“Kelayapan” di Belanda

Posted: 21 April 2010 in Arbiter
Tag:,


Agam Wispi -Salah satu eksil yang tinggal di Belanda sampai akhir hayatnya-

penyair mencari sarang ditepi kanal amsterdam
camar melayang meninggalkan sarang digelisahkan air tenang
penyair dan camar sama-sama dikejar gelisah senja usia
penyair sarangmu adalah kata
camar gelisahmu matahari senja
terpaut perahu puisiku di kanal Belanda


Judul: Penyair Mencari Sarang
Karya: Agam Wispi

Ketika menyebut negara Belanda, kebanyakan orang akan mengatakan tentang “keajaiban” bendungan, keindahan tulip, dan kincir angin. Bendungan raksasa yang menjadi benteng Belanda dari terjangan air laut memang sangat megah dan memesona. Mekar bunga tulip di musim semi membuat semua mata yang memandang berdecak kagum, “oh begitu indahnya negeri ini”. Deretan kincir angin yang berjejer membuat mata tak lelah untuk terus mengembara sampi titik terjauh negeri Ratu Beatrix ini. Namun, diballik itu semua, apakah keindahan Belanda hanya ini saja? Tidak, masih banyak lagi.

Perkembangan ilmu pengetaahuan di bidang sosial, terutama hukum, membuat keindahan Belanda yang sesungguhnya tampak. Menjadi tempat terindah bagi sebagian orang yang haknya terampas oleh penguasa di tanah airnya sendiri. Sangat indah bagi golongan minoritas karena mereka diperlakukan dan memunyai hak sama dengan mayoritas tanpa terkecuali. Negeri pelangi dengan sejuta perbedaan, tanpa diskriminasi, dan memungkinkan bagi dunia yang lain untuk bisa hidup serta eksis apa adanya. Tentu saja bukan negara bebas tanpa aturan. Namun negara bebas yang bertanggungjawab bagi para pelakunya.

Humanisme. Itulah kata yang senantiasa dijunjung dan dipraktekkan di negeri ini. Salah satu contohnya adalah sikap Belanda terhadap para eksil dari berbagai negara. Kaum eksil ini adalah orang-orang yang keselamatannya terancam bila kembali ke negara asalnya. Mereka terancam kehilangan hak sebagai manusia, lebih jauh lagi, nyawa taruhannya bila pulang. Mereka yang kelayapan (menurut istilah mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid) ini mayoritas karena perbedaan pandangan politik dengan penguasa negara asalnya. Mereka dinilai sebagai orang berbahaya. Karena itu, disingkirkan dari tanah air, keluarga, dan sejarahnya.

Tak bisa dipungkiri, Belanda adalah “rumah” baru bagi sebagian kaum eksil dari Indonesia. Peristiwa 1965/1966 yang mengoyak rasa kemanusiaan menyebabkan mereka tak bisa pulang lagi, bahkan sampai akhir hayatnya. Penyair Agam Wispi adalah salah satu contoh eksil korban kekejaman rezim Suharto. Sejak meletus peristiwa 1965, ia tak bisa pulang ke Indonesia lagi. Status kewarganegaraannya dicabut karena aktif di Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) dan tak mau patuh pada penguasa despotik kala itu. Kalau pun bisa pulang, ia harus mengurus paspor dan visa meskipun di tanah airnya sendiri. Karena itu, seperti puisinya, ia mencari sarangnya di kanal Amsterdam hingga menemukan rumahnya. “Penyair, sarangmu adalah kata”.

Selain Agam, pada dasarnya masih banyak contoh lainnya. Hersri Setiawan merupakan salah satu contohnya. Melalui bukunyaa yang berjudul Memoar Pulau Buru, ia mencoba menuliskan kerinduannya kepada tanah air tercintanya. Ia bercerita tentang kisah sebelum meletusnya peristiwa 1965, dipenjara di Pulau Buru tanpa proses hukum, hingga harus menjadi kaum kelayapan di Belanda. Ia mengisahkan tentang kesedihan serta rasa rindu ketika harus jauh dari tanah air dan keluarga tercintanya. Ia harus hidup “sendiri” di Belanda, menepi di antara dam dan kincir angin yang senantiasa memesona.

