Harapan

Posted: 20 Mei 2010 in Arbiter
Tag:, , ,

Bagi orang kebanyakan, hutan belantara bukanlah tempat hidup yang penuh dengan kenyamanan. Di sana hanya ada sunyi, sepi, dan hening. Tak ada keramaiandengan hingar-bingar manusia dan segala pernak-perniknya. Pohon menjulang tinggi. Dedaunan nan hijau, dan bintang yang bercahaya dengan terang lah yang menemani. Namun, belantara senyap itu bukanlah neraka bagi sepasang manusia yang sudah berusia lanjut ini, Mbah Saiman dan Mbok Puryanti. Belantara adalah surga yang memberikan keheningan di antara hiruk-pikuk manusia dengan segala kesibukannya.

Sepasang anak manusia ini hidup di tengah belantara sebagaimana kakek-nenek moyang mereka mengajarkan arti kehidupan. “Alam adalah rumahmu, tempat tinggal kita sejak sejarahmu diukir”. Mereka pun tetap tinggal di hutan meskipun dunia di luar memberikan janji manis bak kembang gula kesukaan anak-anak. Tantangan kehidupan yang sulit bukanlah halangan untuk tetap tinggal dalam belantara tropis. Panas dan hujan adalah berkah yang akan terus memberi mereka kehidupan tanpa batas. Tentu saja, selama manusia yang mengaku dirinya modern itu tak mengeksploitasinya.

Bukan hanya soal soal kerasnya alam, tantangan kehidupan juga menghadap Mbah Saiman dan Mbok Puryanti. Mbah Saiman tak muda lagi, dia sudah sakit sejak lama, hanya bisa berbaring atau sekedar berjalan di sekitar gubuknya. Maksimal, merawat jagung yang ia tanama di sekitar gubuk. Sepanjang hari hanya itu yang bisa ia lakukan. Mbok Puryanti tak menyerah begitu saja. Dengan segala ketulusannya, ia terus merwat Mbah Saiman dengan penuh kasih. Sepanjang siang, Mbok Puryanti pergi mencari kayu atau makanan untuk kebutuhan sehari-hari, umbi-umbian dari tengah hutan ia bawa tiap hari. Untuk makan bersama.

Matahari masuk ke peraduan. Hutan pun semakin sunyi, hening. Rasa lelah menyelimuti tubuh Mbok Puryanti setelah sepanjang siang pergi ke tengah hutan mencari makanan. Rasa sakit yang menikam Mbah Saiman membuatnya tak bisa tidur dengan tenang. Kadangkala ia membakar jagung untuk Mbok Puryanti. Pastinya, tiap malam ia senantiasa menghibur Mbok Puryanti dengan mendalang berbagai kisah. Dahan kering itu jadi wayang yang selalu menghibur Mbok Puryanti sehingga rasa lelahnya sedikit terobati. Sepanjang malam Mbah Saiman terus mendalang hingga Mbok Puryanti benar-benar terlelap dalam heningnya belantara.

Mbah Saiman terus menghibur dalam sakitnya setiap malam bukanlah untuk berterimakasih atas perhatian Mbok Puryanti. Begitu pula Mbok Puryanti, ia bekerja sepanjang siang bukanlah untuk membalas hiburan yang disajikan setiap malam oleh Mbah Saiman. Mereka melakukannya karena keheningan. Dalam keheningan, mereka bisa mendengar dan didengar sehingga mereka bisa mengerti. Tak saling menyalahkan karena menurut pepatah Budha, “daripada menyalahkan kegelapan, lebih baik menyalakan lilin”. Karena itu, mereka berdua menyalakan “lilin” itu, bukan untuk berterimakasih.

Makanan yang sepanjang siang dan hiburan wayang tiap malam itu adalah sebuah harapan. Mereka melakukannya demi sebuah harapn karena senantiasa mengisi dalam keheningan. Harapan itu membuat rasa lelah dan sakit yang menusuk tubuh itu sirna.

Untuk sebuah hari yang penuh dengan pengharapan…

*Maaf bila ada kesamaan karakter atau nama dalam cerita ini karena itu bukan suatu kesengajaan.

Iklan
Komentar
  1. monang21 berkata:

    nice post…
    salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s