Cerita Dari Wasior (2)

Posted: 13 Oktober 2010 in Arbiter
Tag:, , ,

Melekat dalam ingatan ketika gempa bumi meluluhlantakkan Tanah Minang (Sumatera Barat) pada 30 September setahun silam. Lebih dari 500 orang tewas akibat bencana tersebut, juga kerugian material ratusan miliar rupiah. Dibalik itu semua, ada fenomena ganjil terkait “aksi” alam ini, yaitu dikaitkannya gempa bumi tersebut dengan beberapa ayat dalam kitab suci agama tertentu. Namun, beragam sanggahan bermunculan atas thesis utak-atik mathuk ini, tak ada hubungan di antara keduanya.

Dengan cukup meyakinkan, gempa Sumatera Barat dan beberapa ayat dalam kitab suci itu seolah terhubung. Mengaitkannya dengan waktu terjadinya gempa dan beberapa ayat dalam kitab suci. Terbukti, beberapa orang percaya akan hal tersebut, baik secara langsung maupun malu-malu. Seolah-olah, Tuhan sedang menghukum manusia di atas Tanah Minang bak lirik lagu milik Ebiet G Ade, “mungkin Tuhan telah marah terhadap ulah kita.”

Setahun pasca gempa Sumbar, Indonesia kembali dihantam bencana yang sangat mwenyengsarakan warga. Banjir bandang di Wasior, Papua Barat. Meski bencana ini tak sebesar gempa Sumbar dari sisi jumlah korban tewas, tapi sama dalam konteks penderitaan, banjir bandang Wasior tetap jadi perhatian. Namun, fenomena aneh kembali terjadi, mengapa tak ada lagi orang yang mengaitkannya dengan beberapa ayat dalam kitab suci atas bencana di Wasior ini?

Sedikit bercerita pengalaman setahun silam. Beberapa orang kenalan percaya dengan utak-atik masthuk tersebut. Mereka begitu yakin bahwasannya gempa Sumbar pada dasarnya sudah diramalkan sebelumnya dalam kitab suci. Tentu saja, berbagai argumen religius jadi justifikasinya. Sayangnya, ketika diminta untuk menjelaskan berbagai bencana dahsyat di belahan bumi lain, seperti: Alaska, Chile, dan China, tak ada jawaban meluncur. Tak ada penjelasan untuk mengaitkan berbagai bencana tersebut dengan ayat dalam kitab suci. Entah mengapa ini bisa terjadi (?)

Wasior: Riwayatmu Kini

Bangunan luluhlantak oleh lumpur dan berbagai jenis kendaraan, ringan atau berat, jungkir balik akibat terjangan banjir. Air bersih, bahan makanan, dan listrik jadi barang mewah. Bantuan terlambat dating sehingga para korban harus mengurusi dirinya sendiri meski hal itu sudah jadi tanggung jawab negara cq pemerintah. Penduduk pun banyak yang eksodus ke berbagai tempat di Papua barat maupun Papua. Semua itu demi keselamatan diri dan anggota keluarga. Mereka harus meninggalkan Wasior untuk menghilangkan trauma dan tak tahu apakah akan balik lagi atau tidak.

Kerusakan hutan diduga sebagai penyebab utama terjangan banjir bandang pada 4 Oktober lalu ini. Namun, beberapa pihak menuduh masyarakatlah penyebabnya, yaitu penebangan liar. Namun, kaukus Papua menolak asumsi tersebut. Banyaknya HPH di Wilayah Teluk Wandoma, Papua Barat, merupakan penyebab utamanya. Berapa sing yang ditebang warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dibandingkan eksploitasi oleh pengusaha pemegang HPH?

Suka atau tidak, pemerintah dalam hal ini punya sumbangan besar atas bencana Wasior. Tentunya bila hal itu dikaitkan dengan pemberian HPH kepada pengusaha yang sekonyong-konyong mengubah wajah tanah Papua. Tanpa ampun. Padahal, dalam budaya adat masyarakat Papua, menebang pohon merupakan suatu yang sakral. Tak bisa dilakukan begitu saja tanpa adanya upacara adat lengkap untuk menghormati para leluhur.

Apa boleh buat. Sekitar 150 orang meninggal akibat banjir bandang ini. Ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal dan penghidupan mereka. Anak-anak pun tak sekolah karena sekolah rusak, padahal pendidikan anak tak boleh berhenti dalam keadaan apa pun. Ini tak juga jadi perhatian pemerintah. Wasior masih gulita bak peristiwa kekerasan 2001 silam. Terus bersembunyi di balik kabut tebal awan yang mengandung curah hujan tinggi. Wasior masih menunggu untuk disentuh kembali oleh warganya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s