Tak hanya mereka berdua yang harus menjadi warga negara asing di tanah airnya sendiri, masih banyak lagi kaum eksil yang tinggal di Belanda. Kaum kelayapan akibat peristiwa 1965 ini tersebar di penjuru Belanda. Eksistensi mereka untuk bisa menjadi manusia bermartabat tak lepas dari perlindungan hak asasi yang penuh bagi setiap orang di Belanda. Hak yang pada dasarnya melekat pada setiap orang dan bersifat universal. Suara yang mereka yang terpinggirkan ini dapat terus berkumandang tanpa batas dengan berbagai macam cara. Entah dengan puisi, media alternatif, maupun kolom tulisan seperti yang Ibrahim Isa lakukan. Tanpa henti menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan ke penjuru dunia.

Pulang
-catatan seorang penyair Indonesia di pengasingan
dimana kau pohonku hijau
disini aku sudah jadi batu
hai perantau darimana kau
dari mana saja aku mau melekat jadi debu
di karet, di karet katamu
wahai chairil apa kau masih disitu
atau lenyap dipasok batu
atau senyap sebelum tahun 2000

ya Banda mengena juga yang kau bilang
tak seorang berniat pulang
pulang? kemana harus pulang
si burung samudera tanpa sarang
bangga aku teringat Sujoyono berani menuding
dan bilang untung aku bukan anjing
ini juga modernisasi globalisasi
kata-kata jadi kering kebudayaan baru
dari bawah sampai atas
tukang peras atau maling

puisi hanya kaulah lagi tempatku pulang
puisi hanya kaulah pacarku terbang
puisi generasi baru yang bijak bestari menerjang
keras bagai granit cintanya bagai laut menggelombang

dimana kau pohonku hijau dalam puisimu wahai perantau
dalam cintamu jauh di pulau

Karya: Agam Wispi

Para eksil korban peristiwa 1965 ini tentu saja sangat ingin pulang ke kampung halamannya. Tempat mereka dulu dilahirkan dan dibesarkan hingga seperti sekarang. Bayangan akan kerinduan untuk pulang ini tergambar jelas dari puisi Agam Wispi. Puisi yang berjudul “Pulang” itu menggambarkan keinginan mendalam untuk mencium bau tanah kelahiran. Apa daya, keinginan bukanlah sesuatu yang pasti terjadi karena hanyalah sebuah harapan. Bahkan, pulang hanyalah sebuah bayangan belaka seperti potongan puisi karya Agam Wispi, “…puisi, hanya kaulah lagi tempatku pulang…”

Referensi:
http://kedaipuisi.wordpress.com/2009/01/07/sepenggal-kisah-sastrawan-eksil/#more-43
http://ibrahimisa.blogspot.com/
Setiawan, Hersri. 2003. Memoar Pulau Buru. Jakarta

Sumber gambar:

Iklan
Komentar
  1. ifta berkata:

    Puisinya bagus… Nice post, tentang kaum eksil, memang selalu romantis. Salam kenal

  2. Yodha berkata:

    Rezim otoriter kan sudah jatuh, kenapa kaum eksil ga pulang aja ke negaranya sekarang? Apakah karena sudah menemukan “kemapanan” di Belanda? Atau masih ada ancaman lain?

    • arief setiawan berkata:

      Banyak faktor. Klo pulang pun bisa jadi mereka ga punya kehidupan lagi di Indonesia karena sudah puluhan tahun di sana. Bisa juga akibat masih adanya aturan yang melarang orang untuk menjadi seorang marxian. TAP MPRS No. XXV/1966 belum dicabut bro, so mereka akan sellau jadi warga terlarang….

  3. mimi berkata:

    salam kenal, mas arief ^^,

  4. lisa berkata:

    really wanna go there..

  5. tatyana berkata:

    it would be nice if u put pics about holland & exiles here…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s