Hawa dingin menyelimuti Kota Bandung ketika matahari hendak pergi ke peraduan. Sembari menunggu keberangkatan kereta api Mutiara Selatan yang akan emmbawaku ke Surabaya, aku terus memperhatikan gerak-gerik para calon penumpang. Stasiun Bandung sore itu tampak lain dari biasanya, lebih ramai dengan hiruk-pikuk manusia yang hendak bepergian ke luar kota untuk menikmati libur panjang.

Setelah menunggu dua jam, kereta api Mutiara Selatan pun bersiap untuk menggilas bumi. Tampak dari kejauhan, puluhan anggota TNI yang masih muda berlarian mengejar kereta yang sudah mulai berjalan pelan. Teriakan pun bersahutan kepada sang masinis, “tunggu dulu, tunggu dulu. Berhenti, berhenti!” Akhirnya, kereta pun berhenti sejenak untuk mengangkut mereka. Alhasil, seisi gerbong pun terasa penuh karena banyak dari mereka yang sejatinya tak mendapatkan tiket duduk.

Kereta pun menggilas bumi tanpa ampun, dan semua yang berada di dalam gerbong menikmatinya. Berharap kereta dapat tiba di kota tujuan tepat waktu. Maklum, kalau tidak terlambat berarti itu bukan ciri khas kereta api di Indonesia . Kereta yang penuh sesak akibat banyak anggota TNI yang tidak kebagian tempat duduk itu pun menyelesaikan misinya. Tiba di kota tujuan, Surabaya, dengan selamat. Tentu saja para penumpang tujuan Surabaya diberi hadiah spesial, kereta telat dua jam . Bonus yang sangat indah…

Surabaya pun menyambut dengan riang disertai umpatan karena keterlambatan itu. Mau bagaimana lagi, ini sudah takdir kereta api di negeri ini. Biar sedikit melegakan hati, semboyan lama pun jadi hiburan, “biar lambat asal selamat”. Paling penting lagi, Surabaya sudah ada di depan mata secara langsung. Kota yang bagiku punya jutaan kenangan dan tak mungkin untuk dilupakan begitu saja. Kota Pahlawan.

Menyiasati Luapan Lumpur

Surabaya bukanlah kota tujuan terakhir untuk perjalanan kali ini. Perjalanan masih menyisakan jarak sekitar 180 Km lagi kea rah tenggara Surabaya: Lumajang. Setelah beristirahat selamalima jam, akhirnya perjalanan pun dilanjutkan kembali. Namun, pergulatan bathin terjadi sebelum melakukan perjalanan. Apakah naik kereta api atau bus untuk menuju ke Lumajang?

Akhirnya, setelah mempertimbangkan banyak hal, kereta api jadi “korban” perjalanan selanjutnya. Mengapa? Apalagi kalau bukan karena lumpur lapindo yang menyengsarakan rakyat itu dan bisa menyebabkan kemacetan dahsyat. Mau tidak mau, menuju Lumajang harus melintasi Porong dan berarti harus berhadapan dengan lumpur. Daripada beresiko berhadapan dengan kemacetan, kereta api jadi alternatif untuk “menaklukkannya”.

Stasiun Surabaya Gubeng pun harus disasar lagi. Ya, menuju ke Lumajang dengan riuh-rendah manusia dalam gerbong kereta api Sri Tanjung jurusan Lempuyangan-Banyuwangi. KA kelas ekonomi ini harus jadi sahabat meskipun seorang teman memepertanyakan mengapa harus dengan itu.

“Tak ada pilihan lain. Untuk menuju Lumajang harus menggunakan kereta api ekonomi karena untuk kelas lainnya tidak ada. Kita harus menikmatinya,” jawabku dengan tersenyum.

Hawa panas di dalam gerbong KA Sri Tanjung tak bisa dihindari. Penuh sesak manusia dan harus berhentui di berbagai stasiun antara Surabaya Gubeng hingga Klakah (Lumajang). Setelah tiga jam perjalanan, akhirnya Stasiun Klakah (Lumajang) menyambut. Namun, ini bukanlah akhir dari perjuangan. Masih ada satu perjuangan lagi yang harus ditempuh.

“Ini masih jauh. Kita harus menempuh 30 Km lagi untuk sampai di tujuan yang sesuangguhnya,” paparku .

Bangil

Setelah dua hari menikmati keheningan, kembali ke realitas adalah suatu kepastian. Ibukota pun harus disasar. Namun, sebelumnya, Surabaya dulu lah yang harus “ditaklukkan”. Tak mungkin secara langsung bisa melakukan perjalanan dari Lumajang ke Jakarta tanpa harus transit di Kota Pahlawan ini. Terlebih dulu harus menyambangi “tukang pajak” yang senantiasa setia menunggu.

“Jangan naik kereta yang jam 10 karena hamper bisa dipastikan tak dapat tempat duduk. Aku pernah mengalaminya dan harus berlantungan di pintu,” ujar sang penasehat.

Dari Lumajang, perjalanan dilakukan menggunakan bis. Namun, perjalanan dengan bis tak sepenuhnya dilakukan. Kami memutuskan untuk berhenti di Bangil, Pasuruan, terlebih dulu untuk kemudian dilanjutkan dengan kereta api seperti biasanya. Dari bangil, bisa saja naik kereta api dari arah Blitar atau Malang karena pasti berhenti disini.

“Kereta Api Penataran Malang-Surabaya sudah berangkat setengah jam lalu mas. Kereta akan ada lagi pukul 14.00,” papar seorang petugas ketika menjawab pertanyaanku.

Namun, setelah ku lihat jadwal keebrangkatan KA, setengah jam lagi akan ada kereta yang melintas. KA Sri Tanjung akan melintas dan berhenti di stasiun Bangil. Setelah menunggu setengah jam lebih, kereta pun tiba. Kereta itu dating dengan penuh sesak penumpang. Toilet kereta pun diisi oleh penumpang yang menjadi “korban” sesaknya penumpang.

Aku pun harus menerima kenyataan itu. Berdiri tepat di pintu gerbong KA. Kawan satu itu pun tepat di belakangku dan ia dekat sekali dengan toilet.”Kenapa koq nyengir-nyengir terus? Bau ya?,” tanyaku padanya. “Ga apa-apa, ga bau koq,” jawabnya singkat saja.

Meski demikian, wajah lelah sangat tampak sekali di wajah kawan itu. Juga terliohat wajah agak sedikit marah karena harus berada tepat di depan toilet dan bergelantungan di pintu kereta. Wajahnya memerah, penuh peluh hingga tiba di Stasiun Surabaya Gubeng.

“Naik kereta api ekonomi adalah pengalaman pertama bagiku. Aku terakhir kali naik kereta seperti ini ketika masih kecil. Namun, perjalanan kemarin memberiku pelajaran bagaimana rasanya menjadi rakyat kecil,” cerita seorang kawan itun setelah tiba di tempat tujuan masing-masing.

Iklan
Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s