MK HI: dari Peserta Menuju Panitia

Posted: 26 Juni 2010 in Arbiter
Tag:, , , , ,

Mendengar kalimat Malam Keakraban (MK) menjadi teringat suasana 7 tahun silam saat awal menjadi mahasiswa. Jujur saja, keikutsertaanku kala itu setengah-setengah, belum sepenuhnya “ikhlas” untuk meramaikannya. Gambaran-gambaran “seram” juga muncul dibenakku. Semua pasti mengalami hal itu saat jadi mahasiswa baru.

Tiba juga waktunya berangkat. Truk membawa serombongan mahasiswa dari Surabaya menuju Cuban Talun, Batu. Upacara pembukaan dimulai, tak ada tanda-tanda apa pun tentang “keseraman” itu. Hawa dingin pegunungan mulai menusuk seiring masuknya matahari ke peraduannya. Acara hendak dimulai, jurit malam. Dari celah-celah tenda ku lihat banyak sekali senior sedang berkumpul. Lebih banyak dari yang kulihat saat siang. Ternyata mereka dari angkatan-angkatan atas, kalau tidak salah, mulai dari 1996 hingga 2001. Bercampur merapatkan barisan untuk memulai jelajah malam membelah hutan.

Jelajah pun dimulai. Kelompokku jadi peserta terakhir yang diberangkatkan. Ya, akhirnya diberangkatkan juga setelah sekian lama bertarung dengan dinginnya angin pegunungan. Jalan terjal penuh halangan kami hadang. Rawa dan sungai pun diterabas. Ku lihat banyak sekali angkatan-angkatan selain panitia (2000 ke bawah) dalam perjalanan itu. Di subuh nan wingit, tuntas sudah perjalanan itu. Tubuh terasa remuk-redam saat bangun karena kelompok kami datang paling akhir dan harus bangun di waktu yang sama juga dengan lainnya.

Pagi pun menyambut dengan riang meski badan sebenarnya memberontak, masih kelelahan. Yel-yel pun berkumandang. “Isinya 7 orang Palestina namanya….atau, Tu..wa..bang..ka..uf..uf..ah..uf..uf..ah.., atau lainya.” Bergantian tiap-tiap kelompok. Senyum tersungging tampak pada air muka para senior saat melihat pertunjukkan kami. Yel-yel dengan segala keanehannya. Sepanjang siang hingga matahari bersembunyi dibalik tabir.

Sambil menyambut malam, api unggun telah disiapkan. Melantunlah lagu sambutan atas memerahnya api. “Api kita sudah menyala…api kita sudah menyala…” Pertunjukkan dari tiap-tiap angkatan digelar. Kami pun membaur jadi satu, tak peduli senior, panitia, atau peserta. Ternyata tiap angkatan hingga 1996 hadir, tentu tak semuanya, tergantung jumlah tiap-tiap angkatan. Aku tak tahu apakah ada angkatan yang lebih jauh lagi atau tidak.

Parodi yang disajikan angkatan 1999 saat itu sungguh memesona. Mereka dengan totalitas menyuguhkan hiburan segar dikala kantuk tak tertahan. Kami sebagai peserta juga mementaskan pertunjukkan. Begitu pula angkatan-angkatan lainnya. Akhirnya, malam pun ditutup dengan penuh ke-ria-an meski badan terasa remuk. Serangkaian acara pun harus diikuti hingga selesai. Tentunya sampai inisiasi di air terjun. Saat pulang, sepanjang perjalanan balik ke Surabaya, kami menyanyi tanpa henti dalam kotak kecil menuju Surabaya. Dua orang senior, Musadin (99) dan Aven (98), yang satu truk dengan kami akhirnya batal menjalankan niatnya untuk tidur (sori…).

Setahun kemudian status kami berubah, jadi panitia. Cuban Rondho di Batu jadi tempat acara tersebut. Tugas sebagai pioneer menghadang. Namun, kondisi engkel kaki akibat cedera memaksa tak bisa maksimal. Harus melawan dingin menusuk tulang hingga terasa ditusuk-tusuk. Dengan kekuatan 7 orang melambai Cuban Rondho. Tanpa bekal, tanpa alat memadai, juga ketakutan karena tak ada penerangan. Setelah lama menunggu, rombongan kedua datang (padahal berangkatnya bareng lo:D). Kemudian se-regu pasukan “berani mati” dari 2001 datang juga. Mereka turut meramaikan malam dengan membantu pioneer.

Seperti sebelumnya, banyak angkatan atas yang meramaikannya. Aku mengenalnya dengan pasti. Mulai dari 1996 hingga 2001 turut meramaikan hajatan tahunan ini. Jadi satu bagian yang tak terpisahkan satu sama lain.

Aku pun tak melepaskan pertemuan besar ini. Cucak Rowo versi punk pun digagas. Malahan, juga “theme song” yang membuat semuanya kabur kala mendengarnya. Apalagi kalau bukan lagu “legendaris”, “Sirsat.” (Mas tuhan, Mbak Icha, Mas Ady mantan Kahima, Mas Bill, mau ga dengerin lagu itu lagi?:D). Gila. Hanya itu jawaban yang ada.

Malam kedua di camp pun selalu dilalui seperti tahun lalu, api unggun. Semuanya berkumpul tanpa membedakan apakah panitia, senior maupun peserta. Bertemu dalam riuh-rendahnya hangatnya api disela hawa dingin yang menusuk. Pagi menyambut, malam pun pergi. Inisiasi pun dilakukan. Cukup jauh dan menyita tenaga karena jarak dengan camp “tak bersahabat.” Namun, toh semuanya dapat terlaksana juga berkat dukungan semua yang hadir.

Semuanya berakhir, saatnya bertemu dengan kenyataan, kembali ke Surabaya. Dalam perjalanan, nyanyian-nyanyian seperti saat jadi peserta tak terdengar lagi. Semua terlelap dalam mimpi meski bersama barang bawaan yang berat. Sebenarnya banyak cerita didalamnya yang tentu saja tak ku alami. Masing-masing punya pengalaman sendiri-sendiri didalamnya.

Untuk MK yang terbaru (2008), aku tak tahu bagaimana keadaannya. Apa yang hendak diceritakan karena memang tak hadir karena faktor jarak. Entah apa saja yang terjadi didalamnya. Apakah lebih ramai dari pengalaman di atas, atau malah sebaliknya. Aku tak berhak berkomentar apa-apa karena tak terlibat secara langsung. Semoga tahun lalu dan selanjutnya lebih “meriah” dari sebelumnya.

Jakarta, awal 2009

Iklan
Komentar
  1. yoga berkata:

    mas, ayo dateng MK taun iki,, hahahahaha
    seru sawangane mas,

  2. arief setiawan berkata:

    hmmm…ga janji aq, semoga wae iso..:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s