Filsafat Politik Marxisme

Posted: 28 September 2010 in Politik
Tag:, , , , , , , , ,

Karl Marx, dilahirkan pada 12 Mei 1818 (kalendar revolusioner), di Trier (Prusia Rhineland), satu bekas propinsi liberal yang sekarang berada yang sangat operesif. Marx wafat pada tanggal 14 Maret 1883 di London. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga rabi yang taat beragama, tetapi ayahnya mengajak seluruh keluarganya untuk memeluk agama protestan sebagai jalan keluar dari politik diskriminasi terhadap orang-orang yahudi. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Marx sempat belajar sebentar di Universitas Bonn yang dilanjutkan di Universitas Berlin selama 5 tahun. Disinilah Marx mulai berkenalan dengan filsafat Hegel dan terlibat dalam aktivitas intelektual dengan kelompok filosof sayap kiri yang dikenal sebagai “para hegelian muda”, yang menaruh minat terutama pada kritik agama.disertai doktoralnya yang berjudul The Difference Between The Philosophies of Nature In Democritus and Epicurus. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Jena. Disinilah ia memperoleh gelar doktor dalam filsafat pada tahun 1841. Kemudian ia menukah dengan seorang wanita keturunan bangsawan bernama Jenny Von Westphalen.

Dari tahun 1842-1843, Marx bekerja sebagai wartawan dan kemudian dipromosikan sebagai editor dalam sebuah surat kabar Cologne, Rheinische Zeitung. Dikebanyakan artikelnya tercermin Marx adalah seorang pemikir liberal radikal. Kebanyakan artikelnya bertema tentang kebebasan pers dan perlindungan rakyat bawah, meski Marx tidak pernah mendengarkan rakyat sebagai ‘agent of change’.

SITUASI POLITIK

Pada 1845-1848, Marx aktif dalam kehidupan politik dan hidup diantara politisi-politisi imigran Jerman di Paris dan sebagai akibat tekanan yang datang dari pemerintahan Prusia, dia harus meninggal Paris dan memilih Brussels sebagai tempat pengasingannya. Namun ia tetap aktif dalam dunia politik di semua tingkat daerah dan kemudian berkembang lebih luas ke daerah Eropa. Dan kemudian pada tahun 1848, Marx dan Engels bekerja sama menggarap the communist manifesto yang diterbitkan di London oleh liga komunis disana. Propaganda politis ini berisi tinjauan historis tentang gerakan komunisme dan pujiannya yang berlebihan terhadap proses peradaban kekuatan kapitalisme dan ditutup dengan kesimpulan bahwa “pada akhirnya apa yang dihasilkan oleh para borjuis tidak lain adalah lubang kubur mereka sendiri”. Pada tahun inilah terbentuk dua doktrin utama Marx yaitu teori alienasi dan materialisme historis. Ketika itu teori penindasan masih berada dalam pembentukan awal, sekalipun begitu teori ini tidak pernah dikembangkan oleh Marx sampai beberapa tahun kemudian. Pada perkembangan selanjutnya Marx kembali ke Paris dan bekerja kembali di surat kabar tempat awal dia bekerja sebagai wartawan. Seiring dengan terjadinya revolusi proletariat yang meledak di Paris. Dalam artikelnya Marx semula mendorong agar para borjuis Jerman memperjuangkan revolusi demokratis tapi ketika mereka berpaling dari apa yang menurut Marx adalah misi sejarah kaum borjuis Jerman maka, perlahan-lahan kebijakannya mulai beralih kekiri. Namun dia tidak mampu menghadang pasang anti revolusioner ketika Marx diasingkan dari Jerman pada Mei 1849. Ia terpaksa untuk meninggalkan dunia politik aktif selama lima belas tahun, tidak temasuk pertikaian antar imigran di London.

