Komunikasi?

Posted: 4 Oktober 2010 in Sosial-Budaya
Tag:, , , , ,

Secara mendasar, tulisan ini merupakan kritik terhadap pendefinisian komunikasi secara umum. Komunikasi sering didefinisikan tanpa melihat kondisi asymmetrical communications yang secara riil terjadi. Komunikasi yang hanya didefinisikan dalam artian simetris, dalam pandangan saya, kurang mencakup arena propaganda dan agitasi. Keduanya merupakan bentuk dari komunikasi yang tidak hanya sekedar menginginkan tersampainya pesan, tetapi terdapat unsur-unsur untuk menguasai (mempengaruhi) lainnya dengan menggunakan kekuatan bahasa. Apakah bahasa hanya sekedar alat Bantu untuk berkomunikasi?

Penelusuran lebih lanjut dapat dijadikan referensi mengenai komunikasi. Bahasa merupakan alat utama dalam komunikasi, apakah hanya sekedar itu? Bahasa dapat didefinisikan sebagai permainan tanda, makna, simbol, dan kode untuk tujuan dan kepentingan tertentu. Definisi ini didasari atas argumen, kekuasaan itu dapat diketahui wujudnya apabila diinteraksikan kepada pihak lain dengan bahasa sebagai alatnya. Artinya, melalui bahasa sebagai alat komunikasi, kekuasaan itu dapat diketahui dan diwujudkan. Oleh karena itu, bahasa yang merupakan piranti utama komunikasi tidak tidak dapat dilepaskan dari proses komunikasi itu sendiri. Hal ini terjadi karena komunikasi menggunakan bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan kehendak kepada lainnya.

Mengenai tujuan komunikasi, pada dasarnya tidak ada komunikasi yang tidak bertujuan karena komunikasi itu sendiri dapat didefinisikan sebagai seni mempermainkan tanda, makna, simbol, dan kode untuk tujuan dan kepentingan tertentu. Tentunya mustahil apabila ada komunikasi yang tidak bertujuan karena dalam tataran paling sederhana ditujukan agar kehendak komumnikan diketahui. Selanjutnya, mengapa komunikasi diartikan sebagai seni? Komunikasi sebagai seni merujuk pada adanya tujuan dan kepentingan yang inheren didalamnya, tentang bagaimana lainnya dapat mengetahui apa yang hendak disampaikan. Seni disini berkaitan dengan upaya agar kehendak yang ingin disampaikan dimengerti bahkan dilaksanakan oleh penerima pesan. Sedangkan piranti lainnya, yaitu komunikan, seyogyanya tidak hanya dibatasi sekedar person. Ia dapat diperluas lagi dalam dataran sistemik. Terorisme dalam hal ini dapat dijadikan contoh betapa luasnya arti dari komunikan itu sendiri. Teroris menyampaikan pesan-pesannya dalam bentuk teror kepada sistem yang ada. Apakah mereka ingin berkomunikasi kepada para korbannya? Tentunya tidak. Mereka melakukan hal ini sebagai akibat ruang-ruang komunikasi yang ada ditutup-rapat-rapat sehingga mereka menggunakan media lain (teror) agar kehendaknya didengar.

Dari pemaparan diatas, tentunya, definisi Lasswell tentang komunikasi yang sering dijadikan rujukan punya banyak kelemahan mendasar, tidak dapat melingkupi semua keadaan dari komunikasi itu sendiri. Definisi Lasswell yang cenderung melihat komunikasi sebagai hal yang “biasa-biasa saja”, secara mendasar kurang mampu untuk digunakan dalam mendefinisikan bentuk komunikasi-komunikasi yang dilakukan diruang-ruang politik, maupun ruang lainnya yang nyata-nyata terjadi tidak dalam keadaan simetris. Tulisan awal sebelumnya dapat dijadikan pedoman awal “paling” sederhana untuk memahami apa itu komunikasi. Sekian.

Surabaya, 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s