinya tak menoleh kebrutalan rezim Suharto yang membantai jutaan rakyat yang dicap PKI. Dalil PKI anti agama juga mudah untuk dipatahkan. Siapa tak kenal Haji Misbach dan Tan Malaka? Dua orang tokoh komunis ini sangat jelas ke-theis-annya. Bahkan, seorang ulama, Kiai Sarman, jadi salah satu korban pembantaian tersebut karena dicap komunis (lihat di sini).

Penolakan bahwa Suharto menegakkan Pancasila dan UUD 1945 harus lah dilakukan. Apa yang dilakukan Suharto selama berkuasa ternyata sangat bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Serangkaian pembantaian di tanah air dari Sabang-Merauke merupakan bukti nyata penyelewengannya. Begitu pula dengan sikap diktator otoriter yang sangat bertentangan dengan sila ke-4 Pancasila. Apa sesungguhnya yang dibela Suharto kalau begitu? Hanya ada kata kejam dan tak berperikemanusiaan saja yang bisa mewakilinya.

Bila dikaitkan dengan penegakkan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, tak tepat juga hal tersebut dialamatkan pada rezim Suharto. Kekerasan di Aceh, Papua, Kedungombo, Nipah, dan lainnya adalah bukti nyata penyelewengan. Bilamana dikaitkan dengan komunisme, mereka tak ada sangkutpautnya sama sekali. Perlu diingat, warga Aceh merupakan masyarakat yang taat beragama. Istilah Serambi Mekkah untuk nama lain Aceh adalah bukti nyata. Begitu pula masyarakat Papua. Mereka harus menderita akibat buminya terus dieksploitasi dan untuk mengamankannya, rakyat Papua banyak yang jadi korban keganasan. Benar-benar menyelewengkan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

Dari perspektif politik, riangnya Golkar menerima usulan ini bisa punya dimensi lain, yaitu penghapusan dosa. Usulan gelar pahlawan ini, apalagi kalau sampai disahkan, bisa jadi semacam alat pembersih dosa selama 32 tahun. Artinya, bila Suharto pahlawan maka semua tindakan Golkar di masa lalu adalah benar. Tterbukti dengan adanya gelar kepahlawanan bagi sang mantan Ketua Pembinanya. Gelar Pahlawan Nasional tersebut bisa jadi alat impunitas atas dosa besar selama 32 tahun yang sekarang sengaja dibuat lupa oleh mereka. Agar masyarakat tak mengenang kembali berbagai bentuk kekejaman rezim Suharto dulu.

Sebagaiaman tulisan sebelumnya (Suharto Layak Jadi Pahlawan?), jasa besar Suharto memang harus diakui. Terutama terkait pembangunan ekonomi meski di atas pondasi sangat rapuh. Suharto dalam hal ini berhasil menjadi salah satu macan Asia yang diwaspadai dunia. Meski demikian, pembangunan tersebut ternyata semu karena berbasis darah rakyat dan utang luar negeri. Disamping itu, obral besar kekayaan negara juga dilakukan, bahkan diskon besar di berbagai pusat perbelanjaan kalah dengan potongan harga kala menjual aset negara. Sepakat dengan staf khusus presiden bidang sosial Andi Arief, maaf, Suharto tak layak jadi pahlawan (detik.com/18/10).

Iklan
Komentar
  1. […] Suharto Layak Jadi Pahlawan? Maaf, Ia Bukan Pahlawan […]

  2. […] Sebuah Keputusan | J… on Maaf, Ia Bukan Pahlawan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s