MASYARAKAT KELAS

Adanya kelas-kelas sosial yang membedakan diri satu sama lain berdasarkan kedudukan dan fungsi masing-masing dalam proses produksi. Pemisahan antara para pemilik dan pekerja yaitu masyarakat Borjuis dan masyarakat Proletar. Masyarakat Borjuis adalah mereka yang menguasai negara, cara dan alat-alat produksi serta kapital. Masyarakat Proletar adalah masyarakat kelas buruh, petani, usahawan kecil, mereka yang tidak punya apa-apa selain tenaga kerja. Masyarakat proletar berusaha untuk melawan kelas Borjuis dengan cara menghilangkan kelas. Dan hal ini sering disebut sebagai pemikiran utopis para pengikut Marxis. Pergesekan kelas ini membuat para kaum Proletar tergerak untuk meniadakan kelas-kelas tersebut. Tetapi pada kenyataannya usaha ini malah menimbulkan konflik yang berkepanjangan sehingga melibatkan pengikut-pengikutnya untuk selalu mengobarkan permusuhan.

Satu hal yang menarik dari konflik diatas bahwa seharusnya dua kaum diatas dapat saling bekerjasama dalam suatu kegiatan produksi. Tetapi ideologi yang mereka anut saling bertolak belakang dan hal ini menjadi magnitudo bagi asal muasal pertentangan kedua kelas ini.

MATERIALISME

Marx terkenal dengan konsep materialisme sejarah (historical materialism) dan materialisme dialektika (dialectical materialism). Namun sama seperti konsep materialisme dialektika yang bukan kreasi Marx, konsep materialisme sejarah juga bukan konsep kreasi Marx, melainkan hasil dari formulasi konseptual Plekhanov. Plekhanov adalah seorang teeoritisi dan filosof Marxis Soviet yang banyak melakukan pengkajian mendalam tentang marxisme.

Konsep Marx tentang materialisme sejarah adalah bahwa sejarah manusia sejak jaman primitif dibentuk oleh faktor-faktor kebendaan. Awal sejarah manusia dimulai dengan adanya pemilikan pribadi yang kemudian menimbulkan pertarungan memperebutkan materi atau kekayaan ekonomi. Materi atau bendalah yang menjadi faktor konstitutif proses sosial politik historis kemanusiaan. Marx menyangkal argumen Hegel dan Marx Weber yang melihat faktor non-bendawi, roh (spirit) dan gagasan (idea) berpengaruh dan menentukan sejarah.

Memahami konsep materialisme sejarah Marx tidak bisa dipisahkan dengan dialektika dan materialisme. Dalam merumuskan gagasannya tentang dialektika, Marx memperoleh inspirasi dari gurunya, Hegel. Tidak berlebihan untuk dikatakan bahwa substansi dialektika Marx tidak lain merupakan penjungkirbalikan saja dari dialektika Hegel.

Bagaimana dengan gagasan dialektika Hegel itu?. Hegel berpendapat bahwa dialektika merupakan proses antagonisme tesis versus antitesis yang kemudian menghasilkan sintesis. Dari sintesis ini akan timbul tesis dan antitesis yang baru. Demikian seterusnya proses ini akan berlangsung. Proses dialektis Hegel terjadi dalam dunia gagasan atau jiwa. Hegel percaya dengan adanya ‘jiwa’ -suatu entitas mistis- yang menjadi penyebab berkembangnya sejarah manusia melalui proses dialektika. Proses dialektika ini akan berhenti bila sudah tercapai ide mutlak. Bagi Engels, sahabat Marx, dialektika adalah ilmu pengetahuan mengenai hukum-hukum gerak dan perkembangan alam, masyarakat manusia dan pemikirannya.

Marx tidak mengakui adanya persamaan dialektikannya dengan dialektika Hegel secara keseluruhan. Ini sangat membingungkan, karena sesuai dengan penjelasan diatas mengenai substansial dialektika, sebagai antagonisme tesis versus antitesis, tidak memiliki perbedaan yang signifikan.

Untuk memahami materialisme sejarah, kita perlu memahami faham materialisme Marx. Materialisme adalah faham serba benda. Marx meyakini bahwa tahap-tahap perkembangan sejarah ditentukan atau dipengaruhi oleh keberadaan material. Bentuk dan kekuatan produksi material tidak saja menentukan proses perkembangan dan hubungan-hubungan sosial manusia, serta formasi politik tetapi juga pembagian kelas-kelas sosial. Dalam Powerty of Philosophy, Marx, berpendapat bahwa hubungan-hubungan sosial sangat erat kaitannya dengan kekuatan-kekuatan produksi dan dalam menciptakan kekuatan produksi baru manusia akan mengubah bentuk-bentuk atau cara produksi mereka. Jadi, materi baik dalam bentuk modal kekuatan-kekuatan maupun alat-alat produksi merupakan basis sedangkan kehidupan sosial, politik, agama, seni dan negara -dengan segala dinamika dan perkembangannya- merupakan suprastruktur.

