“Hura-Hura” Pinggiran Ibukota

Posted: 21 Mei 2010 in Arbiter
Tag:, , , , , , , ,

Orang banyak tahu tentang kisah “kelam” Jakarta dengan kehidupan malamnya yang, katanya, gemerlap dalam karya Moamar Emka, “Jakarta Undercover”. Banyak kisah diceritakan tentang kehidupan malam Jakarta yang “liar” dengan segala likunya. Mulai dari sekedar pesta “biasa” hingga yang sifatnya eksklusif dengan kegilaan didalamnya. Nalar pun seringkali dipaksa untuk memahami narasi yang disajikan Emka, “apakah itu riil terjadi?” Tentu saja siapa pun berhak untuk meragukan atau memercayainya dengan sepenuh hati.

Kehidupan malam yang penuh riuh-rendah seolah menjadi ikon tersendiri bagi Jakarta dengan segala fasilitas hiburan nan “wah”. Diskotik, pub, maupun café bertebaran di mana-mana dengan berbagai macam hiburan. Mulai dari yang benar-benar hiburan sampai dengan “hiburan” dibalik hiburan itu sendiri. Tak bisa dipukul rata begitu saja seperti narasi Emka, Jakarta punya cara sendiri untuk menghibur warganya tanpa menghilangkan esensi.

Otak seringkali dijejali dengan deskripsi tentang Jakarta yang begitu “wah” dan menggiurkan. Hal-hal yang sifatnya modern seakan-akan tersaji dalam meja-meja perjamuan terbuka. Dunia gemerlap dengan kerlap-kerlip lampu yang menyilaukan. Itu hanya ada di televisi. Hanya ada dalam layar kaca yang hampir tiap hari kita pandangi keberadaannya dan menelan hiper-realitas sajian itu dengan mendalam, amat sangat.

Deskripsi tayangan televisi membakar ingatan seolah-olah Jakarta dipenuhi banyak penikmat dunia malam. Dunia yang tak pernah mati meski malam terus memanggil bertalu-talu tanpa henti, dan embun pun sampai engggan turun karena takut keliru. Apakah malam benar-benar sudah datang dan bintang-bintang pun bersinar terang setelah sekian lama bersembunyi dibalik cahaya matahari? Namun, Jakarta bukanlah layar kaca. Bukan juga milik mereka para “penikmat” malam yang senantiasa melebur dalam hawa dingin gelapnya hari. Jakarta juga milik para “penikmat” malam yang tersebar di sudut-sudut kota dan tak pernah tampil mengemuka.

Hiburan adalah milik semua, bukan milik segelintir orang saja. nikmatnya gemerlap hiburan ala ibukota juga bisa disaksikan dalam layar berbeda. Layar yang terhampar luas yang kesamping kanan, kiri, depan, dan belakang dibatasi tembok-tembok beton, serta ke atas dengan wingitnya langit. Hiburan ala diskotik, pub, atau café dapat dinikmati di mana saja, tak harus dengan gemerlap lampu. Jalanan pun bisa menjadi tempat menumpahkan segala macam beban hidup yang harus dipikul selama siang. Ya, jalanan pun bisa.

Diskc Jockey tak harus memutar piringan untuk memainkan lagu. Sistem suara tak perlu canggih dan mampu menghentak dada siapa pun. Cukup gerobak kecil dengan berbagai pernak-pernik audio pun bisa. Goyangan pun tak kalah hebohnya dengan yang ada di dalam tempat dugem. Suara merdu bukanlah kewajiban, hanya ke-ria-an yang mampu menyamakan itu semua. Cukup dengan alunan musik dangdut semua bisa sama. Sama dengan tempat-tempat yang seringkali jadi rujukan menghabiskan malam. Di jalanan, musik bisa dinikmati, juga dapat bergoyang untuk melepaskan beban.

Jalanan sepi ibukota itu milik bersama. Bersama menghabiskan malam yang sederhana. Malam tanpa hura-hura dalam arti sesungguhnya, sekedar melepaskan kepenatan. Malam nan wingit dan hembusan angin bukanlah halangan, gembira dan gembira. gembira dalam menjalani hari yang penuh ketakpastian. Jakarta malam hari masih berdenyut meski di sudut-sudut kota. Malam yang sederhana dengan ragam tanpa polah. Malam tak hanaya ada dalam gedung, juga hadir di luar, jalanan.

Ketika bertaut dengan malam sederhana Ibukota, 29 Juli 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s