Membicarakan Tanah Air

Posted: 28 September 2010 in Bung Karno dan Marhaenisme, Politik
Tag:, , ,

“Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya”
– Soekarno, Pidato Lahirnya Pancasila –

Dalam catatan sejarah manapun di tanah air ini, senantiasa dikatakan, Marhaenisme merupakan ajaran Soekarno yang lahir pada medio dekade 1920-an. Penjara Sukamiskin menjadi saksi kecermelangan pikiran-pikiran Soekarno untuk membangun Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kertaraharja. Soekarno, ya Soekarno, aktor yang menjadi mainstream pemikiran ini, marhaenisne dengan segala atribut-atribut didalamnya, dan terus hidup hingga sekarang, didepan mata kita.

Tidak dapat ditampik lagi, Marhaenisme lahir (baca: istilah) ketika Soekarno sedang berjalan-jalan di pematang sawah dengan segenap keheningan yang diiringi nyanyian syahdu burung-burung pipit. Ditengah perjalanan bertemu dengan petani yang benama Pak Marhaen, ia hidup dari tanah dan segala alat-alat produksi untuk mengolah tanah yang memberikannya kehidupan. Dengan segenap faktor-faktor produksi yang ia miliki, Pak Marhaen tetap miskin, ada apa gerangan? Ya, sistem yang ada yang membuatnya ia miskin meskipun mempunyai faktor-faktor produksi, tentunya, marxisme berlaku per se terkait dengan proletariat. Akhirnya, perenungan Soekarno dituangkan dengan nama Marhaenisme sebagai pemikiran untuk menganalisis kondisi masyarakat agar dapat keluar dari jerat imperialisme saat itu dan masa yang akan datang dengan segala tantangan didalamnya.

Dari sini, marilah kita coba menyelami dunia imajiner. Andaikan Soekarno hidup dizaman sekarang di daerah Kalibaru, Banyuwangi. Apakah beliau akan menemukan pemandangan yang sama (petani-petani menggarap lahannya)? Mereka punya cangkul, sabit, ani-ani, bajak beserta sapinya, tetapi tidak menggarap apa-apa, piranti-piranti itu hanya menjadi sekedar pajangan untuk hiasan rumah. Mengapa demikian? Tidak ada lahan yang dapat digarap, hanya kekerasan yang menjadi dekorasi kehidupan. Soekarno –tentunya- akan kerepotan menuangkan pemikirannya dalam satu bingkai yang meliputi semuanya meskipun mereka mempunyai peralatan untuk produksi. Kira-kira apa namanya dan bagaimana pokok-pokok pemikirannya ya?

Penulusuran lebih jauh lagi akan pentingnya sejengkal tanah bagi rakyat akan membawa kita pada apa itu nasionalisme, karena rakyat tidak dapat dipisahkan dari bumi yang mereka injak. Diskursus inilah yang hendak dibicarakan disini. Terserah, bagaimana menanggapi hal ini. Suara-suara, meskipun tak merdu, akan menjadi “teman” yang senantiasa mendampingi disaat suka maupun duka. Menunjukkan sekedar I walk beside you akan menjadi nyanyian merdu ditelinga mereka yang harus berjuang demi tanah air dan sejarah perjuangan yang ada didalamnya. Sebuah kerinduan akan kata-kata yang dapat menjadi pundak ketiga ketika semua hanya menatap tanpa berkata apapun. Apakah kebisuan akan menjadi jawaban semua ini? Jika ya, bagaimana kelak bercerita tentang sejarah Indonesia kepada anak semua bangsa di dunia tentang tanah air ini? Sebuah bangsa tanpa tanah air karena ulah di masa kini yang membiarkan tanah airnya “meranggas” sendirian tanpa kata. Sebuah bangsa tanpa sejarah(?), karena bangsa tanpa air seperti pohon tanpa akar, tanpa pijakan.

Surabaya, Maret 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s