Cerita Dari Wasior

Posted: 8 Oktober 2010 in Arbiter
Tag:, , ,

“Menyalahkan takdir hanyalah ilusi atas penderitaan manusia karena Tuhan senantiasa mencintai mereka yang tertindas.”

Nestapa. Barangkali kata ini cukup tepat untuk menggambarkan keadaan masyarakat di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat. Bencana alam berupa banjir harus mereka reguk akibat dari keserakahan manusia, menghabisi hutan. Tak lengkap bila hanya berkutat pada banjir belaka. Keadilan yang mereka dambakan sebagai ekses peristiwa pada 2001 masih juga jauh di awang. Sudah jatuh tertimpa tangga. Peribahasa ini cukup mewakili kondisi warga Wasior saat ini.

Senin, 4 Oktober pukul 08.00 WIT. Ketenangan warga Wasior terenggut. Banjir bandang merenggut ketentraman setelah sempat terusik ketika peristiwa kekerasan 13 Juni 2001 meletus. Terjangan air bah menjungkirbalikkan dan merendam semua yang dilaluinya. Mobil, motor, truk, dan apa pun yang diterjang seketika berubah posisi dan terendam lumpur. Malapetaka yang sebelumnya tak pernah mereka bayangkan akan melanda bumi pijakannya.

Korban jiwa pun berjatuhan oleh amukan alam, yang ditengarai, akibat ulah manusia ini. Posko Kesehatan Penanganan Korban Bencana Wasior di Papua mencatat, per 6 Oktober 2010, sebanyak 72 orang tewas, 66 orang hilang, 461 orang luka-luka, dan 56 orang luka berat akibat banjir bandang ini. Ribuan penduduk lainnya harus mengungsi karena “surga” mereka turut hancur juga. Ditambah lagi dengan lambatnya mitigasi bencana oleh pemerintah dalam peristiwa ini. Lengkap sudah penderitaan saudara kita di Wasior.

Buruknya mitigasi bencana di Wasior membuktikan lemahnya koordinasi dalam penanganan bencana alam. Dalam teori mitigasi bencana, tindakan tanggap darurat dilakukan secepatnya pasca kejadian. Bukan lagi bicara hitungan hari dalam persoalan ini, harus berpatokan pada jam, bahkan menit andai saja bisa dilakukan. Tak pelak, lambannya penanganan bencana berdampak pada semakin menderitanya korban. Sungguh tragis keadaan ini karena terjadi di wilayah (Indonesia) yang sudah jelas daerah rawan bencana.

Memang, tak elok bila dalam situasi demikian menyalahkan satu sama lain sebagai penanggungjawab. Namun, mau tak mau, harus ada pihak yang bertanggungjawab dalam hal ini, terutama dalam soal mitigasi bencana. Bagaimana pun juga, korban tetap lah manusia. Hak mereka sebagai manusia seutuhnya harus tetap dipenuhi dalam keadaan apa pun. Siapa pun tak boleh berkelit dalam hal ini, terutama negara cq. Pemerintah sebagai pengelola negara.

Mengenang Wasior

Banjir bandang dan peristiwa kekerasan pada 2001 merupakan mata rantai tak terputus dari sejarah kelam Wasior. Barangkali, banyak yang lupa atau tak tahu atau tak mau tahu soal tragedi di bumi Wasior ini. Setelah keadilan tak kunjung datang bagi korban kekerasan 2001, keadilan yang mereka harapkan tak pernah kunjung tiba. Sepertinya, kelamnya sejarah di tanah ini hyendak dipendam dan disembunyikan dalam kotak Pandora agar semakin sulit diingat.

Peristiwa Wasior berdarah ini, menurut laporan Komnas HAM, menimbulkan korban sebanyak 184 orang dengan rincian 152 orang laki-laki dan sisanya perempuan. Total kerugian materi akibat peristiwa ini senilai 6.352.504.000 rupiah. Berbagai jenis kekerasan terjadi dalam peritiwa ini, mulai dari: pembunuhan, penghilangan secara paksa, penyiksaan, dan hilangnya harta benda. Bahkan, menurut hasil investigasi PBHI, terjadi juga pemaksaan untuk mengungsi yang menimbulkan kematian dan penyakit.

RENTETAN PERISTIWA WASIOR
Maret 2001
Terjadi pembunuhan terhadap 4 karyawan PT Dharma Mukti Persada di desa Ambumi, Kecamatan Wasior.
24 April 2001
Terjadi kasus pengibaran bendera Papua �Bintang Kejora� di kecamatan Wasior.
April 2001
Terjadi pembantaian pasukan koteka oleh Brimob, di desa Rasiei, Kecamatan Wasior. Dua orang terkena peluru dan lima belas ditahan di Polres Manokwari, enam orang hilang tanpa bekas.
Juni 2001
Terbunuhnya lima anggota Brimob di base camp PT Prima Jaya Sukses Lestari di desa Wondiboi Kecamatan Wasior.
Juni 2001
Sejak itu Brimob melakukan operasi tumpas ke desa-desa di Kecamatan Wasior.
Sumber: ELSAM

Setelah Sembilan tahun berlalu, tragedi ini belum juga tertuntaskan. Laporan Komnas HAM sebagai hasil penyelidikan proyustisia menyebut adanya dugaan terjadinya pelanggaran HAM berat. Seperti biasa, tindak lanjut atas laporan ini nihil. Berbagai alasan muncul agar peristiwa ini tak maju ke meja hijau dengan pengembalian berkas oleh Kejaksaan Agung. Dalam UU No. 26/2000 tentang Pengadilan HAM, penyidik kasus pelanggaran HAM berat ada ditangan Jaksa Agung. Namun, sampai sekarang, keadilan itu tak kunjung mampir ke hati para korban peristiwa Wasior berdarah.

Terjadinya banjir bandang dan runyamnya keadilan di bumi Wasior bukan lah takdir dari Yang Maha Kuasa. Hanya cerita kosong bila semua penderitaan itu sebagai ditimpakan akibat Tuhan yang murka. Sejatinya, keserakahan manusia lah yang jadi penyebabnya. Manusia yang menantang alam tanpa kenal ampun dengan otak bengisnya. Menyalahkan takdir hanyalah ilusi atas penderitaan manusia karena Tuhan senantiasa mencintai mereka yang tertindas.

Referensi

http://kontras.org/index.php?hal=siaran_pers&id=565
http://cetak.kompas.com/read/2010/10/07/03014594/evakuasi.tersendat.sejumlah.korban.masih.tertimbun
http://cetak.kompas.com/read/2010/10/07/03475141/mencoba.bertahan..demi.tanah…
http://elsam.minihub.org/txt/asasi/2001_10/06.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s