“Akan” dan Citra Politik

Posted: 26 Juli 2010 in Politik
Tag:, , , , , ,


Sumber gambar: Harian Kompas (24/7/2010)

“Akan”. Itulah kata kunci untuk menggambarkan keseriusan penguasa Indonesia masa kini. Mereka mengumbar janji dengan buaian kata sakti “akan” ketika ditagih komitmen. Namun, “akan” di sini banyak tak mencerminkan sebuah kesungguhan. Dalam bahasa politik “akan” di sini hanya berarti retorika belaka, tanpa aksi nyata. Kata “akan” tersebut diumbar secara sadar kepada khalayak tanpa tahu kapan hal itu jadi kenyataan.

Pastilah masih melekat kuat dalam ingatan beberapa janji yang diumbar beberapa waktu lalu. Mulai dari kampanye, mereka berjanji akan berkomitmen kuat terhadap penegakkan hukum, baik itu memberantas korupsi, keadilan bagi korban pelanggaran HAM masa lalu, atau bentuk lainnya. Perjalanan waktu pasca kampanye 2009 juga menyisakan banyak “akan” ketika berhadapan dengan publik. Banyak sekali hingga sulit untuk didata dalam daftar janji.

Salah satu janji tersebut adalah soal penuntasan skandal Bank Century. Presiden kala itu berjanji untuk menuntaskan kasus tersebut melalui prosedur yang berlaku. Tak hanya skandal ini, Presiden juga berjanji “akan” memproses berbagai macam kasus yang merebak, terutama korupsi. Terkait hal lain, Presiden dalam kampanyenya juga berjanji akan berkomitmen untuk menegakkan HAM di tanah air. Namun, dari sekian banyak janji itu, banyak hal yang tak juga diwujudkan nyata, bahkan ada yang kontradiksi.

Salah satu kontradiksi tersebut terjadi pada skandal Bank Century. Ketua Komisi III DPR Benny K Harman yang notabene berasal dari partai yang sama dengan Presiden Yudhoyono (Partai Demokrat) mengatakan sesuatu hal paradoks. Secara terbuka ia ingin, bahkan agak ngotot, agar kasus tersebut ditutup secara hukum (detik.com, 26/7). Tentu saja, hal ini bukanlah wewenangnya karena menurut rekomendasi DPR, kasus itu diserahkan ke aparat penegak hukum. Dan DPR tak punya hak untuk itu.

Begitupula soal penegakkan HAM. rekomendasi DPR periode 2004-2009 tak digubris sama sekali oleh Presiden. Rekomendasi untuk membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc kasus penghilangan orang secara paksa tak dapat reaksi. Hal ini sangat jauh dengan janji yang pernah diutarakan ketika musim kampanye sedang bersemi pada 2009 lalu. Selain itu, masih banyak lagi kata “akan” yang berserakan di berbagai tempat.

Dengan kondisi demikian, tentu saja harus jadi koreksi kita semua. Apakah “akan” itu bermakna retorika untuk pencitraan diri atau memang benar sebagai sebuah janji. Tak layak untuk menyesali pilihan karena itu sudah diputuskan dalam Pemilu 2009 lalu. Hanya menyisakan untuk menagih janji itu. Apakah Anda merasa ditipu/tertipu saat ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s