Faham materialisme Marx ini kemudian menjadi menjadi dasar intelektual konsep determinasi ekonomi dalam sejarah dan menjadi dasar klasifikasi sejarah peradaban Eropa ke dalam empat periode, yaitu : komunisme primitif, perbudakan, feodalisme, kapitalisme. Periode sejarah yang terakhir, kapitalisme, merupakan masa transisi ke zaman yang mengarah terbentuknya dictator proletar.

Beberapa premis teoritis yang merupakan inti dari pemikiran materialisme sejarah adalah pertama, sebab-sebab terjadinya perubahan dan proses sejarah harus dilacak dalam bentuk-bentuk dan cara produksi ekonomi masyarakat dan bukan dalam bentuk gagasan atau filsafat. Bukanlah cara berpikir manusia yang menentukan perubahan sosial dan sejarah, melainkan bagaimana hubungan-hubungan produksi materialnya. Menurut Marx, keberadaan sosial seseorang menentukan kesadaran sosialnya. Kedua, setiap masyarakat selalu dicirikan oleh adanya basis dan suprastruktur. Basis menentukan suprastruktur, bukan sebaliknya. Ketiga, perubahan disebabkan oleh adanya antagonisme, kontradiksi kelas sosial atau proses dialektis antara kekuatan-kekuatan dan hubungan-hubungan produksi. Keempat, masyarakat kapitalis melahirkan kondisi-kondisi material yang pada akhirnya menghancurkan masyarakat tersebut. Karena dalam masyarakat kapitalis menurut Marx, selalu berlangsung kontradiksi internal, yaitu pertarungan atau konflik tak pernah henti antara kekuatan-kekuatan sosial yang ada di dalam masyarakat kapitalis itu sendiri. Kelima, kontradiksi antara kekuatan-kekuatan dan hubungan-hubungan produksi termanifestasi dalam bentuk konflik kelas. Konflik kelas ini berlangsung dalam bentuk semua sejarah manusia.

Dalam Manifesto of The Communist Party, Marx mengatakan bahwa sejarah seluruh masyarakat yang ada (sejak dahulu sampai sekarang) tidak lain adalah sejarah perjuangan kelas.

Dalam masyarakat kapitalis, kelas yang selalu berseteru itu adalah kelas borjuis-kapitalis dan kelas proletar. Kelas borjuis-kapitalis dicirikan oleh kekuasaannya yang dominan terhadap negara, cara dan alat produksi dan kapitalis sedangkan kelas proletar dicirikan tidak memiliki apa-apa kecuali tenaga kerja.

NEGARA

Marx berpendapat bahwa hubungan antara kelas proletar dan kelas borjuasi kapitalis sangat bersifat eksploitatif dan antagonistik. Kelas proletar selalu dalam keadaan dieksploitasi oleh kelas borjuasi-kapitalis. Keadaan ini kemudian melahirkan kondisi dimana kelas proletar merasa teralienasi dari lingkungan sosialnya sendiri. Hal ini tidak akan berubah kecuali kelas proletar berevolusi menentang kelas borjuasi. Perubahan sosial harus dilakukan dengan jalan kekerasan. Kelas proletar harus merebut semua hegemoni kelas kapitalis atas alat-alat produksi, negara, dan kapital.

Pada saat melakukan hal itu, kelas proletar harus berusaha keras menghapuskan perbedaan-perbedaan kelas atau antagonisme kelas. Pada akhirnya revolusi proletar ini ditujukan pada penghapusan kelas. Bila ini terjadi, maka negara yang menjadi alat penindasan kaum borjuis-kapitalis, tanpa menghancurkan, akan lenyap dengan sendirinya.

