Semakin Manusiawi Penjara, Semakin Sedikit Residivis?

Posted: 7 Oktober 2010 in Arbiter
Tag:, , , ,

Jika penjara di Belanda bagaikan hotel, maka penjara di negara-negara Skandinavia lebih mewah lagi. Tapi, hukuman apa yang lebih manjur: roti plus air putih, atau tv layar datar plus pelajaran masak?

Para kriminal harus ditindak lebih keras, demikian pendapat masyarakat luas. Itu juga pendapat kabinet baru Belanda. Kabinet ingin adanya hukuman minimal untuk residivis (penjahat kambuhan, red), pengadilan untuk orang dewasa mulai dari usia 16 tahun, serta hukuman lebih berat atas transaksi narkoba dan kekerasan atas pihak otorita. Fokus mempersiapkan tahanan menjalani kehidupan baik-baik selepas penjara, semakin berkurang. Laporan Marco Hochgemuth.

Kebijakan Lunak

Ini sudah lama jadi trend. Sepuluh tahun terakhir, kebijakan penjara Belanda semakin ekonomis. Pelatihan dan aktivitas lain banyak dikurangi dan perpanjangan masa hukuman diterapkan. Kebijakan lunak sudah tidak ada lagi. Tapi toh tingkat residivisme Belanda tetap tinggi. Hampir 3/4 dari seluruh tahanan adalah mereka yang kembali melakukan tindak kriminal dan divonis dalam periode 7 tahun.

Jepitan Jemuran

Bagaimanapun kuatnya stereotipe itu berakar, penjara Belanda bukan hotel. Sebagian besar tahanan (harus) bekerja di siang hari. Pekerjaan mereka antara lain membuat jepitan jemuran, mengepak sekrup, atau memasang lampu anak-anak.

Dengan upah yang didapat (75 sen per jam), para tahanan bisa menyewa televisi atau kipas angin, atau jajan di kantin penjara. Seorang tahanan boleh menikmati udara luar satu jam per hari dan berolahraga dua kali per minggu. Makan mereka lakukan di dalam sel. Makan siangnya makanan hangat siap saji, sementara makan pagi dan makan malamnya roti.

Cemburu

Dengan semacam kecemburuan Belanda menengok Skandinavia, dimana tingkat residivisnya jauh lebih rendah dan populasi penjara jauh lebih kecil. Di Belanda, 100 dari 100.000 penduduk mendekam di penjara; di Denmark (63), Norwegia (69) dan Finlandia (74), jumlah itu lebih kecil. Padahal justru selama puluhan tahun, Skandinavia menerapkan kebijakan penjara yang sangat manusiawi bahkan bisa dibilang lunak.

Negara-negara Eropa Utara tersebut tidak percaya pada sistem penjara yang represif. Di sana juga orang mencurahkan banyak perhatian atas alternatif selain hukuman penjara (seperti hukuman kerja sosial atau rehabilitasi untuk pencandu), dan para tahanan relatif lebih cepat mendapat kebebasan bersyarat.

Jendela Tanpa Terali

Contoh sebuah penjara modern Skandinavia adalah penjara Halden Fengsel yang dibuka Mei lalu. Ini adalah penjara paling manusiawi sedunia. Di sana terdapat sekitar 250 sel lengkap dengan televisi layar datar, sofa, kamar mandi dan kulkas mini. Jendela-jendelanya tinggi dan tanpa teralis, supaya sinar matahari leluasa masuk. Untuk setiap 10 sel, ada ruang tamu bersama komplit dengan dapur, dimana para tahanan bisa mengikuti les masak.

Les Musik

Di lapangan yang terletak di tengah hutan, terdapat sebuah rumah dengan 2 kamar tidur, tempat para tahanan bisa menghabiskan waktu dengan anggota keluarga yang datang menjenguk. Selain itu terdapat pula sebuah studio tempat les musik dan sebuah dinding panjat disediakan untuk olah raga panjat dinding.

Tembok asli penjara setinggi 6m disamarkan dengan pohon, hingga hampir tidak terlihat oleh tahanan. Para sipir tidak dibekali senjata dan tahanan bisa memberi usulan melalui sebuah formulir angket, untuk semakin memperbaiki kehidupan di penjara.

Resor Mewah

Terang saja penjara tersebut dengan mudah dibandingkan dengan resor mewah. Apa penjara Halden Fengsel itu benar-benar tempat mengurung para pemerkosa dan pembunuh? Menurut direktur penjara Are Hoidal, memang demikian. “Jika kita memperlakukan para tahanan secara manusiawi, kesempatan mereka kembali berintegrasi di masyarakat akan lebih besar. Kita kepingin menciptakan kesempatan baru dengan memberi pelatihan dan pekerjaan, agar mereka meninggalkan penjara sebagai manusia yang lebih baik.”

Norwegia memang boleh bangga dengan angka residivis yang sangat rendah : hanya 20 persen tahanan kembali dipenjara dalam waktu 2 tahun. Di Amerika dan negara Eropa lain, prosentase itu di atas 50 persen.

Roti Plus Air

Jadi, apakah televisi layar datar dan kamar mandi pribadi lebih disukai ketimbang roti dan air? Sepertinya demikian, terutama jika menilik Amerika, negara dengan jumlah narapidana terbanyak di dunia. Hampir 2,5 juta warga Amerika mendekam di penjara, yang artinya sekitar 750 orang di antara 100.000 penduduk.

Setengah dari mereka dipenjara akibat tindak kriminal tanpa kekerasan. Penjara-penjara di sana ekonomis dan kebijakannya keras. Tapi tetap saja, para tahanan yang bebas, 2/3nya kembali ke penjara dalam jangka waktu 3 tahun.

Supermax

Para kriminal kelas kakap Amerika dikurung di institusi yang disebut supermax, yang terdapat di hampir setiap negara bagian Amerika. Institusi terbesar (dan terkeras) adalah Administrative Maximum Facility (ADX) di Colorado.

Empat ratus penghuni penjara di sana menghabiskan 23 jam per hari dalam sel, yang dilengkapi meja beton sederhana, kursi, dipan atau toilet. Dari jendela yang letaknya tinggi, mereka hanya bisa melihat langit, sehingga para tahanan tidak tahu dimana mereka berada. Satu jam sehari, dengan tangan dan kaki dirantai, mereka boleh menikmati udara luar di lahan yang digambarkan sebagai kolam kosong. Kontak dengan pekerja penjara sangat terbatas, sementara kontak dengan sesama tahanan atau dunia luar, hampir tidak ada.

Sumber: Radio Nederland Wereldomroep

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s