Penunjukkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebagai salah satu Managing Director Bank Dunia menghiasai pemberitaan seluruh media massa di tanah air. Penunjukkan ini melahirkan pro-kontra berupa dukungan dan kecaman. Bagi pendukungnya, ini adalah sebuah kebanggaan bagi anak bangsa karena kemampuannya diakui dunia. Para pengecamnya menyebut ini adalah bentuk dari penghindaran dari persoalan Bank Century yang sedang melilitnya. Wacana itu lah yang sekarang sedang ramai diperbincangkan di berbagai tempat.

Berita ini tak luput juga dari perhatian seorang kawan. Ia mengajukan pertanyaan padaku, “apa pendapatmu tentang penunjukkan Sri Mulyani sebagai salah satu petinggi Bank Dunia?” Aku pun hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan kawan itu. Tentu saja, aku tak mau terseret arus argumen yang sekarang berkembang terkait persoalan ini. Aku memberikan perspektif beda karena hal itu lebih penting untuk dipahami karena terkait hajat hidup seluruh umat manusia. Apalagi kalau bukan kiprah mereka dalam penciptaan kemiskinan dan kelaparan global dengan topeng program bantuan.

“Aku hanya bisa bersedih dengan penunjukkan Sri Mulyani sebagai Managing Director Bank Dunia,” jawabku. Kesedihanku ini tak ada kaitannya dengan soal pendapat ini sebagai upaya “melarikan diri” dari persoalan Bank Century. Bukan juga karena Indonesia “kehilangan” salah satu putri terbaiknya. Bukan, tak ada kaitannya dengan itu. “Aku bersedih karena seorang anak bangsa jadi pembuat kebijakan di lembaga keuangan yang seringkali membuat umat manusia terpuruk. Bank Dunia adalah bagian dari triumvirat kapitalisme global yang membunuh bukan dengan peluru, tapi menggunakan wabah kelaparan,” papar ku sembari mengutip pernyataan mantan Presiden Venezuela, Carlos Andres Perez.

Menurut Graham Hancock dalam bukunya Dewa-Dewa Pencipta Kemiskinan, Bank Dunia dan IMF memunyai andil dalam rusaknya lingkungan. Dengan topeng program pembangunan, lembaga keuangan ini mendukung upaya deforestisasi secara massif di Brasil pada 1982-1985 dengan program Polonoroeste. Bank Dunia memberikan dukungan pada proyek pemindahan penduduk besar-besaran itu atas nama pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Dukungan keuangan pada proyek ini menghasilkan sebuah bencana ekologi yang dahsyat. Bank Dunia dalam hal ini mengakuinya. Proyek ini mendorong terjadinya konversi besar-besaran kawasan hutan menjadi lahan pertanian, kawasan komersial dan pertambangan.

Bersama saudara kembarnya IMF, menurut Hancock, Bank Dunia membuat serangkaian manuver ekonomi-politik. Kerjasama itu terjalin dalam upaya memiskinkan penduduk di berbagai belahan bumi dengan serangkaian jebakan utang. Tengok saja Indonesia pada krisis 1997 silam, bagaimana kerjasama mereka dalam “menghancurkan” kehidupan di tanah air. Menurut The United Nations Human Development Report, 1999, negara berkembang menyusutkan pelayanan publik akibat Structural Adjustment Program (SAP) yang dipaksakan oleh Bank Dunia dan IMF. Menurut The Ecologist Report, Globalizing Poverty, 2000, Zimbabwe yang sekarang mengalami inflasi jutaan persen ini menderita akibat SAP Bank Dunia. Mereka harus mengurangi pelayanan kesehatan per orang hingga 1/3-nya.

Air sebagai sumber kehidupan juga jadi lahan favorit Bank Dunia dan IMF untuk diprivatisasikan. Sebuah pemeriksaan acak atas dana-dana IMF di 40 negara selama tahun 2000, mendapatkan bahwa 12 negara peminjam yang persyaratan peminjamannya memuat klausul kebijakan kenaikan harga jasa air dan privatisasi air (Globalization Chalengge Initiative, Water Privatization Fact Sheet, 2001). Kwazulu-Natal di Afrika Selatan adalah gambaran nyata dari korban kebijakan Bank Dunia dan IMF ini. Orang-orang miskin yang tak mampu membeli air bersih di wilayah ini terpaksa menggunakan air tercemar sehinggah menyebabkan wabah kolera (Globalization Chalengge Initiative, Water Privatization Fact Sheet, 2001). Banyak petani yang kesulitan air untuk pertaniannya akibat banyaknya mata air yang dikuasai oleh korporasi.

Bank Dunia juga punya andil besar dalam pemiskinan petani di Indonesia. Dalam siaran pers La Via Campesina (pergerakan petani internasional) tertanggal 16 September 2006, program Land Administration Project (LAP) Bank Dunia yang dilaksanakan sejak tahun 1995 menambah jumlah petani tak bertanah. Pada tahun 1993 jumlah petai gurem sebanyak 10,9 juta meningkat menjadi 13,7 juta pada tahun 2003. Program LAP tersebut merekomendasikan agar UU Pokok Agraria 1960 direvisi karena dinilai menghambat liberalisasi pertanahan. Hal serupa juga terjadi di Philipina. Bank Dunia mengintervensi aturan-aturan kebijakan pembaruan agraria dinegeri itu menjadi berbasis pasar terbuka. Kebijakan seperti ini merupakan hukuman mati bagi petani kecil dan masyarakat adat yang hidup mengandalkan tanah.

Paparan di atas hanyalah secuil fakta tentang kejamnya lembaga keuangan internasional tersebut. Masih banyak lagi fakta lainnya terkait bagaimana Bank Dunia dan IMF membuat umat manusia terpuruk. Tak mau ketinggalan juga, juga saudara mudanya WTO yang berbuat hal sama dalam ranah pasar bebas. Mereka bertiga adalah triumvirat yang menginginkan kehidupan manusia diletakkan dalam mekanisme pasar yang tak memunyai agenda sosial. Kesejahteraan sosial hanyalah bahasa lisan karena semuanya hanya diukur dari kekuatan kapital belaka. Inilah wajah dunia di bawah kekuasaan lembaga keuangan internasional dan perusahaan multinasional.

Kawan yang mendengar penjelasan ku tadi hanya bisa mengangguk saja. Entah itu berarti paham atau hanya bisa mendengar saja. Aku tak ikut larut dalam kebanggaan yang diusung oleh beberapa orang tentang penunjukkan putri bangsa ini sebagai petinggi di Bank Dunia. Aku juga tak ikut mengecam seperti kelompok lainnya karena dinilai “melarikan diri” dari persoalan. Aku tetap, hanya bisa bersedih karena seorang anak bangsa ini turun di gelanggang yang penuh “kekerasan”. Namun, aku hanya bisa berharap agar ia tak bersikap seperti para petinggi Bank Dunia sebelum-sebelumnya, turut menghancurkan umat manusia dengan kebijakan ahumanis. Semoga…

Referensi:

http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/11/kejahatan-kapitalisme-dalam-angka-2/
http://lists.indymedia.org/pipermail/imc-jakarta/2006-September/0916-qi.html
http://www.satudunia.net/content/membongkar-kejahatan-lembaga-%C3%A2%E2%82%AC%CB%9Cbisnis%C3%A2%E2%82%AC%E2%84%A2-bantuan
Jurnal Keadilan Global, Vol. 1 tahun 2002. Jakarta: Institute for Global Justice
Fauzi, Noer et al (eds.). 2005. Gerakan-gerakan Rakyat Dunia Ketiga. Yogyakarta: Resist Book

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s