Tol Trans Jawa, Apa Kabarmu? (1)

Posted: 5 Oktober 2010 in Arbiter
Tag:, , , , , ,

Beberapa tahun lalu, saudara yang tinggal di Surabaya bercerita tentang memori Kota Sidoarjo. Kota besar yang dulunya jadi jalan penghubung utama menuju Surabaya dari arah timur. Ia bercerita tentag Kota Sidoarjo yang telah lama tak ia singgahi. Sepertinya ia kangen dengan suasana kota itu yang dulunya jadi jalur utama menuju Surabaya sebelum pembangunan tol Gempol-Surabaya.

”Sudah lama aku tak ke Sidoarjo. Bagaiamana suasana kota itu sekarang ya? Dulu sangat suka sekali kalau melintasi Sidoarjo, ramai. Tapi setelah tol Gempol-Surabaya dibangun, aku tak pernah melintasinya lagi,” tuturnya.

Dari cerita dan pertanyaan tersebut, aku hanya bisa membayangkan bagaimana suasana Sidoarjo dulu. Ramai, penuh pedagang asongan, dan bisa melihat suasana kota nan penuh hiruk-pikuk manusia. Namun, sekarang tak bisa dijumpai lagi suasana seperti itu secara bebas bila menggunakan kendaraan umum. Bus antar kota sudah enggan lagi untuk ”bertamu” karena ada jalan tol yang memang lebih efisien dan efektif.

Bagi generasi seusiaku, kenangan melintasi Sidoarjo ketika menuju Surabaya barangkali tak pernah menancap. Aku sendiri sedari kecil ketika melakukan perjalanan hanya bisa melihat ”balapan” kendaraan roda empat di jalan tol. Tak ada pemandangan apa pun kecuali sawah yang menghampar di sisi kanan-kiri ruas jalan. Paling eksotis ya ketika melihat sekumpulan burung di sawah itu. Tak ada dalam ingatan tentang keramaian Kota Sidoarjo seperti halnya yang diceritakan saudara atau orang tua ku sendiri.

Nasib sama juga terjadi pada Kota Purwakarta. Kota yang dulu sennatiasa hidup 24 itu sekarang terpaksa harus menerima nasibnya. Lalu-lalang kendaraan tak seramai dulu lagi dan banyak warung serta restoran harus gulung tikar akibat keadaan ini. Pembangunan jalan tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta-Bandung ini telah membuat kota ini berubah total. Tak ada lagi pemandangan warung di pinggir jalan seperti dulu. Hanya menyisakan bekas kejayaan jalan negara ini.

Tol Cipularang telah mengubah segalanya. Tak hanya Kota Purwakarta, juga kehidupan masyarakat yang bergantung dari trickle down effect jalan negara Cikampek-Padalarang itu. Bagi pengguna jalan, pemandangan kebun, jalan penuh kelokan, dan sawah terhampar luas hanyalah sebuah kenangan saja. Tak ada lagi mengemudi untuk menikmati suasana hawa pegunungan, hanya berisi bagaiaman bisa cepat samapi di tujuan. Mengemudi untuk mengemudi, itu saja.

Jakarta-Probolinggo

Jalan raya trans jawa tak bisa dipisahkan dari sejarah kelam rakyat Jawa pada masa pendudukan Perancis. Gubernur Jenderal Maarschalk Herman Willem Daendels tak mungkin bisa dilupakan begitu saja oleh masyarakat Jawa. Dengan tangan besinya, ia memerintahkan pembangunan jalan raya pos Anyer-Panarukan pada 1808 yang sangat bersejarah itu. Lewat tangannya lah, Jawa bisa diakses lebih cepat dari sebelumnya meskipun jutaan nyawa melayang untuk itu.

Siapa tak kenal jalur pantai utara Jawa (pantura)? Semuanya bisa dipastikan mengenalnya dengan baik. Jalan negara ini menjadi penghubung utama di Pulau jawa yang melintasi kota-kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Jadi urat nadi kehidupan masyarakat karena jadi gantungan hidup mereka yang berasal dari keramaian kendaraan. Tak hanya itu saja, sejarah juga telah membuatnya besar karena jutaan manusia dikorbankan untuk ambisi besar Daendels saat itu.

Pantura memang punya nilai historis tinggi, juga nuansa tersendiri. Keindahan Alas Roban mampu ”menyuci” lelah mata setelah berkendara jauh. Jalan yang membelah hutan ini menyuduhkan pemandangan tersendiri setelah harus bertarung dengan panasnya kota sebelumnya. Deretan perahu nelayan di sepanjang Pantura Tuban juga menyajikan eksotisme tersendiri. Jalan Pantura tepat persis berbatasan langsung dengan laut. Tak ada penghalang apa pun untuk bisa menikmati hembusan angin laut. Ditambah lagi bangunan kelenteng yang tepat di pinggir jalan menghadap luasnya Laut Jawa. Sungguh memesona dan menggugah hati.

Namun, barangkali pemandangan indah pantura dan sejarah kemanusiaan jalan raya pos bakal ”hilang”. Aaplagi kalau bukan karena rencana pembangunan jalan tol trans jawa yang kabarnya akan menghubungkan Jakarta-Probolinggo. Banyak hal akan hilang seperti halnya yang terjadi pada Purwakarta. Alas Roban bakal menyepi kembali karena bakal ditinggalkan penggunanya yang beralih ke jalan tol. Begitu pula kehidupan. Masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari Pantura juga bakal terdampak. Warung, restoran, bengkel, tukang tambal ban, dan pedagang asongan harus memulai kehidupan barunya kembali.

Banyak hal bisa dibayangkan apabila tol trans jawa ini sudah beroperasi. Brebes, Demak, Kendal, Semarang, Rembang, Tuban, serta kota lainnya akan sangat terdampak. Tak bisa lagi menikmati pemandangan pantai dan kapal nelayan di Tuban atau eksotisme budaya masyarakat dari tiap-tiap kota. Semuanya bakal seragam, kecepatan. Hanya ada pemandangan bagaimana mengemudi kendaraan dengan cepat dan kendaraan roda empat yang melaju kencang. Telur asin Brebes pun bakal jadi kenangan. Melihat riuh-rendah kehidupan di Semarang hanya akan menjadi sebuah mitos. Selamat tinggal Alas Roban dan Pantai Tuban serta kota lainnya.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s