Mudik: Berburu Tiket KA (1)

Posted: 16 Agustus 2010 in Cerita
Tag:, , , , , , ,

Menjelang lebaran Idul Fitri, tiket mudik dan balik adalah satu rangkaian dalam bingkai sembako. Tiket mudik dan balik jadi hal sangat penting yang harus dipenuhi selayaknya sembako. Harus berjuang keras untuk mendapatkannya dengan berbagai macam cara. Tiket di tangan hati pun lega. Tak lagi punya bayangan harus berlebaran di ibukota atau bergelut dengan kemacetan pintu keluar tol Cikampek hingga puluhan jam.

Kereta api tetaplah jadi moda transportasi terfavorit untuk mudik dan balik lebaran. Calon penumpang berjubel di beberapa stasiun untuk bisa mendapatkan tiket sesuai tanggal yang diinginkan pada H-30 sebelum keberangkatan. Alhasil, pada H-30 keberangkatan tanggal favorit mudik/balik lebaran penumpang pun berjubel. Antrean panjang pun tak terhindarkan, bahkan menginap di stasiun hingga dua malam pun jadi keniscayaan.

Mudik 2010 punya cerita tersendiri. Mudik tahun ini beda dengan sebelumnya karena suka-duka untuk bisa ke kampung halaman punya cerita lebih ”mengesankan”. Meski mudik belum terlaksana, cerita sudah terukir. Cerita tentang bagaimana harus berjuang untuk mendapatkan tiket kereta api ke Surabaya. Banyak kisah yang didalamnya berisi suka-duka di ”penginapan” umum, Stasiun KA Gambir dan Tanah Abang.

Minggu, 8 Agustus 2010. Matahari sudah masuk ke peraduannya, tapi tanda-tanda kepastian untuk ”menaklukkan” Stasiun Gambir belum ada titik terang. Beberapa hari sebelumnya, sempat tersiar kabar untuk menginap di Stasiun Gambir guna mendapat tiket idaman, keberangkatan H-2 pada 8 September 2010. Namun, pukul 8 malam, seorang kawan mengirim pesan singkat, ”sido nginep nang gambir ga saiki cak? Ayo tak tak kancani wis. Nek sido ayo maringene budhal.

Pesan singkat seorang kawan itu pun menggugah kembali semangat ku. Akhirnya ku putuskan untuk meng-iya-kan ajakan untuk berburu tiket mudik untuk keberangkatan 8 September 2010 pada 9 Agustus 2010. Selang beberapa menit, seorang kawan lainnya menghubungi, ”yakpo, sido ga nginep nang gambir? Aku iki bingung, durung oleh tiket. Nek sido aku melu.” Spontan saja ku jawab jadi berburu tiket. Akhirnya kami pun berjanji bertemu di suatu tempat menuju indekos kawan lainnya yang sedang menunggu kami.

Berbekal berbagai macam ”sesaji” untuk menginap, kami pun bersama pengantre lainnya mengelar koran. Beberapa menit kemudian, seorang kawan datang. Ia hendak bergabung juga untuk berburu tiket. Akhirnya, genap sudah kami berempat menginap di Stasiun Gambir bersama ratusan pengantre lainnya yang sudah bersiaga sedari lama. Obrolan seru pun mengalir seru di tengah sayup-sayup suara rombongan lainnya. Berbagai tema pembicaraan bergulir hingga tubuh memaksa kami untuk beristirahat.

Hari pun berubah jadi Senin, 9 Agustus 2010. Sejak pukul 00.00-04.00 WIB tak ada kativitas berarti, hanya terlihat tubuh telentang tertidur beralaskan koran karena lelah. Namun, sekitar pukul 04.15 WIB, keadaan berubah. Entah karena apa, semua orang di stasiun bergerak dengan spontan. Semua berebut tempat terdepan, dan antrean pun hancur. Untungnya, dua orang kawan dapat tempat strategis dalam antrean, pada posisi tengah deretan manusia yang sudah menunggu sejak semalam sebelumnya.

Di tengah kekhawatiran bakal tak kebagian tiket, tepat pukul 04.30 WIB, aku pun membangunkan adik di Surabaya. Ku paksa ia segera bangun dan segera antre juga di Stasiun Surabaya Gubeng. Tak hanya itu saja, beberapa kawan dan saudara juga ku kontak agar turut mem-back up perburuan tiket melalui telepon operator PT KA. Dari berbagai lini, anggota tim kami ”mengepung” pemesanan tiket KA. Kami ang sebelumnya berempat di Gambir kemudian berpencar, dua orang menuju Stasiun Tanah Abang. Ya, ke sana dengan asumsi sepi pengantre, tak separah Stasiun Gambir atau Pasar Senen.

Tiba juga di Stasiun Tanah Abang selepas adzan subuh. Anteran di stasiun ini tak separah Gambir atau Pasar Senen. Hanya terlihat 25 orang yang sedang berderet dengan posisi bersandar di tembok pembatas. Mereka seperti kami juga, sudah sedari kemarin malam menunggu loket pemesan di buka pada pukul 07.00 WIB. ”Wah, weruh ngene awak dhewe ga usah antri nang Gambir cak, cukup nang kene ae. Ga separah nang Gambir, antrine sek manusiawi. Iki kenek gawe pelajaran mudik tahun ngarep,” ujar kawan yang tampak ceria melihat deretan pengantre yang tak sepanjang di Stasiun Gambir.

Jam pun menunjuk pukul 07.00 WIB. Loket pemesanan kereta pun dibuka. Semua pengantre berharap cemas, mata senantiasa tertuju pada layar komputer yang menampilkan ketersediaan tiket. Tiket berkurang dengan cepat. Hanya dalam hitungan menit tiket sudah ludes (antaranews.com) Aku pun hanya berharap cemas karena takut tak kebagian tiket. Dari Gambir, dua orang kawan senantiasa mengabarkan keadaan di sana. Hati terus berdegup kencang karena tak ingin mengulangi pengalaman tahun lalu, perjalanan Jakara-Surabaya selama 24 jam di atas bus.

”Pesanan 4 buah tiket sudah aman. Pesanan tiket yang lainnya sudah habis.” Inilah pesan singkat yang sungguh melegakan. Adik di Surabaya mengabarkan sudah mendapatkan tiket untuk Jakarta-Surabaya pada keberankatan 8 September 2010. Perjuangan kami yang harus menginap di stasiun ternyata nihil. Namanya saja usaha karena pengalaman tahun sebelumnya yang menggantungkan ke satu orang adalah pelajaran berharga. Akhirnya mudik pun pasti terlaksana hanya menyisakan satu kegelisahan lagi, ”apakah tiket untuk balik sudah aman?”

Komentar
  1. wahyu-ZR mengatakan:

    slm knl mas,
    jd beli tiketnya di Stasiun Tujuan kita,bisa ya mas?

    • arief setiawan mengatakan:

      salam kenal juga….
      iya, beli tiketnya di stasiun tujuan dan itu bisa. Yap, syaratnya, stasiun tujuan itu sudah online…

      • wahyu-ZR mengatakan:

        OC…maturr suwun infone mas…buat m’hdpi lebaran taun dpn lg…Kmrin bgtu percaya sama model OnLine akan dpt tiket,tnyta sama aza…😉

        • arief setiawan mengatakan:

          Yap, ini juga hasil dari pelajaran lebaran tahun lalu. Terlalu percaya pada satu pijakan, dan gagal. So, akhirnya tahun ini melakukan berbagai cara buat dapat tiket..:’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s