Banalitas

Posted: 21 Mei 2010 in Hukum
Tag:, , ,

Beberapa hari lalu tayangan berita di Metro TV sangat menyesakan nurani. Seorang manusia dengan nyata berada diantara massa beringas di tanah negeri jiran. Siapa lagi kalau bukan saudara kita, seorang WARGA NEGARA INDONESIA yang mengalami penyiksaan brutal oleh aparat Kerajaan Malaysia. Sungguh pukulan hebat bagi kemanusiaan diantara gegap gempita klaim Tari Pendet (bukan bermaksud mengecilkan arti masalah ini). Dilupakan dan melenggang begitu saja.

Tendangan dan pukulan beruntun bak pertandingan WWF mendarat disekujur tubuh sang lemah itu. Hanya rekaman gambar yang berkata, “inilah kebrutalan manusia atas lainnya.” Kekuasaan begitu tampak jelas jadi alat penyiksaan. Bagi mereka, semoga tidak, illegal layak diperlakukan seperti binatang, bahkan jauh lebih mengerikan. Tapi mengapa kita diam melihat tontonan itu? Apa hal seperti itu sudah biasa terjadi sehingga perwakilan di sana hanya membisu tanpa arti meski respon cepat merupakan sebuah sine qua non dari sebuah bentuk pertanggungjawaban? (semoga tidak)

Dengan gamblang, penyiksaan itu berlangsung. Penyiksaan, yang katanya, demi penegakan hukum. Hukum “draconian” yang hanya memangsa manusia meskipun dia sesungguhnya subyek hukum sebenarnya. Hukum bukan untuk menyiksa, tapi demi ketertiban. Jika begini, tanpa hukum bisa jadi alternatif terbaik agar tak ada lagi “homo homini lupus”. Kondisi demikian mengingatkan kembali pernyataan filsuf besar abad pertengahan, Santo Agustinus. “Protes” Agustinus terhadap keberadaan negara kala itu bisa jadi rujukan. “Negara tanpa penghormatan hak asasi bagai gerombolan belaka.”

Penyiksaan seperti itu bukanlah barang baru bagi anak-anak republik ini ketika di negeri jiran. Mulai dari hak-haknya tidak dipenuhi hingga harus “rela” disetrika karena masalah sepele. Menutup mata. Mungkin kejadian ini dianggap hal biasa sehingga tak perlu ditanggapi segera dan serius. Terus berulang bak lingkaran setan. Menjadi pertanyaan tersendiri, “dimana negaraku berada ketika aku membutuhkan uluran tangannya. Apakah aku layak menanyakan adagium, ‘jangan pernah bertanya apa yang dapat negara berikan kepadamu, tapi tanyalah apa yang bisa kau berikan untuk negaramu?’” Sangat klise.

Memang jadi sebuah ironi. Di satu sisi disanjung ketika kiriman lancar. Di sisi lain, harus menerima kenyataan menyakitkan diantara pujian-pujian tanpa tanpa arti itu. Apalah arti pahlawan devisa jika setiap detik harus bertaruh nyawa? Bertarung dengan maut tanpa adanya kepastian. Minimal kepastian nyawa terlindungi dan tubuh tak memar akibat penyiksaan manusia-manusia tanpa hati itu. Manusia yang mengaku dirinya taat beragama dengan segala atribut didalamnya, tapi berbuat bak singa lapar, bahkan lebih rendah dari itu.

Sebagai sebuah bangsa, kita memang patut menanyakan hal itu mengapa bisa terjadi. Sebagai bagian dari negara merdeka dan berdaulat, kita juga layak bertanya dimana posisi penguasa negeri ini ketika melihat kondisi demikian. Memang sangat utopis pertanyaan ini. Namun, dari utopia lah semua yang ada di bumi ini bisa ada dan menjadi ada. Bumi manusia ini memang sangat kompleks, banyak anomali didalamnya. Begitu pula soal penyiksaan itu. Kita bisa menanyakan kembali nasionalisme bangsa penyiksa itu. Mengapa? Nasionalisme yang tak sehat, sakit, disebabkan oleh pengertian-pengertian yang tidak selesai tentang perikemanusiaan.

Jakarta, 30 Agustus 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s