Lawan Fasisme!

Posted: 3 Juni 2010 in Politik
Tag:, , , , , , ,

“Jawanisme adalah taat dan setia membabi buta pada atasan, yang pada akhirnya menjurus kepada fasisme.” Pramoedya Ananta Toer [1]

Kutipan di atas mengingatkan pada sebuah roman berjudul Gadis Pantai karya pengucap kalimat tersebut. Karya yang langsung menusuk ulu hati bagi penganut budaya Jawa (tak terkait etnis) yang terrkenal dengan feodalisme-nya. Budaya yang senantiasa mengagungkan penguasa di atas segalanya hingga nurani pun harus tunduk pula demi sebuah pujian manis penuh kehampaan.

Tak bisa dipungkiri, feodalisme ala Jawa merupakan salah satu penyumbang terbesar bercokolnya kolonialisme dan imperialisme selama berabad-abad itu. Melanggengkan struktur kekuasaan yang timpang karena keuntungan besar dapat diperoleh dengan menjadi “penjilat”. Tanpa mengetahui dan mencoba memahami apakah itu harus ditaati atau ditolak.

“Keberanian kaum yang menyatakan dirinya bangsawan itu hanya pada rakyat pribumi. Mereka dengan gagah menginjak-injak dan menindas rakyat jelata. Namun, ketika berhadapan dengan orang asing, mereka hanya bisa diam: tunduk dan patuh tanpa syarat,”

Feodalisme yang mengakar tersebut menyebabkan rakyat menjadi korban dari keserakahan imperialis. Rakyat pula lah yang harus menanggung seluruh derita yang harus mereka hadapi. Para bangsawan itu pun hanya bisa melenggang dengan quasi of power yang mereka miliki. Tak heran bila penjajah bisa begitu lama menguasai nusantara dalam waktu begitu panjang.

Sikap feodal ternyata tak hanya jadi sejarah masa lalu. Berkembang juga seiring kemajuan zaman dan dimanfaatkan pula selama puluhan tahun untuk melanggengkan kekuasaan korup. Sukses!

Bertahannya feodalisme merupakan bom waktu bagi bangsa ini. Mematuhi sesuatu tanpa adanya alasan jelas dan melaksanakannya dengan kacamata kuda meskipun banyak yang harus dikorbankan. Kepatuhan seperti ini tentu saja sangat berbahaya dan harus diberantas selayaknya upaya memberangus korupsi seperti sekarang.

Awas, Fasisme!

Kepatuhan membabi buta pada kekuasaan tak hanya berhenti pada lahirnya penjara diri. Sikap ini bisa melahirkan banyak “ideologi” tentang bagaimana memaknai kepatuhan itu sendiri. Kepatuhan tanpa syarat yang bisa membahayakan kemanusiaan. Lahirnya fasisme yang telah terbukti brutal dan harus dihancurkan.

Jawanisme dalam konteks ini mendapatkan tempat lahirnya bibit fasisme. Mengapa demikian? Budaya patuh tanpa syarat ini mempermudah sesorang menjadi robot yang bisa dikendalikan kemana pun arahnya. Dalam bahasa Marcuse, melahirkan manusia satu dimensi. Manusia yang seolah-olah mendapatkan banyak pilihan tapi sejatinya pilihannya tersebut pada dasarnya sudah ada untuknya.

Ketidakmampuan dalam mengendalikan kepatuhan ini merupakan bahaya besar. Bahaya yang siap meledak kapan pun. Karena itu, kepatuhan membabi buta terhadap penguasa harus dihancurkan. Bila terus dipelihara, fasisme adalah jawaban yang akan muncul. Sama halnya dengan menghidupkan kembali Hitler, Mussolini, dan Hirohito ke dunia ini.

“Singkirkan paham dan adat lama, kita massa rakyat yang sadar. Dunia sudah berganti rupa untuk kemenangan kita…dan Internasionale pasti di dunia”[2]

[1] André Vltchek dan Rossie Indira, Saya Terbakar Amarah Sendirian: Pramoedya Ananta Toer dalam Perbincangan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (2006), hlm. 45.
[2] Potongan lagu “Internasionale”
Sumber gambar: http://ubuonline.co.uk/files/unite_against_fascism.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s