Mudik: Berburu Tiket Balik (2)

Posted: 24 Agustus 2010 in Cerita

Perjuangan untuk mudik ke kampung halaman saat lebaran tak cukup ketika tiket ke daerah sudah di tangan. Perjuangan masih harus terus dilanjutkan untuk memperoleh tiket balik. Tak mungkin hati jadi tenang tanpa adanya jaminan untuk bisa balik lagi ke ibukota. Hati resah senantiasa membayangi ketika tiket balik belum tergenggam.

Untuk mendapatkan tiket balik perjuangannya tak sama ketika harus berjuang bagi keberangkatan. Tim “pemburu tiket mudik” bubar begitu ada kepastian sehingga perjuangan harus dilakukan individual. Bayangan tak mendapat jatah tiket kereta api terus ada meski tak separah sebelumnya. Hal ini tak bisa lepas dari “kesaktian” kecepatan habisnya tiket yang bisa merobohkan harapan dalam hitungan menit saja.

Perjuangan dimulai ketika seorang kawan memburu tiket balik Surabaya-Jakarta untuk 14 September 2010. Pagi buta dengan kabut tebal ibukota tak menyurutkan langkah kami untuk menuju stasiun. Tentu saja untuk mengantre tiket agar dapat urutan “emas”. Kedatangan pagi itu berbuah hasil, dapat urutan antre nomor lima. “Peluang untuk dapat tiket pasti besar dengan urutan seperti ini,” papar kawan dengan hati berbunga.

Setelah lebih dari dua jam menunggu akhirnya loket pun dibuka. Semua mata tertuju pada monitor meski angka yang tertera tak pada dasarnya menunjukkan ketersediaan tiket mudik, bukan balik. Aku tak ikut dalam antrean itu karena sudah dilakukan oleh kawan. Aku hanya sibuk memandangi stopwatch untuk menghitun g waktu habisnya tiket. Tentu saja, hati berdegup tak jelas ikut mengiringi.

“Gila!” Kata itu spontan terucap ketika dengan cepatnya tiket ludes. Thanya dalam hitungan lima menit, beberapa tiket KA habis terjual. Apa mau dikata, banyak yang harus mengalihkan kereta idamannya ke kereta lainnya yang sejurusan. Inilah jurus alternatif yang sering dipakai para pengantre untuk mengakali habisnya tiket kereta idaman.

“Edan, hanya lima menit tiket habis. Tak masuk akal bila hanya dalam hitungan lima menit sudah habis meskipun semua stasiun di Jawa on-line dalam pelayanan penjualan tiket,” komentar kawan setelah mendapat tiket.

Kawan ini pun juga jadi “korban” jurus alternatif untuk memperoleh tiket. Tiket kereta yang ia harapkan pun kabur dan harus diganti dengan lainnya. Tak ada pilihan lain asalkan bisa kembali ke Jakarta sesuai jadwal yang diinginkan. “Pokoke iso balik,” tegasnya.

Selang beberapa hari kemudian, dengan seorang kawan, aku kembali berburu tiket. Berburu tiket untuk balik ke Ibukota dengan segala keruwetannya. Pagi nan dingin bukan halangan untuk perjuangan ini. Akhirnya, kami pun berangkat setelah subuh. Di Stasiun Tanah Abang, deretan manusia pengantre sudah terbentuk rapi dalam barisan. “Yah, kita urutan antrean ke sepuluh,” ujar ku kepada kawan.

Setelah dua jam lebih menunggu, loket pun dibuka. Semua berharap cemas, takut tak kebagian tiket yang ludes dengan begitu kejam. Tatkala sampai pada giliran kami, semua tiket kereta jurusan Surabaya-Jakarta untuk 30 hari ke depan ludes. Kecewa pun tak terhindar, tapi harapan masih tersisa karena besoknya masih bisa berburu lagi.

Berangkat setelah subuh jadi pelajaran berharga bagi kami. Esoknya, kami pun berangkat setelah makan sahur, sebelum subuh. Sesampai di Stasiun Tanah Abang, nomor antrean bagus kami dapat. Ya, mendapat urutan pertama dalam antrean, keren! Hati tenang pun tak terhindar dengan anteran bagus ini. Tinggal menunggu waktu saja untuk mendapat tiket. “Pasti dapat,” ujar ku kepada kawan penuh optimisme.

Loekt dibuka, dan blanko pemesanan pun dilayangkan kepada petugas. “Senja Kediri, Bangunkarta, Gumarang, dan Sembrani pak,” kata kawan kepada petugas. “Masih kosong semua mas, belum dibuka,” jawab sang petugas loket. Kami pun terus menunggu di deretan paling depan, tak peduli antrean yang ada di belakang.

Setelah beberapa menit, tiket kereta yang disebut di atas tak kunjung bisa diakses meskipun jam sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Aneh sekali, on-line harusnya buka secara bersamaan, bukan bertahap. Tak pelak, tiket KA Bangunkarta habis setelah ditanya berkali-kali sebelumnya. KA Senja Kediri tak kunjung juga dibuka aksesnya meski sudah pukul 07.25 WIB. “On-line apa ini, busuk!” gumam ku.

Tak mau ambil pusing, kami pun pergi meninggalkan stasiun. Sistem on-line PT KA “menipu” kami. Sunguh on-line yang menyengsarakan karena setengah-setengah dalam memanfaatkan teknologi. Bisa dikatakan hanya sekedar untuk gagah-gagahan saja. Namun apa boleh buat, tak ada pilihan lain untuk bisa memanfaatkan jasa KA sellain harus mengantre.

CALO

Mengantre tiket di stasiuan membuat kami berpikir aneh. Mulai dari merusak antrean hingga mengangakan “profesi” menarik menjual tiket. Mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari tingginya permintaan masyarakat. Keuntungan pasti bisa diraih dengan mudah tanpa harus kerja terlalu keras. Apalagi kalau bukan jadi calo tiket.

Ngene iki sing paling enk dadi calo. Pasti bathine akeh. Yakpo nek riyoyo kesuk dadi calo ae rek?” ujar seorang kawan dalam melihat banyaknya antrean dan cepatnya tiket ludes terjual.

Fenomena calo bukanlah hal asing kala mudik tiba. Bahkan di hari-hari biasa merajalela dengan terbuka. Siapa pun pasti ditawari tiket ke kota tujuan tertentu kala masuk ke Stasiun oleh seseorang dengan berbisik. Entah, mereka dapat tiket itu dari mana. Apakah beli dengan mengantre seperti penumpang lainnya, atau dengan cara luar biasa.

Di berbagai media massa, pihak PT KA bekoar-koar memberangus calo tiket. Namun apa buktinya? Seseorang bercerita kalau ia mendapat tiket dari calo. Tak perlu antre, cukup memberikan uang lebih di atas harga resmi. Tak perlu susah payah menginap di stasiun dengan berjuang keras menahan kantuk yang menyengat.

“Teman ku dapat tiket dengan beli di calo. Ia tak antre, cukup pesan saja ke seseorang dengan adanya jaminan kepastian mendapat tiket,” papar seorang kawan itu.

Busyet dah! Belum H-30 keberangkatan sudah mendapat jaminan dapat tiket dan hal itu terjadi secara nyata. Kira-kira, calo tersebut bekerjasama dengan siapa ya???

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s