Grotius, Dari Belanda untuk Dunia

Posted: 30 April 2010 in Hubungan Internasional
Tag:,



Gambar 1

Si vis pacem parra bellum (Jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang). Slogan ini ternyata bukanlah isapan jempol belaka. Perubahan dunia yang radikal seperti saat ini bukanlah sesuatu yang datang negitu saja (given) Tata dunia saat ini merupakan produk dari beragam pertempuran di berbagai belahan dunia. Pelajaran dari perang yang membumihanguskan segalanya itulah memberikan pencerahan bagi manusia untuk mengakhirinya. Tentu saja, hal ini terbentuk melalui proses panjang dan melelahkan, serta tak selamanya bisa jadi jaminan untuk abadi.

Bumi yang merenta ini tak bisa dibayangkan keadaanya bilamana seorang bocah bernama Grotius atau Hugo de Groot tidak dilahirkan. Tahun 1583 Grotius lahir di Kota Delft. Dari kota inilah kemudian sejarah umat manusia saat ini diukir si bocah jenius ini. Pada usia sangat belia, sebelas tahun, Grotius terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Leiden. Di sini beliau dianggap sebagai penerus Erasmus. Grotius muda mempunyai kepandaian dalam banyak bidang hingga membuat raja Perancis menyebutnya sebagai “keajaiban Belanda.” Namun, dia sendiri meninggal pada 1645 dalam upaya melarikan diri di Rostock karena dituduh sebagai pengkhianat.

Berbagai karya monumental ia telurkan, bahkan kejeniusannya itu bisa mengubah dunia menjadi seperti sekarang ini. Salah satu karya besarnya adalah De Ivre Belli ac Pacis (Hukum tentang Perang dan Damai) yang ia tulis pada 1625. Buku ini pun sampai sekarang tetap digunakan sebagai pedoman dasar atau prinsip fundamental dalam hukum internasional. Penggunaanya terutama dalam pembentukan perjanjian internasional yang mengakui kedudukan sama bagi tiap tiap negara yang melakukannya. Ditambah lagi dengan adanya konsep pacta sunt servada yang mengakui kesetaraan tiap negara dalam pembentukan suatu perjanjian.

Gambar 2

Pemikiran brilian Grotius mengilhami suatu fenomena penting hubungan antar negara. Ketidakteraturan sistem internasional bisa teratasi meskipun harus dimulai dengan perang terlebih dahulu. Adanya Traktat Westphalia merupakan akhir dari karut-marutnya sistem internasional. Traktat Westphalia 1648 merupakan tonggak awal dimulainya upaya menciptakan perdamaian dunia. Ketidakteraturan sistem internasional sebelum penandatanganan Traktat Wespthalia menjadikan perang sebagai sesuatu yang wajar. Pemikiran Grotius-lah yang mendorong adanya traktat ini karena didalamnya mengadopsi pendapatnya terkait relasi antar negara yang sepadan itu.

Traktat ini melahirkan sistem baru dalam hukum internasional dengan negara-bangsa sebagai aktor utama berikut tata cara berinteraksinya. Sistem kerajaan pun banyak berubah menjadi negara-bangsa yang mana didalamnya mengandung persyaratan (unsur konstitutif), yaitu: memunyai wilayah, memiliki rakyat, dan ada pemerintahan yang sah sebagai pengaturnya. Dengan tiga syarat tersebut, ditambah unsur deklaratif (pengakuan negara lain), suatu negara memunyai kedaulatan penuh. Inilah yang menjadi syarat mutlak suatu negara yang sampai sekarang masih digunakan.

Dunia dengan Grotius

Sejarah umat manusia tak akan seperti sekarang bilamana seoraang Grotius tidak dilahirkan di muka bumi. Kekerasan atas nama kekuasaan kerajaan dapat terus berlangsung walau sejarah pula lah yang sejatinya membuktikannya. Konsep hubungan antar negara yang tertuang dalam hukum internasioanl a la Grotius menciptakan sejarahnya sendiri, terutama tentang kesepadanan tiap negara dalam pembentukan perjanjian.