Pemikiran Marx tentang negara berbeda denga Plato, Aristoteles, Hocke, Hobbes dan Rousseau yang tidak mempermasalahkan keharusan eksistensi negara. Negara bagi mereka merupakan keharusan dan taken for granted demi mencapai kebajikan, mengekang nafsu angkara murka manusia serta kemaslahatan umum atau kemauan umum. Yang dipermasalahkan mereka hanyalah apa dan bagaimana bentuk negara yang ideal untuk mencapai cita-cita itu, apakah demokrasi, monarkhi ataukah aristokrasi. Mereka juga kritis terhadap berbagai penyimpangan kekuasaan atau sisi-sisi negatif penguasa negara lainnya. Bagi Marx, yang dipersoalkan adalah hal yang lebih mendasar, yaitu eksistensi negara itu sendiri.

Mengapa Marx begitu skeptis terhadap negara? Ada beberapa alasan. Marx menilai terjadinya eksploitasi kelas proletar antara lain karena eksistensi negara. Negara ternyata dijadikan alat penindasan itu. Bagi kelas borjuis, negara digunakan semata-mata hanya untuk mempertahankan status quo dan hegemoni politik dan ekonomi mereka. Kelas proletar, karena tidak menguasai alat-alat dan mode produksi yang merupakan sumber kekuasaan itu, tidak memiliki akses sedikit pun terhadap negara. Mereka merasa tidak memiliki negara dan teralienasi dari lembaga politik itu. Namun jika ditinjau lagi pemikiran Marx tersebut tidaklah proporsional. Ditinjau dari segi pengalaman empiris-historis, secara objektif negara memiliki dua wajah yaitu; berwajah manusia dan berwajah hewan buas (dalam istilah Hobbes, Leviathan). Negara berwajah manusia berarti ia punya sifat-sifat luhur manusia: pengayom, penyayang, melindungi dan lain-lain. Negara berwajah binatang buas adalah negara yang koersif, bengis, kejam, penindas, tidak berprikemanusiaan dan seterusnya. Negara yang dikritik Marx adalah Negara yang berwajah binatang buas. Marx merupakan Negara yang berwajah manusia. Artinya Marx mengabaikan kenyataan bahwa negara bukan tidak mungkin menjadi organ atau alat penting untuk mesejahterakan manusia. Negara seperti kata Hegel dan Rousseau, dapat berfungsi memberikan kebebasan kepada warga negara suatu kebebasan hakiki.
Perlu dipahami, bahwa Marx hidup pada abad XIX yang peradaban industrialisnya cenderung menunjukkan keberpihakan kepada kelompok minoritas kaum borjuasi kapitalis dan menyengsarakan kelompok mayoritas kelas proletar. Proses industrialisasi di Inggris misalnya, telah menciptakan kesengsaraan kepada kaum buruh, tidak saja buruh laki-laki dewasa tetapi juga buruh wanita dan anak-anak. Banyak peristiwa mengharukan di lorong-lorong penggalian batubara bawah tanah dan pabrik-pabrik kapitalis (tewasnya buruh anak-anak dan wanita-wanita hamil karena sakit, kelaparan dan tidak adanya jaminan kerja) yang disaksikan Marx membenarkan asumsi bahwa negara kapitalis akan selalu berwajah binatang buas.

Mungkin inilah yang menjadi alasan mengapa Marx melihat negara hanya sebagai alat borjuasi kapitalis semata. Meskipun tentu saja alasan ini tidak bisa menghapus kenyataan bahwa negara juga bisa berwajah manusia.

Persoalan Marx tentang eksistensi negara juga karena ia merasa lembaga itu tidak ada gunanya bila cita-cita kelas proletar, masyarakat tanpa kelas, tercapai. Menurut Marx, dengan adanya masyarakat tanpa kelas, maka tidak akan ada penindasan manusia atas manusia. Tidak ada lagi orang yang merampok, mencuri dan memperkosa. Marx berpikir apakah aparat kepolisian (negara) yang koersif itu tetap diperlukan jika di dalam masyarakat tidak lagi ada antagonisme kelas, tidak terjadi pertarungan memperebutkan pekerjaan, alat-alat produksi, dan kejahatan sosial karena semua anggota masyarakat telah merasakan kehidupan sejahtera sama rata sama rasa? Karena itu yang harus dijadikan prioritas pertama perjuangan kelas proletar bukanlah menciptakan negara, melainkan mencipta masyarakat tanpa kelas itu. Dengan masyarakat tanpa kelas, negara dengan sendirinya akan lenyap. Tanpa dihancurkan negara akan lenyap dengan sendirinya. Inilah proses sejarah yang disebut Marx proses ‘lenyapnya negara’.

