Menanggalkan “Inferioritas”

Posted: 16 Juni 2010 in Politik
Tag:, , , , , , ,

“’Kebenaran’ harus dipahami sebagai sebagai suatu sistem prosedur-prosedur yang teratur…’Kebenaran’ dihubungkan dalam relasi sirkular dengan sistem-sistem kuasa yang menghasilkan dan mempertahankannya, dan dihubungkan pada efek-efek kuasa yang dipengaruhinya dan meluaskannya. Suatu ‘rezim’ kebenaran”. (Foucault)

Seringkali kita masih terjebak pada definisi kekuasaan dan kaitannya dengan kolonialisme pada batasan fisik. Kekuasaan dan kolonialisme sebagai bentuk rezim penindasan oleh penguasa terhadap obyek sangat dipengaruhi dan dinilai sebatas hard power semata. Penindasan oleh penguasa menjadikan obyek kekuasaan terbelenggu dan tunduk secar fisik, tidak dapat melakukan aktivitas dan mobilitas. Suatu bentuk penyiksaan atas tubuh, dan menjadikannya untuk terus takluk pada pemilik kuasa. Dilihat secara kasat mata, hal ini merupakan bentuk kolonialisme dengan menguasai suatu teritorial tertentu dengan segenap isi didalamnya, dan mengakibatkan penderitaan bagi obyek kekuasaan. Tetapi disini kita akan menggali penyebab hal itu jika ditilik dari kesadaran apa yang hendak dibentuk?

Imperialisme dan kolonialisme bangsa barat terhadap bangsa timur tidak hanya diakibatkan oleh penggunaan hard power mereka semata, tetapi melihat sisi penggunaan budaya barat terutama Eropa (baca: ideologi) soft power sebagai faktor determinan. Disini, kajian orientalisme dapat dijadikan pisau analisis untuk mengoyak makna imperialisme dan kolonialisme yang dialami bangsa timur. Mencoba untuk menganalisis superioritas budaya barat dalam melanggengkan imperialisme dan kolonialisme.

Bangsa barat terutama Eropa (ideologi), pada awal dimulainya imperialisme dan kolonialisme sekitar abad XV mempunyai tujuan kejayaan dan kebesaran bangsanya. Untuk itu, perlu adanya penaklukan daerah lain dengan cara apapun untuk kejayaan mereka, jika perlu dengan perang. Mereka melakukan penaklukan dangan asumsi, bangsa diluar Eropa adalah primitif, dan budayanya tidak manusiawi. Karena itu, perlu diadakannya serangkaian upaya penyeragaman kebudayaan agar sesuai dengan budaya Eropa yang (dianggap) lebih maju dengan cara memaksa mereka untuk memaksa bangsa timur untuk meninggalkan budayanya, dan meniru barat. Proses ini tidak hanya dalam jangka pendek, tetapi menjadi proyek besar jangka panjang supaya kesadaran timur sesuai mainstream barat. Proses sosialisasi dan internalisasi terus menurus dilakukan supaya lebih meresap dan menjadi pedoman dalam bertindak. Dari proses ini diharapkan; segala tindakan bangsa timur sama dengan bangsa barat sehingga timbul perasaan inferior jika menjunjung lokalitas.

Dari sini dapat ditarik benang merah antara dominasi budaya barat dengan imperialisme dan kolonialisme. Proyek penyeragaman kebudayaan oleh barat terhadap timur menjadikan individu bangsa timur sebagai manusia satu dimensi, manusia yang tidak mempunyai alternatif-alternatif pilihan selain yang ditawarkan oleh barat. Dibentuk sebagai individu yang mempunyai kesadaran inferior atas lokalitasnya, dan memandang superior budaya barat. Fenomena ini mengakibatkan kekuasaan yang ditancapkan oleh barat semakin mengakar karena mereka menanam kekuasaan mereka dalam ranah kesadaran. Kesadaran untuk terus tunduk dan patuh akan kekuasaan yang menindas mereka, kekuasaan yang abstraktif dan ilusif sehingga tetap tidak sadar jika mengalami imperialisme dan kolonialisme.

Untuk itu, diperlukan suatu refleksi atas bentuk imperialisme dan kolonialisme tersebut. Refleksi yang berpondasikan kesadaran akan pengetahuan yang dominan.
“Adalah kata-kata yang memberi makna sesuatu yang masuk dan keluar dari diri kita. Adalah kata-kata yang menjadi jembatan untuk menyeberang ke tempat yang lai. Ketika kita diam, kita tetap sendirian. Berbicara kita mengobati rasa sakit. Berbicara kita menjalin persahabatan dengan yang lain…Dengan menggunakan kata-kata, kita memperbaharui diri kita”. (Subcomandate Marcos, Kata adalah Senjata, 2005)

Secara praktis, Edward Said menawarkan suatu bentuk dialog peradaban antara barat dan timur untuk mengakhiri kondisi asimetris yang terjadi. Dengan asumsi superiorias pada barat, dan inferioritas timur yang diakibatkan oleh proses panjang penyeragaman kesadaran, maka diperlukan suatu dialog diantara keduanya. Suatu dialog yang mana kedua belah pihak mempunyai kapabilitas, kapasitas, dan aksestabilitas yang sama supaya perasaan-perasaan tersebut dapat diminimalkan.

Dialog antar peradaban yang ditawarkan oleh Edward Said ini menggunakan formulasi untuk menjembatani kondisi asimetris dalam kebudayaan. Edward Said menawarkan supaya kebudayaan timur dalam proses ini menggunakan eksistensi lokalitas mereka sebagai sarana untuk dimaksimalkan, menghidari inferioritas terhadap barat. Sedangkan barat, disarankan untuk tidak merasa superior karena hal ini tidak akan membawa dampak pada kemajuan proses ini. Dialog ini apabila berjalan dengan semestinya akan membawa dampak signifikan terhadap penyelesaian imperialisme dan kolonialisme di timur. Dengan kata lain, inferioritas dan superioritas yang melekat dalam benak masing-masing dilepaskan dengan membangun kesadaran akan peran masing-masing.

Dialog antar peradaban yang ditawarkan Edward Said untuk mengakhiri imperialisme dan kolonialisme mempunyai kelemahan. Sisi interaksi (komunikasi) yang terjadi diantara mereka kurang mendapatkan perhatian. Interaksi tidak akan dapat berjalan simetris karena didalamnya mengandung tujuan dan kepentingan untuk tetap mendominasi oleh yang kuat, dan merasa inferior bagi yang lemah. Karena itu, diperlukan suatu ruang publik yang bebas dari dominasi dalam proses dialog tersebut. Suatu ruang yang mana proses komunikasi tersebut menggunakan rasionalitas interaksi untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai.

Dari berbagai sumber.

Surabaya, 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s