Dari konsep dasar inilah maka bermunculanlah berbagai bentuk hukum internasional yang mengatur tata kehidupan dunia. Berbagai aturan atau instrumen internasioanal lahir dengan area yang semakin terbatas. Misalnya: Konvensi Hak Anak dan Statuta Roma. Namun, beragam peraturan itu tetap melandaskan diri pada prinsip kesetaraan a la Grotius dan kedaulatan negara-bangsa. Beragam instrumen tersebut tak akan berjalan jika suatu negara tak meratifikasinya. Inilah wujud nyata dari prinsip kedaulatan yang tertuang dalam Traktat Westphalia.

Meskipun hukum internasional masih cenderung berupa “etika” akibat realisme sistem internasional, sumbangan Grotius terhadap penciptaan tata dunia baru amatlah besar. Pemikirannya melampaui zamannya sehingga sumbangannya terhadap dunia tak bisa dilupakan begitu saja. Bisa dibayangkan bila Grotius tak pernah dilahirkan, bagaimana nasib umat manusia sekarang? Perang akan terus berkecamuk akibat ketiadaan aturan. Antar negara/kerajaan pun akan memangsa satu sama lain secara bebas dengaan hukum rimbanya.

Gambar 3

Tanpa adanya Grotius, perang akan menjadi hal biasa yang senantiasa ada dihadapan mata umat manusia. Para penjahat kemanusiaan tetap bisa bebas berkeliaran di atas penderitaan para korban dan keluarganya. Pembantaian atau genosida bakal jadi santapan sehari-hari karena ketiadaan regulasi untuk menghukum si pelaku. Semua aturan tersebut hanya diatur dalam hukum internasioanl melalui perjanjian antar negara. Tentu saja, keberadaan Grotius tak menjamin hilangnya semua bentuk kekerasan atau apa pun. Paling tidak, upayanya telah mewarnai peradapan umat manusia saat ini dengan beragam kekurangan dan kelemahannyal.

Referensi:
http://pn-kepanjen.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=100:relevansi-dan-implementasi-teori-grotius-tentang-pembentukan-perjanjian-internasional&catid=23:artikel&Itemid=36
http://entoen.nu/hugodegroot/id
http://www.docstoc.com/docs/26438074/Hukum-Internasional/
http://witnyvirgiany.blogspot.com/2009/09/sejarah-sistem-hukum-internasional.html

Keterangan dan Sumber Gambar
Gambar 1: Grotius atau Hugo de Groot

Gambar 2: Sampul Buku Karya Grotius

Gambar 3: Patung Grotius

Iklan
Komentar
  1. mie goreng berkata:

    kalo kisah cintanya Grotius ada ga, rip? :p

  2. ce jutek berkata:

    Menarik sekali, baru dgr tokoh namanya Grotius n Traktat Westphalia, nice inpo.
    Keep writing!

  3. fay berkata:

    saya jadi kangen H.I…. :((

    Pengen kuiah lagi.. (di Belanda tentunya.. ;))

    nice post..

    i wish u luck

    and I wish my self too.. hehe 😀

  4. mega puspita berkata:

    tulisan ini bagus mas …

    mampu memberikan wacana baru bagi saya yang awam akan ilmu internasional.

    mas , sekarang eksistensi ‘Traktat Westphalia’ gimana ? …

    • arief setiawan berkata:

      Trims…

      Masih eksis lah sampai sekarang. Buktinya sistem negara-bangsa masih eksis dengan kedaulatan sebagai pondasi utamanaya. Tentu saja dalam operasionalisasinya sudah ebrubah. Mengikuti perkembangan zaman. Ini akibat dari perubahan struktur boders dan frontiers akibat kemajuan iptek…^^

  5. fay berkata:

    dulu H.I di Univ. Jember mas..
    belajar banyak tentang Grotius dan si vis pacem para bellum itu.. juga tentang Westphalia.. 😀

    bener-bener… baca tulisan mas Arief, rasanya kangen sama bangku kuliah..^^

    salam kenal, eniwei.. 🙂

    • arief setiawan berkata:

      OO..Jember to. Fasih bahasa madura ya berarti? hehe

      Iyah, HI banget itu. Tapi bedanya tipis sekali sama hukum internasional…hehehe

  6. iyra capcaibakar berkata:

    Baru tau.. *jadi ga bisa nanggapin masih nyerap ilmunya* 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s