ALIENASI

Marx menghargai komunisme di atas segalanya karena komunisme akan menghapuskan alienasi dalam keragaman maknanya pada konteks-konteks yang berbeda. Alienasi bisa digambarkan secara longgar seperti tiadanya makna dalam diri individu. Dalam definisi ini, alienasi secara tidak langsung tidak berarti tiadanya apresiasi terhadap suatu makna. Namun, definisi terakhir ini bisa memberikan suatu motivasi untuk melakukan tindakan tertentu.

Pertimbangan tiadanya realisasi-diri yang merupakan salah satu bentuk alienasi yang paling penting. Jika alienasi mengambil bentuk keinginan realisasi-diri yang tidak biasa dipuaskan, ia bisa memotivasi keinginan realisasi-diri yang tidak bisa dipuaskan, ia bisa memotivasi orang-orang untuk menciptakan suatu masyarakat sebagai sarana untuk memuaskan keinginan itu dengan mengasumsikan bahwa mereka mempercayai masyarakat seperti itu bisa diciptakan. Ketika mereka terseret kedalam konsumsi massal yang pasif, bukannya secara aktif berusaha mencapai realisasi-dirinya masing-masing, itu bukan disebabkan tiadanya peluang-peluang untuk mencapai realisasi-diri ini, tapi karena mereka tidak memiliki keinginan seperti itu.

Marx menempatkan fenomena alienasi dalam tahap sejarah yang sama, tapi pada tingkat individu-individu. Perbedaan antara individualisme etis Marx dan holisme etis Hegel. Marx percaya bahwa kehidupan yang baik bagi individu adalah kehidupan yang memungkinkan realisasi-diri secara aktif. Kapitalisme menawarkan memang peluang ini bagi segelintir orang, tapi menolak memberikannya bagi masyarakat banyak. Di bawah komunisme, setiap individu akan menikmati satu kehidupan yang aktif, kaya dan bermakna. Sekalipun ini amat berkaitan dengan kehidupan masyarakat, ia akan menjadi kehidupan realisasi-diri. Bagi Marx, realisasi-diri bisa didefinisikan sebagai aktualisasi dan eksternalisasi kekuatan-kekuatan dan kemampuan-kemampuan individu secara penuh dan bebas. Pertama-tama, kita cermati terlebih dahulu realisasi-diri secara penuh ini. Merupakan salah satu gagasan utopian Marx bahwa di bawah komunisme, tidak ada lagi tukang cat, melainkan seseorang diantara orang-orang lainnya yang juga mengecat. Namun, ini yang lebih penting, bahwa cara penerapan gagasan realisasi-diri akan mengatasi dirinya sendiri karena ia tidak memungkinkan siapapun juga yang akan mengambil manfaat dari meningkatkan kegunaan marjinal yang menjadi alasan utama pemilihan cara aktivitas ini terhadap konsumsi. Kebebasan realisasi-diri tidak dengan sendirinya berarti bahwa sebuah masyarakat yang baik akan menjamin hak anggota-anggotanya dalam mengembangkan bakat-bakat yang mereka sukai. Jika banyak orang menggunakan hak ini untuk memilih bentuk-bentuk realisasi-diri yang sangat tergantung kepada sumber-sumber material ,tanpa disertai sebagian anggota lainya yang memilih untuk menyadari dirinya sendiri dalam mendukung penciptaan sumberdaya,maka akan terjadi destabilitas sosial. Benar Marx mungkin dianggap telah mengatakan bahwa masyarakat komunis akan menjadi masyarakat ideal yang penuh dengan keberlimpahan, tanpa kelangkaaan sumberdaya yang akan menghambat pencapaiaan realisasi-diri. Model-model Marx untuk merealisasi-diri adalah para seniman, ilmuwan atau pekerja seni masa pra-industri, bukan buruh industri. Sekalipun dia seringkali menekankan bahwa tidak ada titik balik dalam produksi industri, ini tidak bisa menjelaskan secara memuaskan bagaimana mungkin ada ruang untuk kerja kreatif dalam pabrik modern, kecuali dalam beberapa analisis tentang semakin meningkatkan peran ilmu dalam produksi.

Dalam konteks di atas, alienasi dapat dipahami dari berbagai perspektif. Ia bisa semata-mata berarti tiadanya realisasi-diri. Ia juga bisa berarti tiadanya peluang-peluang realisasi-diri baik atau tanpa keinginan untuk mewujudkan realisasi-diri baik atau tanpa keinginan yang dihalangi oleh keengganan menempuh risiko atau penumpang gelap –tanpa atau dengan peluang–peluang realisasi-diri. Marx memberikan penekanan yang hampir eksklusif pada tiadanya peluang-peluang untuk realisasi-diri dalam masyarakat.

SOSIALISME

Sosialisme Marx sangat berbeda dengan sosialisme yang lain, menurut Marx bahwa ia berdasarkan pada penelitian syarat-syarat obyektif perkembangan masyarakat. Marx mengklaim bahwa sosialismenya adalah “sosialisme ilmiah”. Sosialisme tidak akan datang karena dinilai baik atau karena kapitalisme dinilai jahat, melainkan karena, dan kalau, syarat-syarat obyektif penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi terpenuhi.

KARYA-KARYA MARX

Marx telah menghasilkan karya-karya yang meliputi 3 kategori yaitu filsafat, sejarah dan politik serta ekonomi. Dari karya-karyanya ini Marx tampil di dunia akademis bukan saja sebagai pemikir tapi juga sebagai seorang filosof.
Ada beberapa karya Marx yang berupa pamflet, manuskrip, kumpulan surat, dan sejumlah esai yang baru di temukan dan diterbitkan setelah ia meninggal dunia. Di dalam pengkategorian ini ditemukan bahwa tema yang satu sering melingkupi tema yang lain. Kemudian hal lain bahwa Marx mengembangkan tradisi penulisan bersama dengan Ferderick Engels.
1. karya-karya di bidang filsafat
 Uber die Differenz der democratischen und apikuraischen Naturephilosophie, adalah disertasi Marx untuk mencapai gelar doctor dalam ilmu filsafat di Universitas Jena 15 April 1841. Terjemahan Inggris The Difference Between The Natural Philosophi Of Epicurus (London 1902).
 Kritik des hegelschen Staatsrechts (1843), termuat dalam die fruschriften. Publikasi Inggris, criticism of the Hegelian philosophy of law (London).
2. Karya-karya dibidang sejarah dan politik
 Manifest der kommunistischen partey (1848), ditulis bersama Engels berupa pamflet-pamflet untuk dijadikan pedoman “ Liga Komunis “ yang didirikan di Brusssel. Manifesto memuat 4 bagian pokok : bagian historis, bagian ramalan, bagian moral dan bagian revolusioner. Diterjemahkan oleh Max Eastman, Manifesto the Communist Party (New York 1932).
 Revelation of the diplomatic history of the eighteenth century (1856), diedit kembali oleh putri Karl Marx, Eleanor Marx Aveling, Secret Diplomatic History of The eighteenth century (London 1899).
3. Karya-karya di bidang ekonomi
 Das Kapital, Kritik der Politischen Okonomis (1850-1866), sebuah karya monumental dan termasuk salah satu buku yang merubah dunia “ Books that change the world ”. Ketika ditulis menghabiskan waktu selama 17 tahun, diterbitkan selama 3 volume.
 The Procces of Capitalist Production. Vol.II. The Procces of Circulation Capital. Vol III. The Procces of Capitalist Production as a Whole Vol.I. dalam bahasa Jerman sampai cetakan ke empat diberi kata pengantar oleh Marx.

Iklan
Komentar
  1. shodiq berkata:

    terimaksih materinya,….
    kalau boleh tahu, sumbernya dari mana ya???
    terimakasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s